🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣8⃣ *AHL AL-SHUFFAH*
_______________________
SALAH satu serambi masjid kini digunakan sebagai tempat singgah para pendatang baru yang belum memiliki tempat tinggal dan persediaan makanan. Mereka disebut _Ahl al-Shuffah,_ mengacu pada sebuah bangku batu yang diletakkan di sana untuk kepentingan mereka. Karena masjid berdampingan dengan tempat tinggal Nabi, beliau dan keluarganya merasa bertanggung jawab terhadap bertambahnya para pengungsi yang tinggal disana. Kondisi para pengungsi itu amat buruk, mereka datang dari berbagai suku di penjuru Arabia. Ada yang datang sendirian, ada pula yang datang berpasangan, terpikat dengan ajaran² Islam, laporan² tentang Nabi dan umatnya, yang kini tersebar di seluruh suku² Arabia. Kabar kemenangan di perang Badr sangat berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah para pendatang itu. Akibatnya, mereka yang tinggal berdekatan dengan masjid itu (keluarga Nabi) jarang merasa kenyang saat makan. Nabi sering berkata, "Makanan untuk seorang dicukupkan untuk berdua, makanan untuk berdua dicukupkan untuk berempat, makanan untuk berempat, dicukupkan untuk delapan orang".
Nabi tidak saja sangat suka terhadap harumnya wewangian; tapi juga sangat peka terhadap bau yang kurang sedap, terutama bau mulut beliau sendiri maupun orang lain. 'A'isyah meriwayatkan, hal pertama yang dilakukan Nabi sebelum masuk rumah adalah membersihkan gigi dengan siwak yang terbuat dari dahan pohon kurma yang masih hijau. Jika sedang dalam perjalanan, beliau menugasi 'Abd Allah ibn Mas'ud untuk menyiapkan perbekalan, termasuk siwak tersebut. Para sahabat mencontoh perilaku beliau, menggunakan siwak dan membersihkan mulut setiap kali selesai makan.
Kondisi lapar tidak mengurangi kepekaan beliau terhadap bau. Ada beberapa jenis makanan yang secara umum halal atau boleh oleh para sahabat, namun tidak untuk beliau. Misalnya sejenis reptil besar yang tidak ditemui di Mekah, namun biasa dijumpai dan dikonsumsi di Yatsrib dan daerah² lain. Nabi sering menolak makanan dan mempersilakan orang lain memakannya. Suatu ketika ada suguhan makanan yang dikirim oleh seorang Anshar, suatu masakan daging dengan kuah yang lezat. Ketika Nabi hendak mengambilnya sedikit, beliau mencium bau bawang yang menyengat. Beliau menarik tangannya kembali. Orang² yang bersamanya melakukan hal yang sama. _"Lha,_ ada apa?" tanya Nabi kepada mereka. "Engkau menarik tanganmu, maka kamipun melakukannya", jawab mereka. "Makanlah dengan nama Allah", kata Nabi. "Aku tidak menyantapnya karena aku harus berdekatan dengan sesuatu, sedangkan kalian tidak". Mereka mengerti 'sesuatu' yang Nabi maksudkan adalah Jibril. Namun beliau secara umum tidak menganjurkan para sahabatnya mengkonsumsi makanan yang terlalu berbau bawang, terutama sebelum berangkat ke masjid.
Sebelum menikah, Fathimah sudah seperti tuan rumah bagi para ahli suffah itu. Tapi, kendatipun pengorbanan² itu menjadi bagian dari kehidupan keluarga Nabi sehari², ternyata kehidupannya setelah menikah lebih miskin. Ia belum pernah merasakan kekurangan seperti yang dialami saat ini. Selama mengurus keluarga Nabi, ia belum pernah kekurangan bantuan. Di samping saudara perempuannya, Umm Kultsum, Umm Ayman selalu berada di sana, siap membantu apa yang bisa dilakukannya. Sedangkan Umm Sulaym menyerahkan anak laki²nya yang berusia sepuluh tahun, Anas, Untuk membantu Nabi; dan Anas sangat rajin dan berpikiran matang jauh melebihi usianya. Sedangkan ibunya dan Abu Thalhah berada di belakangnya, siap untuk membantu. Ibn Mas'ud dekat sekali dengan Nabi, begitu dekatnya, ia seperti anggota rumah tangga beliau sendiri. Dan baru² ini, setelah kembali ke Mekah, Abbas mengirimkan pembantunya, Abu Rafi', kepada Nabi sebagai hadiah. Nabi membebaskan budak ini, tetapi ia selalu siap melayani. Demikian pula Khawlah, janda Utsman ibn Mazh'un, yg telah lama mengabdikan dirinya kepada Nabi. Namun, Fathimah kini benar² sendirian mengurus rumah tangganya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, 'Ali bekerja sebagai pencari dan pengangkut air, dan Fathimah bekerja sebagai penggiling jagung, "Aku terus menggiling jagung hingga kedua tanganku melepuh", keluh Fathimah suatu ketika kepada suaminya. "Aku juga telah menimba dan mengangkut air, hingga dadaku sakit", kata Ali, "dan Allah telah memberikan banyak tawanan kepada ayahandamu. Maukah engkau pergi kepadanya, meminta satu orang untuk membantu kita?" Dengan agak ragu, Fathimah menemui Nabi, Beliau menyambut putrinya, "Aduhai, apa yang mendorongmu datang kemari, putri kecilku?" "Aku datang untuk menyampaikan salam sejahtera", jawabnya. Karena segan kepada sang ayah, Fathimah tidak berani meminta sesuatupun darinya. "Bagaimana hasilnya?" tanya Ali, ketika ia pulang dengan tangan kosong. "Aku malu meminta sesuatu kepadanya", jawabnya. Maka, merekapun pergi berdua menghadap Nabi. Namun beliau menganggap orang lain lebih membutuhkan bantuan daripada mereka. "Aku tak akan memberikan apa² kepada kalian", kata Nabi, "dan membiarkan para ahli suffah itu kelaparan. Aku tak punya persediaan yang cukup untuk menjamin dan memenuhi kebutuhan mereka, aku hanya dapat menggunakan dana hasil penebusan para tawanan itu".
Kedua suami istri itu pun pulang dengan perasaan kecewa. Akan tetapi, di malam harinya, ketika telah siap beranjak tidur, mereka mendengar suara Nabi meminta izin untuk masuk. Sembari menjawab salam dan mempersilakan Nabi duduk, mereka bangkit, tapi Nabi berkata, "Tetaplah di tempatmu" dan beliau duduk di sebelah mereka. "Maukah kalian kuberitahu sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta kepadaku?" tanya Nabi, dan mereka pun mengiyakan. "Jibril menyampaikan kepadaku agar kalian mengucapkan _Allahu Akbar_ (Mahabesar Allah) sepuluh kali setiap selesai salat, _Alhamdulillah_ sepuluh kali, dan _Subhanallah_ sepuluh kali. Ketika menjelang tidur, ucapkanlah masing² kalimat itu tiga puluh tiga kali" Mereka pun melaksanakannya. Beberapa tahun kemudian, 'Ali menuturkan, "Aku tak pernah lupa mengucapkan bacaan² itu sejak Rasulullah berpesan kepada kami".
Rumah mereka tidak terlalu jauh dari masjid, tetapi Nabi menginginkan agar putrinya itu tinggal lebih dekat lagi dengannya. Beberapa bulan setelah pernikahannya, Haritsah dari Khazraj, seorang kerabat jauh Nabi, datang kepadanya. "Wahai Rasulullah, aku dengar engkau menginginkan Fathimah tinggal dekat denganmu, dan di antara tempat tinggal anak² Najjar, rumahku ini yang paling dekat, maka kini menjadi milikmu. Diriku dan seluruh hartaku milik Allah dan Rasul-Nya. Aku lebih berbahagia jika engkau mengambil sesuatu dariku daripada engkau memberi sesuatu kepadaku". Nabi mengucapkan terima kasih, memberkatinya dan menerima uluran tangannya. Kemudian beliau membawa putri dan menantunya itu untuk tinggal berdekatan dengannya.
Nabi sangat berbahagia atas kemurahan hati Haritsah. Demikian juga terhadap semua kedermawanan yang pernah terjadi di Madinah, baik kepada diri beliau maupun kepada yang lain. Namun bagaimanapun, ada juga peristiwa yang mengecewakan Nabi. Beliau telah memberikan penilaian yang sangat baik kepada Abu Lubabah dari 'Aws. Di tengah perjalanan menuju Badr, Nabi memilihnya untuk kembali dari Rawha' ke Madinah, menggantikan posisi beliau sebagai imam untuk sementara selama beliau tidak ada. Kira² setahun kemudian, seorang anak yatim yang diasuh Abu Lubabah menemui Nabi dan mengklaim hak kepemilikan sebatang pohon kurma berbuah lebat. Ia mengatakan bahwa pengasuhnya, Abu Lubabah, mengambil pohon itu untuk dirinya sendiri. Nabi kemudian memanggil Abu Lubabah. Abu Lubabah mengaku pohon itu miliknya dan memang demikian. Nabi menangani kasus tersebut, dan memberikan penilaian yang baik terhadap sang pengasuh dan si anak yatim yang sedih karena merasa kehilangan pohon kurmanya. Maka, Nabi meminta pohon itu, dengan maksud nanti akan diberikan kepada si anak yatim, tetapi Abu Lubabah menolak. "Hai Abu Lubabah! Serahkan pohon kurma itu kepada si anak yatim, dan itulah yang akan menjadi milikmu di surga". Tetapi rasa keadilan yang legal dalam diri Abu Lubabah telah menghalanginya untuk menyetujui, dan sekali lagi ia menolak, sampai seorang Anshar yang lain, Tsabit ibn al-Dahdahah, berkata kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, akan ku bayar pohon kurma itu dan ku serahkan semuanya kepada anak yatim ini. Apakah ini akan menjadi milikku di surga?" "Ya, tentu saja", jawab Nabi. Maka, ia menemui Abu Lubabah, membayar pohon itu dengan harga tiga kali lipat. Penawaran diterima, dan Ibn al-Dahdahah menyerahkan pohon itu kepada si anak yatim. Nabi sangat senang dengan tindakannya, namun sangat menyayangkan sikap Abu Lubabah.
*#067#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment