🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣4⃣ *KEMBALINYA ORANG-ORANG YANG KALAH*
_______________________
TENTARA Quraisy kembali ke Mekah dalam kelompok² kecil, yang diawali atau diikuti oleh beberapa orang yang berjalan sendiri². Di antara yang pertama kali sampai di Mekah adalah kepala Bani Hasyim, Abu Sufyan, yg saudaranya, Naufal, ditawan. Permusuhan Abu Sufyan terhadap agama baru itu mendorongnya untuk menggubah syair untuknya dan untuk sepupu sekaligus saudara angkatnya sendiri, Muhammad. Tetapi, pengalamannya di Badr benar² membuatnya terguncang. Pikiran pertama yang muncul di benaknya adalah berkunjung ke Ka'bah. Kebetulan saja, di sana ada pamannya, Abu Lahab, sedang duduk di dalam tenda besar yang dikenal dengan tenda Zamzam. Melihat keponakannya, Abu Lahab segera memanggilnya agar masuk dan duduk bersama di dalam tenda. Kemudian ia menanyakan apa yang telah terjadi. "Ceritanya begini", kata Abu Sufyan, "kami berhadapan dengan musuh dan berbalik, tetapi mereka terus menyerang kami dan mengambil tawanan semau mereka. Aku tidak bisa menyalahkan orang² kami, karena kami tidak hanya menghadapi mereka, tetapi juga suatu pasukan berbaju putih dengan kuda belang di antara langit dan bumi. Pasukan itu tidak menyisakan sedikitpun, hingga tak ada lagi yang bisa bertahan untuk melawan mereka".
Saat itu Umm al-Fadhl duduk bersama budak 'Abbas, Abu Rafi', di salah satu sudut tenda, sedang membuat anak panah. Seperti Umm Fadhl, sang budak telah menjadi muslim, tapi keduanya merahasiakan keislamannya. Meski demikian, Abu Rafi' tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya mendengar kemenangan Nabi di medan perang. Dan saat mendengar tentang pasukan berbaju putih itu, ia langsung nyeletuk dengan penuh kekaguman, "Mereka itu pasukan malaikat!" Mendengar itu, Abu Lahab bangkit dan membentaknya, memukul dan melukai wajahnya. Sang budak berusaha melawannya, tetapi ia kurus dan lemah, sedangkan Abu Lahab gemuk dan besar. Ia pun dirobohkan ke tanah, diinjak, dan berkali² dipukul. Menyaksikan kekejaman itu, Umm al-Fadhl segera mengambil kayu penopang tenda dan memukulkan dengan sekeras²nya ke kepala iparnya itu. Kulit kepalanya robek dan luka yang tak mungkin di sembuhkan lagi. "Seenaknya saja kamu berbuat kejam diluar batas", teriak Umm al-Fadhl, "kamu kira tak ada majikannya untuk membelanya?" Luka di kepala Abu Lahab membusuk. Dalam waktu seminggu, seluruh tubuhnya digerogoti luka borok yang mengantarkannya kepada kematian.
Ketika berita lebih jauh tentang peperangan telah datang, dan saat rasa kehilangan dimulai dengan ratapan atas kematian mereka, sebuah keputusan segera diambil oleh majelis: mereka harus berusaha menahan diri. "Muhammad dan para pengikutnya akan mendengar keputusan kita ini, dan mereka akan bersuka ria". Para kerabat orang yang tertawan diminta agar menunda pembayaran uang tebusannya. Dengan meninggalnya banyak pemuka kaum Quraisy, dalam pandangan sebagian orang, kini Abu Sufyan menjadi pemimpin mereka. Dan seolah ingin memberi contoh bagi kaumnya, ia berbicara tentang kedua anaknya, Hanzhalah dan 'Amr, yang satu terbunuh di medan tempur dan yang satu lagi ditawan. "Haruskah aku kehilangan darah dagingku sekaligus harta bendaku? Mereka telah membunuh Hanzalah, lalu aku harus menebus 'Amr? Biar saja ia tinggal bersama mereka. Biarkan mereka terus menjaganya sesuka mereka!"
Istri Abu Sufyan yang judes, Hindun, bukan ibu kandung Hanzalah maupun 'Amr, tetapi ia kehilangan ayahnya, 'Utbah, pamannya, Syaibah, dan saudaranya, Walid. Kendatipun mampu menahan ratapannya, ia bersumpah bahwa bila kelak Quraisy melakukan pembalasan dendam terhadap tentara muslim, ia akan merobek dada pembunuh paman dan ayahnya itu, dan akan mengunyah jantungnya.
Kafilah kaya raya yang dipimpin Abu Sufyan itu tiba di Mekah dengan selamat. Disepakati oleh majelis bahwa seluruh keuntungan yang diperoleh akan digunakan untuk membentuk pasukan sekuat mungkin agar tidak dapat dikalahkan lagi oleh musuh mereka dari Yatsrib. Dan kali ini para wanita akan diikutsertakan, demi meningkatkan kekuatan dan semangat juang mereka. Disepakati pula, dengan tujuan yang sama, mereka mengutus beberapa delegasi ke berbagai sekutu mereka di seluruh penjuru Arab, meminta mereka untuk bergabung melawan Nabi. Mereka diyakinkan dengan berbagai alasan bahwa para pengikut agama baru itu mesti dianggap sebagai musuh bersama.
Mengenai aturan majelis tentang penundaan pembayaran tebusan, banyak orang Quraisy yang tidak menghiraukannya. Kaum lelaki hampir setiap suku berangkat ke Yatsrib, membawa tebusan bagi sanak saudara, kawan, atau sekutu mereka. Abu Sufyan tetap bersikeras untuk tidak menebus anaknya. Namun, pada musim haji, ia menangkap seorang jamaah haji yang datang dari oasis itu, seorang lelaki tua dari 'Aws, dan menyanderanya. Ia berpesan bahwa lelaki itu akan dilepas jika 'Amr dibebaskan. Keluarga laki² tua itu meminta Nabi untuk menyetujui pertukaran ini.
*#062#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment