🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣6⃣ *BANI QAYNUQA'*
_______________________
SEJAK lama kaum Yahudi tidak merasa terikat dengan perjanjian yang mereka buat dengan Nabi; banyak dari mereka justru lebih memihak kepada kaum musyrik daripada kaum muslim yang menyembah Tuhan Yang Esa. Ketika menegaskan tentang ketaatan dan kesalehan individu kaum Yahudi, wahyu² kini penuh peringatan terhadap mayoritas mereka. _"Mereka selalu menginginkan kesengsaraan bagimu. Mereka menyukai kesusahan bagimu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi"_ (Q.S. 3: 118).
Tak diragukan lagi, harapan kaum Yahudi lagi² kembali pada suku Nabi sendiri, mendorong para pemimpinnya untuk segera menghancurkan agama baru itu dan mengembalikan suasana Yatsrib seperti semula. Seluruh gerak langkah Nabi selalu dilaporkan ke Mekah. Dan kalau kaum Quraisy berangkat untuk menyerangnya sampai ke benteng² kaum Yahudi di selatan Madinah –yang berjarak kira² satu setengah hari perjalanan dari masjid– tampaknya tentara mereka pasti akan diperkuat oleh pasukan Yahudi pada saat² genting. _"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya"_ (Q.S. 3: 120). Hal ini benar² tampak pada reaksi kaum Yahudi atas kemenangan kaum muslim di Perang Badr. Ketika kabar kemenangan itu datang, suku Qaynuqa, Nadhir dan Qurayzhah, tidak dapat menyembunyikan kecemasan mereka. Khususnya yang sangat mencolok pada kasus Ka'b, anak Asyraf. Ayahnya orang Arab dari suku Thayy, tetapi Ka'b mengaku dirinya sebagai seorang Bani Nadhir, mengikuti suku ibunya, dan ia diterima karena ibunya seorang Yahudi. Ia memang menjadi anggota suku yang terkemuka, karena kekayaan dan kepemimpinannya, dan juga karena bakatnya sebagai penyair yang terkenal. Ketika ia mendengar kabar yang dibawa Zayd dan Abd Allah, dengan menyebutkan nama² pemimpin Quraisy yang terbunuh, ia berseru, "Demi Tuhan! Jika benar Muhammad telah membunuh orang² itu, berarti isi bumi jauh lebih baik ketimbang yang ada di luarnya". Dan ketika yakin kabar itu benar, ia segera meninggalkan oasis itu sebelum Nabi kembali. Ia pergi ke Mekah untuk turut berduka cita atas kematian Abu Jahl, 'Utbah, Syaibah, dan orang Quraisy lain yang terbunuh. Di saat yang sama, ia mengingatkan kaum Quraisy untuk menebus kehormatan mereka dan membalas dendam dengan meningkatkan jumlah tentara dan memimpin mereka menyerang Yatsrib.
Kabar tentang aktivitas Ka'b di Mekah sampai ke Madinah, tapi Ka'b saat itu tidak ada. Tindakan yang lebih mendesak adalah melawan suku Yahudi daripada sekedar mengurusi dia. Nabi secara khusus telah diberitahu tentang penghianatan dan kebencian Bani Qaynuqa', karena Abd Allah ibn Salam telah menjadi pemimpin mereka, dan tahu pasti semua tindak-tanduk mereka.
Lebih dari itu, mereka bersekutu dengan kaum munafik yang dipimpin Ibn Ubayy dari suju Khazraj. Kehadiran kaum munafik itu lebih terasa mengganggu kaum muslim ketimbang suku² Yahudi karena mereka tinggal berdekatan di dalam kota, tersebar di antara mereka sendiri, sementara Bani Nadhir dan Bani Qurayzhah, para sekutu 'Aws itu, tinggal agak jauh di luar kota.
Nabi baru saja menerima perintah, _"Dan jika kamu mengetahui penghianatan dari suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang² yang berkhianat"_ (Q.S. 8: 58). Wahyu lain mengatakan, _"Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar"_ (Q.S. 8: 61).
Kemudian, beliau tidak ingin melakukan tindakan² mendesak jika masalah dapat di selesaikan dengan cara yang baik. Pada hari pertama kepulangan Nabi dari Badr, beliau menemui Bani Qaynuqa' di pasar mereka di sebelah selatan Madinah. Berharap agar keajaiban di Badr dapat mengubah hati mereka, beliau mengingatkan mereka agar tidak mengundang kemurkaan Allah seperti yang terjadi pada kaum Quraisy. "Hai Muhammad", kata mereka, "jangan engkau menepuk dada atas kemenanganmu melawan orang² yang tidak berpengalaman berperang, sehingga mereka dapat kau kalahkan. Tapi, demi Tuhan, jika kami berperang melawanmu, maka engkau akan tahu, kami lebih pantas untuk memenangkannya". Nabi segera berpaling dan meninggalkan mereka, dan mereka merasa telah berhasil membuat Nabi gentar.
Beberapa hari kemudian, di tempat yang sama, terjadi insiden yang kemudian membawa pada puncak ketegangannya. Seorang wanita muslimah yang bermaksud menjual atau menukar barangnya dengan keperluan sehari² dihina oleh pria Yahudi penjual emas. Seorang Anshar yang kebetulan ada di tempat itu segera membelanya. Mereka pun berkelahi hingga pria muslim itu terbunuh. Keluarganya kemudian menuntut balas dendam dan meminta kaum Anshar untuk melawan orang Qaynuqa' itu. Namun, darah kedua belah pihak telah tumpah. Keadilan sebenarnya dapat ditegakkan dengan mudah dan persoalan itu dapat diselesaikan secara proporsional, jika kaum Yahudi meminta Nabi sebagai juru damai sesuai dengan perjanjian. Tetapi mereka menolaknya dan malah menganggap peristiwa itu sebagai kesempatan untuk memberi pelajaran kepada mereka yang turut campur. Mereka meminta bala bantuan sekutu mereka dari Khazraj, Ibn Ubayy dan 'Ubadah ibn Shamit, sementara mereka sendiri menarik diri –dalam kejadian itu, seperti yg dikira– menuju benteng mereka yang sangat kuat, dengan perbekalan dan peralatan yang sangat lengkap. Mereka dapat mengumpulkan 700 tentara, dua kali lipat jumlah tentara muslim yang berperang di Badr. Mereka juga yakin akan mendapat tambahan pasukan dari Ibn Ubayy dan 'Ubadah. Saat semuanya telah terwujud, mereka tidak ragu² lagi untuk mengumumkan kekuatan mereka dari bentengnya dan menunjukkan kepada Nabi bahwa tantangan mereka bukan omong kosong belaka.
Namun pada kenyataannya, ancaman² itu merupakan kesalahan bagi mereka sendiri selang beberapa jam, mereka kaget dan sangat cemas ketika sadar bahwa mereka telah dikepung dari semua penjuru oleh tentara yang jauh melebihi jumlah mereka dan mereka dipaksa untuk menyerah tanpa syarat.
Ibn Ubayy datang ke perkemahan, mendekati Nabi dan berkata, "Hai Muhammad, perlakukan sekutu²ku dengan baik". Nabi menolak, dan ketika ia memohon sekali lagi, Nabi segera berpaling dan meninggalkannya. Tetapi, tiba² Ibn Ubayy mencengkram tangan Nabi. Wajah Nabi merah karena marah, "Lepaskan peganganmu", kata Nabi. "Demi Tuhan, takkan ku lepaskan sampai engkau berjanji akan memperlakukan mereka dengan baik. Empat ratus orang tanpa baju besi, tiga ratus orang berbaju besi-- mereka telah melindungiku dari orang merah dan hitam. Akankah kaumusnahkan mereka di suatu pagi?" tanya Ibn Ubayy. "Aku menjamin hidup mereka", kata Nabi. Tapi sebuah wahyu telah memberikan perintah berkaitan dengan mereka yang menghianati perjanjian dengan Nabi. _"Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikan orang² yang ada di belakang mereka dengan menumpas mereka supaya mereka mengambil pelajaran"._ (Q.S. 8: 57). Telah diputuskan bahwa Bani Qaynuqa' harus menyerahkan semua harta benda mereka dan harus diasingkan. Ia menyuruh 'Ubadah untuk mengantar mereka keluar dari oasis itu. Mereka mendapat perlindungan dari sesama kerabat Yahudi yang tinggal di sebelah barat laut di Wadi al-Qura'. Dengan pertolongan mereka, akhirnya Bani Qaynuqa' dapat bermukim di daerah perbatasan Syria.
Mereka adalah para tukang besi, sehingga kaum Anshar dan kaum Muhajirin mendapat banyak peralatan perang dan baju besi yang dibagikan kepada mereka setelah Nabi mengambil dengan seperlima untuk dirinya dan kepentingan negara teokrasinya.
*#065#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment