Tuesday, February 25, 2020

Kisah Rosul bagian 47

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣7⃣ *KEMATIAN DAN PERNIKAHAN*
_______________________

SETIBANYA di Madinah Nabi dan Fathimah segera berziarah ke makam Ruqayyah. Ini adalah kehilangan pertama dari keluarga Nabi setelah kematian Khadijah. Fathimah sangat sedih atas kematian saudara perempuannya itu. Ketika ia terisak, berjongkok di sebelah Nabi, sang ayah berusaha menenangkannya dan mengusap air matanya dengan ujung jubahnya. Sebelumnya, Nabi telah melarang air mata ditumpahkan untuk kematian, tetapi ini telah menimbulkan kesalahpahaman. Ketika mereka pulang berziarah, terdengar suara 'Umar dengan keras menegur para wanita yang sedang menangisi Ruqayyah dan para pejuang di Badr. "'Umar, biarkan mereka menangis", kata Nabi, "sesuatu yang mengalir dari mata dan hati berasal dari Allah dan kasih sayang-Nya; tetapi sesuatu yang datang dari tangan dan mulut berasal dari setan". Yang dimaksud "dari tangan" adalah memukul² dada, sedangkan "dari mulut" adalah berteriak meratap², seperti kebiasaan wanita Madinah yang sedang berduka cita waktu itu.

Fathimah adalah putri bungsu Nabi. Saat itu ia telah berusia 20 tahun. Nabi memang sering mengatakan kepada keluarganya bahwa 'Ali adalah laki² yang paling pantas menjadi suami Fathimah, tetapi belum ada suatu akad yang pasti. Abu Bakr dan 'Umar sama² pernah mencoba melamarnya, tetapi dengan halus Nabi menolak mereka. Nabi tidak memberikan alasan bahwa Fathimah telah dijodohkan dengan orang lain, tetapi beliau menunggu petunjuk dari Allah. Hanya seminggu setelah kepulangannya dari Badr, datanglah kepastian bahwa sudah saatnya Fathimah dinikahkan dengan 'Ali. Pada awalnya, 'Ali ragu² karena dirinya merasa sangat miskin. Dia tidak mendapatkan warisan apa pun dari ayahnya. Sebab seorang mukmin dilarang menerima warisan dari orang kafir. Meskipun demikian, ia memiliki sebuah rumah kecil di dekat masjid. Karena ia tahu keputusan Nabi tidak dapat diragukan, maka ia pun akhirnya yakin. Setelah dilakukan akad nikah, Nabi menggelar sebuah resepsi pernikahan. Seekor biri² jantan disembelih dan banyak kaum Anshar menyumbangkan gandum. Abu Salamah, sepupu pengantin itu,  sangat semangat membantu mereka, karena merasa sangat banyak berhutang budi kepada Ayah Ali yang telah melindunginya dari kekejaman Abu Jahl dan anggota sukunya. Umm Salamah bersama A'isyah menyiapkan semua keperluan perlehatan itu, dari makanan hingga tempat tinggal mereka. Pasir halus dikumpulkan dari tepi sungai untuk ditaburkan sebagai alas rumah. Tempat tidur mereka disiapkan dari kulit kambing yang dibungkus sehelai kain seprei bergaris² dari Yaman yang warnanya sudah memudar. Sebagai bantal, mereka menyiapkan sebuah kantung kulit yang diisi dengan serat pohon kurma. Kemudian, mereka menyajikan kurma dan buah _ara_ sebagai makanan ringan di samping makanan utama. Mereka mengisi gelas² dengan air yang telah dicampur wewangian. Secara umum, pesta pernikahan ini adalah pesta yang paling meriah di madinah pada masa itu.

Ketika Nabi bangkit hendak pergi –sebagai tanda bahwa para tamu harus segera pulang dan meninggalkan kedua mempelai itu, beliau memberi tahu 'Ali agar tidak menyentuh istrinya sampai beliau kembali lagi. Tak lama setelah tamu yang terakhir pulang, Nabi datang lagi. Umm Ayman masih ada di tempat itu, membereskan sisa² perhelatan. Nabi memiliki berbagai hubungan khusus dalam hidupnya yang tak diketahui orang lain kecuali dirinya sendiri dan orang yang bersangkutan, salah satunya adalah Umm Ayman. Ketika beliau meminta izin untuk masuk, dan Umm Ayman segera membukakan pintu. "Mana saudaraku?" tanya Nabi. "Demi kedua orangtuaku, wahai Rasulullah, siapa saudaramu?" "Putra Abu Thalib, 'Ali" jawab Nabi. "Bukankah sekarang ia menikah dengan putrimu dan menjadi menantumu?" tanya Umm Ayman. "Dia adalah saudaraku", jawab Nabi dengan tegas, dan menyuruhnya agar diambilkan air. Umm Ayman membawakan seguci air kepadanya. Beliau menuangkan air itu ke mulutnya dan berkumur, lantas disemprotkan lagi ke dalam guci itu. Ketika Ali keluar, Nabi menyuruhnya duduk di depannya. Nabi mengambil secebok air itu, beliau percikkan ke pundak, dada, dan kedua lengan Ali. Kemudian, Nabi memanggil Fathimah. Fathimah cepat² datang, tersandung dengan gaunnya sendiri karena begitu hormat dan takzimnya kepada ayahandanya. Nabi melakukan hal yang sama kepadanya, dan memohonkan rahmat dan berkah Allah kepada kedua mempelai dan anak keturunannya.

Di tahun berikutnya, setelah perang Badr, keluarga 'Umar mengalami dua Kehilangan. Pertama kehilangan menantunya, khunays, suami putrinya, Hafshah, salah satu emigran ke Abyssinia. Ia menikah saat kembali. Hafshah baru berusia 18 tahun, tapi kini telah janda. Dia sangat cantik dan pandai, bisa membaca dan menulis seperti ayahnya. Mengingat Ruqayyah telah meninggal, 'Umar menawari 'Utsman agar menikahi putrinya itu. 'Utsman menjawab akan mempertimbangkannya, tapi kemudian ia berpikir lebih baik tidak menikah dulu untuk sementara waktu. 'Umar sangat kecewa dan agak sakit hati dengan jawaban itu. Tetapi, ia berjanji akan mencarikan suami yang baik bagi putrinya. Maka, ia menemui Abu Bakr, seorang sahabat dekatnya, dan ia tidak mau menerimanya. Kali ini hati 'Umar lebih sakit lagi ketimbang ketika mendengar penolakan 'Utsman, meskipun ia lebih bisa menerima alasan Abu Bakr yang telah beristri, sementara 'Utsman kini seorang duda. Ia masih berharap, 'Utsman akan berubah pikiran. Suatu ketika, 'Umar mengeluhkan kesedihannya kepada Nabi. "Tenanglah", kata Nabi, "akan kutunjukkan kepadamu menantu yang jauh lebih baik dan akan ku tunjukkan kepada 'Utsman seorang ayah mertua yang lebih baik darimu". "Lakukanlah, hai Rasulullah", kata 'Umar penuh harap. Sejenak kemudian, ia tersenyum lebar mengerti maksud Nabi. 'Umar tahu, orang yang dari dua sisi lebih baik di mata Allah adalah Nabi sendiri, yang kemudian menikahi Hafshah dan menikahkan 'Utsman dengan Umm Kultsum, adik Ruqayyah. Ini dilakukan setelah Abu Bakr mengungkapkan alasan diamnya kepada 'Umar, karena Nabi memintanya agar rencana meminang Hafshah itu dirahasiakan.

Pernikahan Umm Kultsum dan 'Utsman dilakukan terlebih dahulu. Setelah lewat masa idah atas kematian Khunays, dan rumah baru telah disiapkan di dekat tempat tinggal Sawdah dan 'A'isyah di sebelah masjid, Nabi menikah. Pernikahan itu dilangsungkan hampir satu tahun setelah perang Badr. Kehadiran Hafshah tidak mengubah keharmonisan rumah tangga Nabi. 'A'isyah sangat senang mendapat teman yang usianya sebaya, dan mereka langsung akrab layaknya sahabat. Sementara Sawdah, yang selama ini bersikap seperti ibu bagi 'A'isyah, mendapatkan kesayangan baru, yang usianya berjarak hampir dua puluh tahun dengannya.

Hampir bersamaan dengan pernikahan itu, saudara ipar 'Umar, paman Hafshah dari ibunya, meninggal dunia. Dia adalah 'Utsman ibn Mazh'un. Dia dan istrinya, khawlah, sama² dekat dengan Nabi. 'Utsman adalah orang yg paling Zuhud di antara para sahabat. Dia telah zuhud sejak sebelum wahyu Islam turun. Sejak Hijrah ke Madinah, ia merasa sangat tertekan oleh hasrat² duniawi, maka ia meminta izin kepada Nabi untuk menjadi seorang pertapa dan menghabiskan sisa² usianya untuk menjadi seorang fakir. "Tidakkah engkau jadikan aku sebagai teladan bagimu?" tanya Nabi. "Aku menikah, aku makan daging, dan aku juga berpuasa, tapi aku juga berbuka. Bukan termasuk kaumku orang yg menjadikan dirinya dan orang lain fakir". Namun, Nabi menduga seakan² 'Utsman tdk memahami maksudnya, maka di lain kesempatan, beliau bertanya lagi, "Tidakkah engkau meneladaniku?" 'Utsman dengan semangat mengiyakan, lalu menanyakan apa salahnya. "Engkau berpuasa setiap hari", kata Nabi, "dan asyik beribadah sepanjang malam". "Benar, itulah yang kulakukan", jawab 'Utsman, karena ia berulang kali mendengar Nabi berbicara tentang keutamaan berpuasa dan salat malam. "Tidak begitu, dan jangan lakukan itu", kata Nabi, "karena sesungguhnya matamu memiliki hak atas dirimu, dan tubuhmu juga memiliki hak²nya, demikian pula keluargamu memiliki hak² yang harus kau penuhi. Maka salat dan tidurlah, berpuasa dan berbukalah."

Sebagai pernyataan tentang agama primordial, turunlah wahyu yang menekankan pentingnya bersyukur atas kenikmatan dan keberkahan dalam hidup.

_Dia telah memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur_ (Q.S. 16: 78)
_Dan di antara tanda² kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri² dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda² bagi orang yang berpikir_ (Q.S. 30: 21)
_Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu berlangsung terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan memberikan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?" Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus hingga hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang di saat itu kamu beristirahat? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" Dan karena rahmat-Nyalah, dia telah menjadikan malam dan siang, supaya kamu dapat beristirahat di malam hari, dan mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya_ (Q.S. 28: 71-73).

Bagi manusia primordial, kesenangan² alamiah disucikan dengan bersyukur kepada Allah, sebagai suatu cara untuk beribadah kepada-Nya. Menunjuk pada dirinya sendiri, Nabi mengungkapkan kenikmatan salat dalam konteks yang sama: "Aku menyukai wewangian, dan kesejukan mata yang kutemukan dalam salat".

Segera setelah kematian 'Utsman, sebelum penguburannya, Nabi pergi bersama 'A'isyah untuk mengunjungi Khawlah. Beberapa waktu kemudian, 'A'isyah berkata, "Nabi mencium pipi 'Utsman ketika ia telah terbaring meninggal dunia, dan aku menyaksikan air mata membasahi pipinya". Saat penguburan laki² itu, Nabi mendengar seorang wanita tua berkata, "Berbahagialah, wahai ayah Sa'ib, surga kini menjadi milikmu". Nabi menoleh kepadanya dan berkata, "Bagaimana engkau bisa tahu?" "Ya Rasulullah", katanya, " ia adalah Abu Sa'ib!' "Demi Allah", kata Nabi, "kita hanya tahu kebaikannya". Kemudian, untuk memperjelas bahwa kata²nya tidak bermaksud mencela 'Utsman, namun dilarang berbicara melampaui sesuatu yang diketahuinya, dan beliau menambahkan, " Lebih baik engkau katakan saja, 'Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya'".

'Umar kecewa melihat saudara ipar yang sangat dikaguminya itu ternyata tidak meninggal sebagai syahid di medan perang. Dia menuturkan, "ketika 'Utsman ibn Mazh'un meninggal bukan karena terbunuh, penghargaanku terhadapnya jadi turun, dan aku berkata, 'Lihatlah orang ini! Dalam berpantang dari kenikmatan dunia, ia paling hebat diantara kita semua, dan kini ia meninggal, tanpa terbunuh'". Pernyataan ini tetap membekas dalam pikiran 'Umar, hingga Nabi dan Abu Bakr juga sama² meninggal secara alami. Ia pun menyadari, dirinya kurang tepat memahami masalah, dan hati kecilnya berkata, "Terkutuklah aku, itulah kematian yang terbaik!" –yg dimaksud adalah mati secara alami– dan ia pun kembali menghormati 'Utsman.

*#066#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment