Sunday, February 16, 2020

Kisah Rosul bagian 43

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣3⃣ *PERANG BADR*
_______________________

NABI kini memeriksa seluruh pasukannya. Beliau lewat di depan semua pengikutnya, memberikan semangat dan meluruskan barisan, dengan membawa anak panah di tangannya. "Luruskan barisanmu, Sawad", katanya kepada seorang Anshar yang berdiri terlalu ke depan. Beliau memukul perutnya dengan anak panah. "Hai Rasulullah, engkau menyakitiku", protes Sawad, "padahal Allah telah mengutusmu dengan kebenaran dan keadilan, maka biarkan aku membalasmu". "Peganglah ini", kata Nabi sambil memberikan anak panah itu dan menyingkapkan perutnya. Tiba² Sawad memeluk dan menciumnya. "Apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?" tanya Nabi terkejut. Ia menjawab, "Hai Rasulullah, kini kita masih sempat bertatap muka. Aku ingin sekali pada akhir pertemuanku denganmu ini, kulitku menyentuh kulitmu". Nabi mendoakan dan memberkahinya.

Tentara Quraisy mulai bergerak maju. Dilihat dari seberang bukit pasir yang bergelombang itu, pasukan Mekah itu tampak jauh lebih kecil dari jumlah sebenarnya. Tapi Nabi betul² tahu jumlah mereka dan perbedaan besar antara kedua pasukan yang akan bertempur itu. Beliau kini kembali ke tempat pemberhentian bersama Abu Bakr dan memohon pertolongan kepada Allah seperti yang telah Dia janjikan.

Suatu keadaan tak sadar menimpa Nabi. Ketika terbangun, beliau berkata, "Bergembiralah Abu Bakr! Pertolongan Allah pasti datang kepada kita. Jibril telah hadir, tangannya memegang tali kendali kuda yang ia tunggangi, dan ia akan turut berperang bersama kita."

Dalam sejarah bangsa Arab, banyak peperangan dibatalkan pada menit² terakhir, bahkan ketika kedua kekuatan telah saling berhadapan. Namun, Nabi kali ini benar² yakin bahwa peperangan pasti akan terjadi, dan pertempuran hebat ini merupakan salah satu kemenangan dari dua kemenangan yang dijanjikan itu. Burung² elang pun tahu bahwa sebentar lagi akan terjadi pertempuran besar, dan mereka telah bersiap² untuk menyantap bangkai² para tentara yang akan terbunuh, sebagian terbang melayang² dan sebagian lagi bertengger di tebing bebatuan dekat pasukan musuh. Lagi pula, tampak jelas dari gerakan tentara Quraisy, mereka bersiap untuk menyerang. Posisi mereka telah dekat dan kini telah berada di tempat yang sangat mudah menjangkau waduk yang dibuat kaum muslim. Dan tampaknya, gerakan pertama mereka memang hendak merebut waduk tersebut.

Aswad dari Makhzum berjalan mendahului yang lain, bermaksud mengambil air untuk minum. Hamzah segera maju menghadapinya, menyabetnya hingga putus salah satu kakinya, dan sabetan kedua menewaskannya. Lalu 'Utbah, yang semangatnya masih terbakar oleh olok² Abu Jahl, meloncat dari kudanya dan menantang untuk bertarung satu lawan satu. Dan demi membela keluarganya, Syaibah dan anaknya, Walid, maju dan berdiri di sampingnya. Tantangan itu segera disambut oleh 'Awf dari Najjar, suku Khazraj, salah satu dari enam orang Anshar pertama yang berbaiat kepada Nabi, dan bersamanya maju pula Mu'awwidz. Tempat merekalah yang dipilih Qashwa sebagai tempat pemberhentian terakhir di Madinah. Tantangan ketiga di terima oleh 'Abd Allah ibn Rawahah, orang yang melawan pemimpinnya, Ibn Ubayy, ketika ia mengucapkan salam dan penghormatan kepada Nabi.

"Siapa kalian?" tanya para penantang itu. Ketika mereka menjawab, 'Utbah berkata, "Kalian orang² terhormat dan rekan kami, aku tidak punya urusan dengan kalian. Kami hanya menantang orang² dari suku kami sendiri". Kemudian tentara Quraisy berteriak, "Hai Muhammad, ajukan orang² kami sendiri sebagai lawan kami!" Nabi sendiri hendak maju, tetapi kaum Anshar menghalanginya. Maka kini beliau berbalik menemui kerabatnya sendiri untuk memulai peperangan. Para penantang itu adalah dua orang tua dewasa dan seorang pemuda. "Hadapilah 'Ubaydah!" kata Nabi. "Majulah Hamzah! Majulah Ali!" 'Ubaydah adalah laki² tertua yang turut dengan Nabi dan paling berpengalaman di antara seluruh sahabatnya, seorang kakek dari Bani Muththalib, dan ia segera menghadapi 'Utbah. Sementara Hamzah menghadapi Syaibah, dan 'Ali menghadapi Walid. Pertempuran itu tidak berlangsung lama: Syaibah dan Walid terkapar di tanah, sementara Hamzah dan 'Ali tidak terluka sedikit pun. Namun sayang, saat 'Ubaydah memukul jatuh 'Utbah, salah satu kakinya terkena tebasan pedang 'Utbah hingga terputus. Ini adalah pertandingan tiga serangkai, tiga lawan tiga, maka Hamzah dan 'Ali mengarahkan pedangnya ke 'Utbah dan Hamzah menyerangnya hingga tewas. Mereka membawa sepupunya yang terluka itu kembali ke perkemahan. Namun, 'Ubaydah telah kehilangan banyak darah yabg mengalir deras dari kakinya yang terpotong. "Ya Rasulullah, apakah kematianku ini syahid?" tanyanya dengan sedih ketika Nabi mendekatinya. "Tentu saja hai saudaraku", jawab Nabi.

Keheningan sesaat di antara kedua belah pihak segera pecah oleh desingan sebuah anak panah dari Quraisy, dan seorang bekas budak Umar tersungkur ke tanah, terluka parah. Anak panah kedua mengenai leher Haritsah, pemuda Khazraj yang sedang minum di waduk. Nabi segera mengomando pengikutnya, "Demi Dia yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, berjuanglah melawan musuh untuk mencari Ridha-Nya. Maju terus pantang mundur! Tak ada seorangpun yang gugur tanpa jaminan akan langsung masuk ke dalam surga!". Kata² itu diteruskan oleh para sahabat yang mendengarnya kepada mereka yang jauh dari jangkauan suara beliau. 'Umayr dari Salimah, suku Khazraj, sedang membawa segenggam kurma dan ia sedang memakannya. "Kehebatan yang paling hebat!" teriaknya. "Tak ada lagi jarak antara aku dan surga, hanya karena mereka membunuhku?" maka ia letakkan kurmanya, segera menghunus pedang untuk menghadapi musuh, dan mengikuti komando yang didenganya.

'Awf berdiri di dekat Nabi. Ia kecewa karena tidak mendapat kehormatan untuk menghadapi tantangan yang pertama. Ia menoleh kepada Nabi dan berkata, "Hai Rasulullah, apa yang bisa membuat Allah tersenyum senang kepada hamba-Nya?" Nabi menjawab, "Jika ia tanpa ragu² terjun ke medan perang tanpa baju besi". 'Awf pun segera menanggalkan baju besi yang dipakainya, ketika Nabi memungut segengggam kerikil dan berteriak kepada tentara Quraisy, "Hancurlah wajah² itu!" beliau melemparkan kerikil² itu kepada mereka, dengan niat melempar bencana. Kemudian beliau memberi aba². Pekik peperangan yang telah beliau rencanakan, _"Ya manshur amit!"_ bergemuruh dari mulut² mereka pada setiap kali bergerak maju melawan musuh. 'Awf, yang tanpa baju besi dan 'Umayr berada diantara orang² terdepan yang maju melawan musuh. Keduanya terus berjuang hingga terbunuh. Dengan gugurnya mereka, juga gugurnya 'Ubaydah dan dua orang yg terkena anak panah itu, maka jumlah syahid lima orang. Hanya sembilan mukmin lagi yang gugur hari itu, di antaranya 'Umayr yang lain, adik Sa'd, yang disuruh pulang Nabi ke rumahnya.

_". . . Bukan kamu yang telah melempar mereka ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar . . ."_(Q.S. 8: 17). Wahyu ini diterima Nabi tak lama setelah peperangan usai. Kerikil² itu bukan satu²nya manifestasi dari kekuatan Tuhan yang dilemparkan dari tangan Nabi pada hari itu. Pada satu titik, ketika perlawanan tentara Quraisy berada pada puncak kekuatannya, seorang mukmin kehilangan pedang yang terlepas dari tangannya, maka ia segera berlari ke arah Nabi untuk meminta senjata lagi. Dia adalah 'Ukasyah, seorang kerabat Jahsy. Nabi memberinya sepotong kayu. "Bertempurlah dengan ini hai 'Ukasyah!" Maka, 'Ukasyah pun menerimanya dan menggunakannya untuk memukul musuh. Di tangannya, kayu itu berubah menjadi sebilah pedang yang panjang, kuat dan berkilau. Pedang itu ia gunakan melawan musuh sampai perang Badr usai dan pada setiap pertempuran yabg dipimpin Nabi. Pedang itu diberi nama _al-Awn,_ yang bermakna "pertolongan Allah".

Ketika kaum mukmin diperintahkan untuk bergerak maju, sebenarnya mereka tidak maju sendirian, seperti yang telah diketahui oleh Nabi dan telah dijanjikan kepadanya, _"Aku akan menolongmu dengan seribu pasukan malaikat, yang datang pasukan demi pasukan"_(Q.S 8: 9). Dan para malaikat juga mendapat perintah dari Allah, _"Ketika Tuhanmu telah mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesunggunhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang² yang telah beriman. Kelak akan aku berikan rasa takut ke dalam hati orang² kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap ujung jari² mereka"_ (Q.S. 8: 12).

Kehadiran para malaikat itu dirasakan oleh semua orang, menambah kekuatan bagi kaum beriman dan menjadi teror bagi kaum kafir. Namun, kehadiran mereka hanya terlihat atau terdengar oleh segelintir orang, dengan derajat yang bervariasi. Ada dua laki² tetangga bangsa Arab yang menyaksikan pertempuran dari atas bukit dan berniat untuk turut ambil bagian mengambil rampasan perang jika perang telah usai. Tiba² segumpal awan putih menyapu mereka. Awan itu melengkingkan suara ringkikan kuda. Dan tiba² salah seorang dari dua laki² itu terjatuh dan tewas. "Hatinya diguncang rasa takut", kata satunya yang masih hidup, menceritakan dan membandingkannya dengan apa yang dia rasakan sendiri.

Salah seorang mukmin yang sedang mengejar musuh. Tiba² kepala orang yang dikejarnya itu jatuh ke tanah sebelum ia berhasil menjangkaunya, ditebas tangan gaib. Banyak yang lain melihat sekilas para malaikat mengendarai kuda dengan kaki yang tak pernah menyentuh tanah, dipimpin oleh Jibril yang memakai surban kuning, sementara malaikat² yang lain memakai surban putih, yang ujungnya melambai² ke belakang. Tentara Quraisy segera tercerai berai dan tak sanggup lagi melanjutkan pertempuran, kecuali hanya segelintir yang masih tertinggal karena tidak dilewati oleh pasukan malaikat itu. Salah satunya adalah Abu Jahl, yang bertarung dengan semangat yang tak kunjung padam, sampai Mu'adz, saudara laki² 'Awf, bertarung melawannya dan berhasil menjatuhkannya ke tanah. Kemudian, Ikrimah, anak Abu Jahl datang membela ayahnya dan menebaskan pedangnya ke Mu'adz, hampir saja memutuskan lengannya. Mu'adz melanjutkan pertarungan dengan satu tangan utuh dan sehat, sementara satunya lagi menggantung lunglai di bahunya. Ketika rasa sakit semakin tak tertahankan, ia segera membungkuk, mengaitkan tangannya yang hampir putus itu ke kakinya. Lalu kakinya menyentakkan tangannya itu hingga putus, dan kemudian melanjutkan pertarungan melawan musuh. Abu Jahl masih hidup, tapi Mu'awwid, saudara 'Awf yang kedua, mengenalnya ketika ia terjatuh di dekatnya dan Mu'awwidz kemudian menebasnya hingga sekarat. Mu'awwidz pun berlalu dan seperti saudaranya, 'Awf, terus bertarung sampai gugur.

Sebagian  besar tentara Quraisy lari pontang panting, tetapi kira² lima puluh orang tewas dalam pertempuran atau mati terkapar dalam perjalanan. Beberapa orang berhasil ditawan. Nabi berkata kepada para sahabatnya, "Aku tahu bahwa keturunan Bani Hasyim dan beberapa yang lain bertempur dengan melawan hati nuraninya sendiri, tanpa bersungguh² berniat melawan kita". Dan beliau pun menyebutkan nama² yang boleh dibebaskan jika mereka tertangkap hidup. Tetapi kebanyakan pengikut Nabi menahan musuh karena berharap mendapat uang tebusan, dan tidak bermaksud untuk membunuh mereka.

Mengingat jumlah tentara Quraisy jauh lebih besar dibanding pasukan muslim, kemungkinan mereka berkumpul dan menyerang kembali masih dipertimbangkan. Maka Nabi dibujuk untuk tinggal di tempat perlindungan bersama Abu Bakr, sementara sebagian kaum Anshar tetap berjaga². Sa'd ibn Mu'adz berjaga di pintu masuk dengan pedang terhunus. Sebentar kemudian, para tawanan mulai digiiring untuk menghadap Nabi disertai para penawannya. Wajah Nabi tampak sangat terpukul dan sedih melihat mereka, "Ya Sa'd, betapa tidak menyenangkan melihat wajah² mereka. Apa yang telah mereka lakukan benar² di luar batas". Sa'd pun mengiyakan, dan Nabi berkata, "Dari sekian dosa besar, syirik adalah dosa yang tak akan diampuni Allah. Aku lebih memilih mereka dibunuh daripada dibiarkan hidup dengan kezalimannya". Umar sependapat dengan Nabi. Namun Abu Bakr menyarankan agar mereka dibiarkan hidup, dengan harapan, mereka akan berubah menjadi lebih baik dan beriman di akhir hidupnya. Nabi pun menyetujui saran Abu Bakr. Di hari berikutnya, 'Umar menjumpai Nabi dan Abu Bakr sedang menitikkan air mata karena baru menerima wahyu yg berbunyi: _"Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda di dunia sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat bagimu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."_(Q.S. 8: 67). Dan wahyu berikutnya menjelaskan bahwa keputusan untuk melepas tawanan diterima oleh Allah dan tidak perlu dibatalkan, dan Nabi mendapat wahyu yang harus disampaikannya sendiri kepada para tawanannya: _"Ya Nabi, katakanlah kepada tawanan²mu, 'Jika Allah mengetahui adanya niat baik dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan padamu yang lebih baik dari yang telah diambil darimu, dan Dia akan mengampuni kamu.' Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."_ (Q.S. 8: 70).

Tapi, bagaimanapun, ada seorang manusia yang jelas² tidak boleh dibiarkan hidup, yaitu Abu Jahl. Orang² mengira ia telah mati terbunuh, maka Nabi memerintahkan mereka untuk mencari mayatnya. 'Abd Allah ibn Mas'ud kembali lagi ke medan perang dan mencari sampai ketemu mayat orang yang paling jahat dan paling memusuhi Islam di antara seluruh orang² Mekah itu. Abu Jahl masih cukup sadar untuk mengenali musuh yang kini berdiri di dekatnya. 'Abd Allah ibn Mas'ud adalah orang pertama yang membaca Qur'an di depan Ka'bah dan Abu Jahl memukul dan melukai wajahnya, karena ia hanyalah sekutu Zuhrah, sangat miskin, dan ibunya adalah seorang budak. 'Abd Allah kini berdiri di atas kepala Abu Jahl. Ia menginjak² leher Abu Jahl, dan Abu Jahl berseru, "Kurang ajar sekali kamu hai gembala kecil!" kemudian ia menanyakan pihak mana yang menang dalam peperangan itu. "Allah dan Rasul-Nya". Jawab 'Abd Allah singkat. 'Abd Allah kemudian memenggal lehernya dan membawanya kepada Nabi.

Abu Jahl bukan satu²nya pemimpin Quraisy yang dibunuh setelah peperangan usai. 'Abd al-Rahman ibn 'Awf sedang membawa baju² besi yang diambil sebagai rampasan perang, dan ia berpapasan dengan Umayyah yang telah kehilangan tunggangannya sehingga tidak bisa cepat² melarikan diri. Umayyah bersama 'Ali, anaknya. Ia memanggil bekas temannya itu, "Tangkaplah aku sebagai tawananmu, aku memiliki harta yang lebih banyak ketimbang jarahanmu itu". Abd al-Rahman setuju, dan ia meletakkan barang rampasannya dan menggiring kedua tawanan itu. Tapi, ketika dibawa ke perkemahan, Bilal melihat mereka dan mengenali bekas majikannya yang sangat kejam itu. "Umayyah!" teriaknya. "Kamu gembongnya kaum kafir! Aku tidak bisa hidup kalau dia tetap dibiarkan hidup !" 'Abd al-Rahman membantahnya dan mengatakan bahwa kedua orang itu adalah tawanannya, tapi Bilal terus berteriak, "Aku tak bisa hidup kalau dia dibiarkan hidup!" "Apakah engkau tidak mendengarku hai anak perempuan hitam?" bentak sang pembawa tahanan itu. Bilal kembali berteriak dengan suara yang sangat lantang, yang biasa digunakannya untuk melantunkan azan. "Wahai para penolong Allah! Lihatlah gembong kafir ini, Umayyah! Aku tak bisa hidup jika ia tetap dibiarkan hidup!" Orang² berkumpul di sekitar mereka dan mengerumuni Abd al-Rahman dan kedua tawanannya itu. Tiba² sebilah pedang ditebaskan ke Ali, tapi ia tidak tewas. Abd al-Rahman melepaskan tangan sang tawanan. "Selamatkan dirimu sendiri!" katanya, "kamu tdk bisa meloloskan diri, demi Tuhan aku tidak bisa menolongmu!" Di sekitar mereka, orang² berdiri dengan pedang terhunus, dan merekapun membunuh kedua tawanan itu. Beberapa tahun kemudian, Abd al-Rahman menuturkan, "Semoga Allah merahmati Bilal! Harta rampasanku telah lenyap dan ia merampas pula dua tawananku".

Nabi memerintahkan agar mayat² kaum kafir dikuburkan ke dalam satu lubang. Saat tubuh Utbah dimasukkan ke liang lahat, wajah Abu Hudzayfah, putra Utbah, menjadi pucat pasi dan dirundung rasa duka yang mendalam. Nabi dapat mengerti perasaannya dan menyarankan agar ia memalingkan wajahnya. "Hai Rasulullah", kata Abu Hudzayfah, "Aku bukan hendak memprotes perintahmu untuk menguburkannya. Tapi, aku mengenalnya sebagai seorang laki² yang bijaksana, baik dan ramah. Semula aku berharap, sifat² baiknya ini dapat mengantarkannya untuk masuk Islam. Namun, sekarang aku menemukan kenyataan yang sangat bertentangan dengan harapanku, sehingga aku pun sangat sedih". Nabi memberkahi Abu Hudzayfah dan menghiburnya dengan kata² bijak.

Kedamaian dan keheningan di perkemahan tiba² pecah oleh pertengkaran tentang pembagian harta rampasan. Mereka meminta Nabi agar harta tersebut dibagi dengan bijaksana. Mereka yang merasa mengumpulkan barang² dari musuh tidak mau melepaskan miliknya. Namun, sebelum Nabi sempat mengatur pembagian itu dan menciptakan lagi kerukunan, turunlah wahyu yg membuat masalah ini menjadi lebih mudah: _"Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian harta rampasan. Katakanlah, 'rampasan perang adalah untuk Allah dan Rasul-Nya'"_ (Q.S. 8: 1). Maka, Nabi memerintahkan agar semua harta rampasan yang mereka peroleh dikumpulkan, termasuk juga para tawanan. Semuanya dikumpulkan bersama². Tak lama kemudian, harta rampasan itu ditetapkan sebagai harta milik bersama. Perintah ini pun segera ditaati tanpa banyak sanggahan lagi.

Orang yang paling terkenal di antara para tawanan itu, adalah kepala suku 'Amir, Suhayl, sepupu Sawdah dan saudara suami pertamanya. Tawanan lain yang memiliki hubungan lebih dekat dengan Nabi adalah paman beliau, 'Abbas, menantunya, suami dari Zaynab, Abu 'Ash, dan sepupunya, 'Aqil dan Nawfal. Beliau memerintahkan agar semua tawanan diperlakukan dengan baik, meskipun mereka tetap harus diikat. Tetapi, mengingat pamannya akan menderita, Nabi malam itu tak bisa tidur, sehingga beliau menyuruh agar ikatannya dilepas. Tawanan lain mendapat perlakuan yang cukup baik dari kerabat mereka. Mush'ab menengok saudaranya, Abu 'Aziz, yang tengah diikat oleh kaum Anshar yang menangkapnya. Mush'ab berkata, "Jagalah ia, karena ibunya kaya, kalian akan diberi tebusan". "Saudaraku", kata Abu Aziz, "bagaimana mungkin kau titipkan aku kepada orang lain?" "Merekalah yang kini menjadi saudaraku, menggantikan posisimu", jawab Mush'ab. Meskipun demikian, beberapa tahun kemudian, Abu Aziz biasa menceritakan tentang kebaikan perlakuan kaum Anshar saat menahannya, yang membawanya ke Madinah sampai ia ditebus oleh ibunya dengan uang empat ribu dirham.

Begitu diketahui secara pasti bahwa delapan ratus orang atau lebih pasukan Mekah secara bertahap kembali ke kotanya, Nabi mengutus Abd Allah ibn Rawahah untuk menyampaikan berita kemenangan kepada warga Madinah di dataran atas yang terletak di selatan kota, dan Zayd kepada masyarakat Madinah di dataran bawah. Nabi sendiri, bersama pasukannya yang lain, tetap tinggal di Badr. Malam itu beliau berdiri di dekat kuburan para musuh Islam. "Hai para penghuni kubur", katanya, "sebagai kerabat Nabimu, kalian menunjukkan kejahatan sebagai bentuk persaudaraan. Kalian mengatakan aku sebagai pembohong, sementara yang lain beriman kepadaku. Kalian melawanku, sementara yang lain membantuku meraih kemenangan. Sudahkah kalian merasakan bahwa janji Tuhan kepadamu adalah benar semata? Aku telah meyakini kebenaran segala janji Tuhan kepadaku". Beberapa pengikut Nabi merasa heran dan aneh melihat Nabi berbicara kepada orang yang sudah mati. Tapi, Nabi berkata, "Mereka mendengar kata²ku sebagaimana kalian mendengar kata²ku, hanya saja mereka tak bisa lagi menjawabnya".

Keesokan harinya, pagi² Nabi bersama seluruh pasukan dan rampasan perangnya berangkat menuju Madinah. Dua orang tawanan yang akan ditebus dengan harga empat ribu dirham adalah Nadhr dari Bani Abd al-Dar dan 'Uqbah dari Bani Abd al-Syams. Namun, mereka ini benar² musuh Islam yang terburuk. Jika mereka dilepaskan, kemungkinan besar mereka akan segera melakukan tindakan jahat lagi kepada kaum muslim, kecuali jika kemenangan kaum muslim di Badr itu mampu menggugah hati mereka untuk beriman. Nabi kini terus menatap kedua musuh Islam itu, namun tidak sedikitpun menangkap tanda² adanya perubahan hati mereka. Dan selama perjalanan itu, menjadi jelas bagi Nabi bahwa bila mereka dibiarkan hidup tidaklah sesuai dengan kehendak Allah. Di pemberhentian pertama, Nadhr dihukum mati dan 'Ali sebagai pelaksananya. Di pemberhentian berikutnya, 'Uqbah mengalami nasib yang sama di tangan seorang sahabat dari 'Aws. Nabi membagi sisa tawanan dan harta rampasan secara adil kepada seluruh sahabatnya yang turut pada ekspedisi ini.

Sementara itu, Zayd dan Abd Allah ibn Rawahah telah sampai di Madinah. Penduduk Madinah benar² gembira mendengar kabar itu, kecuali kaum munafik dan kaum Yahudi. Di samping menyampaikan berita baik, Zayd juga menerima berita duka: Ruqayyah meninggal dunia, dan 'Utsman beserta Usamah baru saja pulang dari proses penguburannya. Saat isakan tangis dan kematian Ruqayyah masih terdengar di sudut² kota, Zayd menyampaikan kepada Afra' tentang kematian kedua anaknya, 'Awf dan Mu'awwidz. Sawdah pergi bolak-balik antara rumahnya dengan rumah Afra' untuk turut berbela sungkawa. Bagi Afra', berita kematian kedua anaknya itu tidak saja menimbulkan rasa duka, tapi juga menumbuhkan kebahagiaan. Sebab, ia yakin, kedua anaknya gugur sebagai syahid. Zayd juga membawa berita kepada Rubayyi' tentang kematian anaknya yang masih sangat belia, Haritsah ibn Suraqah, yang lehernya tertembus anak panah ketika ia sedang minum di dekat sumur. Saat Nabi datang, Rubayyi' segera menemuinya, dan menanyakan tentang anaknya. Rubayyi' bersedih mendengar anaknya meninggal di saat perang belum dimulai dan belum sempat berjuang demi Islam. "Wahai Rasulullaah, maukah engkau menceritakan kepadaku tentang Haritsah? Jika ia masuk surga, aku akan ikhlas melepaskannya. Tapi jika tidak, maka aku akan terus menangisinya demi menebus dosanya." Nabi telah siap menjawab semua pertanyaan seperti itu bahwa semua sahabatnya gugur karena mengikutinya. "Nilai sebuah kematian tergantung pada niatnya", tegasnya. Namun, secara khusus beliau saat itu menjawab, "Wahai ibu Haritsah, di dalam syurga ada banyak taman. Sungguh putramu kini berada di taman surga yang tertinggi, yaitu Firdaws!"

*#061#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment