🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣2⃣ *BARISAN MENUJU BADR*
_______________________
KINI tibalah saat Abu Sufyan kembali beserta kafilahnya yang membawa barang dagangan yang mereka peroleh dari Syria. Nabi mengutus Thalhah dan sepupu Umar, Sa'id putra Zayd yg _hanif_--menuju Hawra di pesisir, di sebelah barat Madinah, untuk menyampaikan kabar kepadanya secepat mungkin begitu pasukan Abu Sufyan itu tiba. Inilah yang memungkinkan Nabi, dengan bergerak cepat ke barat daya, menyusul kafilah itu sampai ke pesisir. Dua mata² yang diutus Nabi itu disambut baik oleh pemimpin Juhaynah, kemudian disembunyikan di rumahnya sampai kafilah itu lewat. Namun, pemimpin Juhaynah dan kedua mata² itu mungkin hanya dapat menyembunyikan diri mereka sendiri, karena seseorang di Madinah, pasti seorang munafik atau Yahudi, telah membocorkan rencana² Nabi terhadap Abu Sufyan tersebut. Abu Sufyan pun menyewa seorang lelaki suku Ghifari, bernama Damdam, untuk cepat² pergi ke Mekah, mendesak kaum Quraisy untuk segera mengerahkan tentara demi keselamatan kafilah mereka. Sementara ia sendiri bergerak maju, menyusuri sepanjang rute pesisir siang dan malam.
Namun, hal itu bukan satu²nya masalah penting yang sedang dihadapi Nabi. Beliau ingin tetap tinggal di Madinah sebisa mungkin, karena putrinya, Ruqayyah, sakit keras. Tetapi kepentingan pribadi itu harus dikorbankan, dan dari pada terlambat, beliau segera berangkat tanpa menunggu kedua intelnya kembali. Saat mereka tiba di Madinah, Nabi telah berangkat bersama 350 pasukan dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Saat itu ada 77 orang Muhajirin di Madinah, dan semuanya turut serta kecuali tiga orang: menantunya, 'Utsman, yang diminta menjaga istrinya yang sedang sakit, Thalhah dan Sa'id yang belum kembali dari pesisir.
Pada perhentian pertama, masih di dalam wilayah oasis itu, sepupu Nabi, Sa'd dari Zuhrah, memerhatikan saudara laki²nya yang berusia 15 tahun, 'Umayr tampak gelisah dan cemas. Ia menanyakan apa penyebabnya. "Aku takut", jawab 'Umayr, "kalau² Nabi melihatku dan menganggapku terlalu muda untuk turut dalam pasukan ini dan kemudian menyuruhku pulang ke rumah. Padahal aku benar² ingin berjihad hingga Allah menganugerahi aku kesyahidan". Seperti yang Umayr takutkan, Nabi memerhatikan dia saat memeriksa barisan. Beliau mengatakan bahwa ia terlalu muda dan disuruh pulang. Tetapi 'Umayr menangis sehingga akhirnya diizinkan untuk tetap tinggal dan turut dalam ekspedisi itu. "Ia masih sangat muda", cerita Sa'd, "bahkan aku masih harus membantunya mengikatkan tali pedangnya".
Ada 70 unta bersama mereka, tiga sampai empat orang mengendarai satu unta, dan tiga kuda, yang salah satunya milik Zubayr. Bendera putih diserahkan kepada Mush'ab, karena ia berasal dari suku Abd al-Dar, keturunan langsung pemegang bendera perang kaum Quraisy. Barisan terdepan adalah Nabi sendiri yang didahului dengan dua panji hitam, satu panji dari kaum Muhajirin, dan satu lagi dari kaum Anshar. Panji² ini dijunjung dengan penuh rasa hormat dan kebanggaan oleh Ali dan Sa'ad ibn Mu'adz dari kaum Anshar. Selama Nabi tidak berada di Madinah, salat dipimpin oleh Ibn Umm al-Maktum, seorang laki² buta yang di dalam Alquran diceritakan _"ia memalingkan wajah ketika datang seorang buta kepadanya"._
Di Mekah, sesaat sebelum kedatangan Damdam, bibi Nabi, 'Atikah, bermimpi buruk tentang bencana yang akan menimpa kaum Quraisy. Kemudian 'Atikah menemui saudara laki²nya, 'Abbas dan menceritakan mimpinya:
```Aku melihat seorang laki² menunggang unta yang berhenti di lembah dan berteriak dengan sangat lantang, "Cepat kerahkan kekuatanmu wahai orang² kafir! Hadapilah malapetaka yang akan menimpamu dan meruntuhkanmu dalam tiga hari!" Aku melihat orang² mengerumuninya. Kemudian, ia memasuki masjid dan orang² mengikutinya. Dari tengah² mereka, ia keluar dengan menunggang unta yang dibawanya ke pelataran Ka'bah, dan ia meneriakkan kembali kata² yang sama. Unta itu membawanya lagi ke puncak bukit Abu Qubays, dan sekali lagi, ia meneriakkan kata² yang sama kepada kepada orang² yang mengikutinya. Kemudian, ia menjatuhkan sebuah batu besar yang menggelinding menuruni bukit. Ketika mencapai kaki bukit, batu itu terpecah berkeping². Tak satupun rumah dan tempat tinggal di Mekah yang tertinggal karena hancur berantakan.```
'Abbas menceritakan kembali mimpi saudara perempuannya itu kepada sahabatnya, Walid ibn 'Utbah. Walid menceritakan mimpi itu kepada ayahnya, dan kemudian tersebar ke seluruh kota. Pada hari berikutnya, Abu Jahl berseru di depan 'Abbas, dengan nada mengejek, "Hai putra Abd al-Muththalib, sejak kapan nabi² mengungkapkan ramalannya di antara kalian? Tidak cukupkah bagimu setelah orang²mu mempermainkan kenabian? Haruskah kaum perempuanmu ikut²an melakukan hal yang sama?" Abbas tak dapat membalas ledekan itu, tapi Abu Jahl mendapatkan balasannya ketika esok harinya tebing² Abu Qubays menggemakan teriakan Damdam. Orang² segera berhamburan keluar dari rumah dan masjid, menuju tempat Damdam berhenti di lembah. Ia telah dibayar banyak oleh Abu Sufyan, sehingga ia harus memainkan peran dengan sebaik²nya. Ia turun dari pelana dan memegang kepala untanya. Sebagai pertanda akan datang bencana, ia mencongkel hidung untanya hingga berdarah dan menghapus darah itu dengan bajunya sendiri. "Orang² Quraisy!" teriaknya, "unta² tunggangan, unta² tunggangan! Semua keperluanmu sedang dibawa oleh Abu Sufyan, Muhammad dan para pengikutnya menyerangnya! Tolong! Tolong!"
Kota itu langsung gempar. Kafilah yang kini sedang dalam bahaya itu, adalah kafilah terkaya sepanjang tahun, dan banyak orang yang sangat takut kehilangan kekayaan mereka itu. Pasukan, kira² seribu orang segera disiapkan. "Apakah Nabi dan para pengikutnya berpikir bahwa kafilah itu milik Ibn al-Hadrami?" tanya mereka, menunjuk pada Amr sekutu Abd al-Syams yg terbunuh oleh tusukan anak panah di Nakhlah pada bulan suci. Hanya suku 'Adi yang tidak turut dalam ekspedisi itu. Sedangkan setiap kepala suku yang lain berangkat, kecuali Abu Lahab, yang membayar seorang Makhzum untuk mewakili dirinya. Namun, Bani Hasyim dan Bani Muththalib memiliki kepentingan dengan kafilah tersebut dan merasa lebih terhormat bila turut serta. Maka Thalib mengantarkan sekelompok pria dari kedua suku tersebut. 'Abbas pergi bersama mereka, mungkin bermaksud menjadi juru damai. Hakim, dari Asad, keponakan Khadijah, berangkat dengan tujuan yang sama. Seperti Abu Lahab, Umayyah dari Jumah juga memutuskan untuk tetap tinggal di rumah, karena dia sudah tua dan sangat gemuk. Tapi, ketika ia sedang duduk di masjid, 'Uqbah mendekatinya, meletakkan sebuah pedupaan di belakangnya, dan berkata, "Harumkanlah dirimu dengan ini, Abu Ali, biar tubuhmu wangi seperti perempuan". "Kurang ajar kamu!" seru Umayyah, dan ia segera bangkit dan bersiap pergi bersama yang lain.
Nabi kini telah berangkat dari madinah ke selatan dan menuju Badr, yang terletak di rute pesisir antara Syria dan Mekah, ke arah Barat. Nabi berharap dapat mencegat Abu Sufyan di Badr. Beliau mengirimkan dua orang sekutu mereka dari Juhaynah –yang tahu betul daerah itu– untuk mencari berita tentang kafilah itu. Di Badr, dua utusan Nabi itu berhenti di bukit dekat sumur. Saat hendak mengambil air, mereka mendengar pembicaraan dua gadis desa itu tentang hutang. "Satu kafilah akan lewat besok atau lusa", kata salah seorang kepada temannya. "Aku akan bekerja untuk mereka, dan hutangku padamu akan kubayar dengan upah itu". Begitu mendengar pembicaraan itu, mereka langsung kembali ke Nabi dengan membawa kabar tersebut. Andaikata mereka menetap di tempat itu sebentar saja, mereka dapat melihat seorang penunggang kuda dari arah barat. Dialah Abu Sufyan itu sendiri, berjalan mendahului kafilahnya untuk memastikan apakah kafilahnya dapat melewati jalur terdekat ke Mekah, jalur Badr, dengan aman. Saat mencapai sumber air, ia bertanya kepada orang desa setempat tentang kedatangan orang asing. Orang itu menjawab bahwa ada dua orang penunggang kuda yang berhenti di atas bukit dan kemudian mengambil air. Abu Sufyan segera berbalik ke tempat mereka berhenti itu. Dia mengambil setumpuk kotoran kuda dan memecahnya menjadi beberapa bagian. Di dalamnya ditemukan beberapa biji kurma. "Demi Tuhan", katanya, "ini adalah makanan ternak dari Yatsrib". Ia bergegas kembali ke kafilahnya dan merekapun cepat² berbalik menjauhi Badr.
Sementara itu, dua mata² itu kembali kepada Nabi dengan membawa kabar bahwa kafilah Abu Sufyan akan sampai di Badr besok atau lusa. Mereka dipastikan akan berhenti di Badr, karena di situlah tempat persinggahan utama sepanjang rute antar Mekah dan Syria. Ada cukup waktu bagi kaum muslim untuk mengejutkan dan menaklukkan mereka.
Kemudian datang kabar bahwa kaum Quraisy telah mempersiapkan pasukan untuk menyelamatkan kafilah Abu Sufyan itu. Meskipun pertempuran mungkin tak dapat dihindari, Nabi meresa wajib berembuk dengan para pengikutnya dan mempersilakan mereka memilih maju terus atau mundur. Abu Bakr dan Umar berbicara, atas nama kaum Muhajirin, menegaskan untuk maju. Kemudian dengan cara mengonfirmasi semua yang mereka katakan, seorang sekutu dari Bani Zuhrah yang baru² ini datang ke Madinah, bernama Miqdad, segera bangkit dan menambahkan, "Wahai Rasulullah, jalankanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu. Kami tak akan berkata kepadamu seperti orang Israel berkata kepada Musa, _'Pergilah engkau dan Tuhanmu, dan berperanglah sendiri, dan kami hanya akan duduk disini',_ (Q.S. 5: 24) tapi kami akan berkata, 'Berangkatlah berjuang demi Tuhanmu, dan kami akan berangkat bersamamu di kanan-kirimu, di depan dan belakangmu'". Abd Allah ibn Mas'ud meriwayatkan, betapa cerah dan bersinarnya wajah Nabi mendengar pernyataan itu dan beliau segera memberkati orang yang mengucapkannya. Namun, bagaimanakah dengan kaum Anshar? Mereka dipersiapkan dari Madinah hanya untuk menghadapi kafilah pedagang. Tetapi, sekarang mereka akan menghadapi sebuah kejadian yang jauh lebih berbahaya dan berisiko tinggi. Lagi pula, sesuai perjanjian di Aqabah, kaum Anshar tidak turut bertanggung jawab atas keselamatan Nabi jika ia berada di luar daerah kekuasaan mereka; jika ia berada di Madinah dan daerah kekuasaan mereka, ia akan mereka lindungi seperti anak-istri mereka sendiri. Maukah kaum Anshar membantunya melawan musuh sekarang, saat mereka tidak berada di Yatsrib? "Wahai kaumku, berilah aku saran", kata Nabi, menyebutnya secara umum tapi sebenarnya perkataan itu ditujukan kepada kaum Anshar –yang sebagian besar sedang sibuk memikirkan diri mereka sendiri– namun tidak ada yang angkat bicara. Sejenak kemudian, Sa'ad ibn Mu'adz berdiri, "Tampaknya kami adalah orang yang engkau maksud, hai Rasulullah". Ketika Nabi mengiyakan dan menegaskan maksud beliau, laki² itu meneruskan, "kami telah beriman kepadamu dan memercayai ucapanmu. Kami meyakini apa yang engkau sampaikan adalah kebenaran, dan kami telah berjanji untuk mendengarkan dan mematuhinya. Maka, apa pun yabg kau kehendaki, akan kami ikuti. Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran, bila engkau mengajak kami mengarungi lautan dan menceburkan diri ke dalamnya, maka kami akan turut bersamamu. Tak seorangpun dari kami yang akan tinggal diam. Kami tidak akan lari dari pertempuran esok pagi. Kami telah cukup berpengalaman dalam berperang, dan kami sungguh telah siap tempur. Semoga Tuhan menunjukkan keperkasaan-Nya kepada kita semua, sehingga dapat menyejukkan mata kami semua. Maka, pimpinlah kami dengan segala rahmat-Nya."
Nabi sangat gembira mendengar pernyataannya. Sebuah kepastian telah diperoleh untuk terus maju menghadapi pasukan musuh atau kafilah Abu Sufyan, tidak kedua²nya sekaligus. Nabi bersabda, "Maju dan bergembiralah, karena Allah Yang Mahatinggi telah menjanjikan kemenangan satu di antara dua. Sekaranglah akan kita saksikan kejatuhan musuh kita itu".
Meskipun mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal terburuk yang akan terjadi, mereka masih berharap untuk dapat menyerang kafilah Abu Sufyan sebelum pasukan Quraisy tiba, lalu kembali ke Madinah dengan selamat, membawa rampasan perang dan para tawanan. Namun, ketika mereka telah sampai di tempat pemberhentian, kurang lebih sehari perjalanan dari Badr, Nabi berkuda bersama Abu Bakr dan memperoleh informasi dari seorang laki² tua bahwa pasukan dari Mekah itu telah mendekat. Beliau kembali ke kamahnya, menunggu hingga malam tiba, kemudian mengutus Ali, Zubayr dan Sa'd, bersama beberapa sahabatnya ke sumur Badr untuk melihat tentara Quraisy atau kafilah Abu Sufyan yang sedang mengambil air; atau siapapun yang tahu informasi salah satu diantara dua kelompok itu. Di sumur, mereka menangkap dua orang mengangkut air dengan untanya untuk pasukan Quraisy. Kedua orang itu dibawa kepada Nabi yang sedang salat ketika mereka datang. Tanpa menunggu Nabi menyelesaikan salatnya, mereka menanyai keduanya. "Kami hanyalah pengangkut air bagi tentara Quraisy". Tetapi beberapa penanya lebih menganggap mereka bohong, karena sangat berharap mereka diutus Abu Sufyan untuk membawa air bagi kafilahnya, sehingga mereka dipukuli, dipaksa agar mengaku, sampai akhirnya mereka berkata, "Kami adalah suruhan Abu Sufyan". Kemudian dua orang itu dibiarkan pergi. Nabi menutup salatnya dengan salam dan berkata, "Ketika mereka berkata jujur, kalian memukulnya, tapi setelah mereka berbohong, kalian melepaskannya. Mereka adalah anggota pasukan Quraisy". Lantas Nabi menangkap kembali dua orang tawanan itu. "Katakanlah kepada kami, wahai orang Quraisy! Di mana mereka sekarang berada?" "Mereka berada di belakang bukit ini", jawabnya sambil menunjuk ke bukit 'Aqanqal, "di lereng berikutnya setelah lembah di seberangnya". "Berapa jumlah mereka?" tanya Nabi. "Banyak", jawab mereka tanpa bisa memastikan jumlah yang tepat. Selanjutnya, Nabi bertanya, berapa hewan yang harus di potong untuk makanan mereka. "Antara sembilan sampai sepuluh ekor", jawab mereka. "Kalau begitu, jumlah mereka sekitar sembilan ratus sampai seribu tentara", kata beliau, "dan siapa saja pemuka Quraisy yang ikut?" Mereka menyebut lima belas nama, termasuk diantaranya: dua bersaudara 'Utbah dan Syaibah dari Abd al-Syams, Harits dan Thu'aymah dari Nawfal, Nadhr dari Abd al-Dar, si pencipta puisi persia untuk menandingi ayat Alquran, saudara tiri Khadijah, Nawfal dari Asad, Abu Jahl dari Makhzum, Umayyah dari Jumah, Suhayl dari Amir. Mendengar nama² besar itu, Nabi berkomentar, "Mekah telah mengirimkan kepadamu bagian terbaik dari jantung hatinya".
Peristiwa tersebut terjadi tidak lama sebelum kabar tentang seribu pasukan itu sampai kepada Abu Sufyan. Saat itu, ia beserta kafilahnya sedang berada di titik tengah antara pasukan Nabi dan pasukan dari Mekah. Mengingat kafilahnya telah aman, ia mengirimkan pesan kepada kaum Quraisy, "kalian datang untuk menyelamatkan unta², pasukan dan harta benda kalian. Tuhan telah menyelamatkan semuanya, maka kembalilah kalian semua". Pesan tersebut sampai kepada pasukan Mekah sejenak setelah mereka mencapai Juhfah, sedikit di sebelah selatan Badr. Tak ada lagi alasan bagi mereka untuk terus maju. Seluruh perkemahan diselumuti kesuraman karena sebuah mimpi –mirip sebuah visi– yang dialami oleh Juhaym, seorang anggota suku Muththalib. "Antara tidur dan terjaga", tuturnya, "aku melihat seorang laki² di atas punggung seekor kuda, menuntun seekor unta. Kemudian, ia berhenti dan berkata, 'Yang terbunuh adalah Utbah dan Syaibah, Abu Hakam dan Umayyah' –dan kemudian ia pergi kepada para kepala suku Quraisy yang disebutkan itu. Aku melihat ia menikam untanya tepat di lehernya dan membiarkannya berlari melewati perkemahan. Tak satupun tenda yang tidak terkena ceceran darahnya". Ketika mimpinya itu diceritakan kepada Abu Jahl, ia berkata dengan nada sangat pongah karena merasa akan menang, "Kini ada lagi seorang nabi yang terlahir dari keturunan Muththalib". Dia mengatakan 'ada lagi' karena keluarga Muththalib dan Hasyim dianggap satu keluarga. Untuk menghilangkan kecemasan dan kemurungan mereka, Abu Jahl berbicara kepada mereka, "Demi tuhan, kita tak akan kembali sampai kita tiba di Badr. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari. Kita akan menyembelih unta² dan hewan ternak, menyantapnya, dan terus meminum khamr tanpa henti. Para penyanyi Arab akan menyanyi dan menari untuk kita semua. Dan seluruh orang Arab akan mendengar bahwa kita telah berperang dan mencapai kejayaan, dan mereka akan berdiri dengan hormat kepada kita selamanya. Majulah terus menuju Badr!"
Akhnas ibn Syariq pergi bersama Bani Zuhrah, sebagai sekutunya. Kini ia mengingatkan mereka semua agar mengacuhkan Abu Jahl. Maka, mereka kembali dari Juhfah ke Mekah. Thalib juga kembali bersama beberapa orang pengikutnya, karena mendapat ejekan dari kaum Quraisy yang lain, "Wahai putra Hasyim, kami sudah tahu, meskipun kalian berangkat bersama kami, tetapi hati kalian bersama Muhammad". Namun, 'Abbas memutuskan untuk tetap berangkat ke Badr bersama pasukan yg lain. Ia membawa serta tiga keponakannya, Abu Sufyan, Nawfal, keduanya putra Harits, dan 'Aqil, anak Abu Thalib.
Di balik bukit, agak ke sebelah timur laut, kaum muslim sedang membongkar kemah. Nabi tahu bahwa tidak boleh tidak, mereka mesti mencapai perairan di Badr sebelum para musuh tiba di sana. Maka, beliau memerintahkan untuk melakukannya secepat mungkin. Baru saja mereka mulai, hujan turun. Beliau menegaskan, itu adalah rahmat dari Allah, sebuah berkah dan restu bagi mereka. Hujan menyegarkan tubuh mereka, menghapus debu yang menempel pada tubuh mereka, memadatkan dan menghaluskan tanah pasir di lembah Yalyal yang sedang mereka lalui. Tapi di sisi lain hujan merepotkan para musuh yang sedang mendaki Bukit Aqanqal, di sisi lembah yang berlawanan dengan Badr. Sumber² air itu semuanya berada di lembah dekat kaum muslim. Nabi memerintahkan mereka untuk berhenti di sumur pertama yang mereka temukan. Tetapi, seorang Khazraj, Hubab ibn al-Mundzir menemui beliau dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah tempat kita berhenti sekarang ini telah difirmankan Allah kepadamu ataukah sekedar usulan strategi perang?" Nabi kemudian menjawab bahwa itu hanya kebijakan beliau, bukan firman Allah. Hubab pun mengusulkan, "Tempat ini kurang tepat untuk berhenti. Hai Rasulullah! Marilah kita terus maju hingga sampai di sebuah sumur besar yang terdekat dengan posisi musuh. Kita berhenti di sana, menutup sumur² yang ada di sekitarnya dan kita membangun waduk untuk kita. Dengan demikian, saat berperang, semua persediaan air hanya milik kita, sementara musuh tak bisa mendapatkan air." usul itu langsung disetujui Nabi, dan rencana Hubab itu segera dilaksanakan secara detail. Sumur² itu pun ditutup dan sebuah waduk dibangun, dan masing² pasukan mengisi penuh kantung airnya.
Sa'd ibn Mu'adz mendekati Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan kami membangun tempat perlindungan untukmu. Tambatkan unta² tunggangan di sampingnya. Kita berharap Allah memberkahi kemenangan. Namun, jika terjadi hal yang tidak kita inginkan, engkau dapat naik dan pergi bergabung dengan orang² yang kita tinggalkan di belakang. Kecintaan mereka –yang tidak turut berangkat bersamamu– hai Rasulullah, tidaklah kurang dibandingkan kecintaan kami kepadamu. Mereka tentu tak akan tinggal diam, jika mereka tahu, engkau berada dalam bahaya perang. Allah akan melindungimu melalui mereka yang akan memberikan nasihat yang tulus dan akan berjuang di sisimu." Nabi mendoakannya dan merestuinya. Tempat perlindungan itu pun dibuat dari batang pohon kurma.
Malam itu, Allah membuat kaum mukmin bisa tidur dengan nyenyak dan tenang, sehingga mereka bangun dengan segar bugar. Hari itu adalah hari Jumat, tanggal 17 Maret 623 M, yang bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, tahun ke-2 Hijriah. Begitu fajar menyingsing, tentara Quraisy bergerak maju dan mendaki bukit 'Aqanqal. Saat matahari telah naik, mereka mencapai puncak bukit. Ketika melihat kedatangan mereka dengan jumlah pasukan berkuda dan unta² yang menuruni lereng ke lembah Yalyal, menuju Badr, Nabi berdoa: "Ya Allah, itulah kaum Quraisy! Mereka datang dengan penuh kesombongan dan kekejaman, melawan-Mu dan memerangi Rasul-Mu. Ya Allah, berikan kami pertolongan seperti yang telah engkau janjikan. Ya Allah, hancurkan mereka pagi ini juga!"
Tentara Quraisy mendirikan kemah di kaki bukit. Dari situ dapat terlihat bahwa jumlah pasukan muslim jauh lebih sedikit dari yang mereka perkirakan. Mereka mengutus 'Umayr dari Jumah, dengan mengendarai kuda, untuk menghitung jumlah pasukan muslim itu dan melihat apakah mereka memiliki pasukan cadangan. Ia melaporkan bahwa tak ada tanda² lain kecuali yang telah mereka lihat di lembah seberang bukit. "Namun", kata 'Umayr, "kalian perlu ingat, wahai kaum Quraisy! Aku tidak yakin bahwa mereka akan terbunuh. Mungkin saja malah mereka dulu yang membunuh kalian. Jika mereka berhasil membunuh kalian sejumlah dengan mereka, maka kehendak baik apalagi yang tersisa?" 'Umayr memiliki reputasi atas kebijakannya di kalangan penduduk Mekah, dan ia menegaskan kembali kata²nya. Baru saja ia berkata demikian, Hakim dari Asad, keponakan Khadijah, mencuri kesempatan, pergi berjalan kaki melewati perkemahan hingga ia sampai pada kaum laki² dari 'Abd al-Syams. "Ayah Walid", katanya kepada 'Utbah, "engkau orang terkemuka di Quraisy, pemimpin yang mereka patuhi. Maukah engkau dikenang mereka selamanya?" "Bagaimana caranya?" kata 'Utbah. "Pimpinlah mereka untuk kembali", kata Hakim, "dan pertanggungjawabkan sebab terbunuhnya sekutumu, 'Amr". Maksud Hakim adalah 'Utbah dapat menepis salah satu alasan kuat untuk berperang dan membayar tebusan nyawa kepada kerabat orang yang telah terbunuh di Nakhlah itu, dimana saudaranya, 'Amir, datang ke kancah perang Badr dengan niat membalas dendam. 'Utbah setuju dan melaksanakan sarannya, namun ia mendesak Hakim agar berbicara sendiri kepada Abu Jahl yang tampaknya sangat menginginkan peperangan tetap berlangsung. Sementara itu, 'Utbah berkata kepada seluruh pasukan, "Wahai orang² Quraisy! Kalian tidak akan mendapat keuntungan apa² dari peperangan melawan Muhammad dan para sahabatnya. Jika kalian berhasil mengalahkannya, kalian akan dipandang jijik selamanya, karena kalian telah membunuh paman, sepupu dan keluarga kalian sendiri. Karena itu kembalilah dan tinggalkanlah Muhammad. Biarkan ia berurusan dengan orang Arab selain kalian. Bila mereka berhasil membunuhnya, berarti sesuai dengan harapan kalian; namun jika tidak, kalian akan dipandang telah menunjukkan sikap sabar kepadanya".
Tanpa ragu, 'Utbah segera mendekati 'Amir al-Hadrami, bermaksud membayar tebusan nyawa saudaranya itu, tetapi Abu Jahl ternyata telah mendahuluinya. Ia menuduh 'Utbah sebagai pengecut dan takut mati demi dirinya dan anaknya, Abu Hudzayfah, yg berada di dalam barisan musuh. Kemudian ia menoleh ke 'Amir dan mendesaknya untuk tidak melewatkan begitu saja kesempatan untuk membalas dendam atas kematian saudara laki²nya. "Bangkitlah!" katanya, "dan ingatlah janji kita semua dan kematian saudara² kita". 'Amir melompat dengan melepaskan bajunya dan ia mulai menangis, menjerit sekeras²nya, "Aduh 'Amr! Aduh 'Amr!" Maka, api perang pun dikobarkan, dan jiwa orang² itu dipenuhi kekerasan. Itu berarti telah menggagalkan 'Utbah atau siapa pun yang bermaksud menyuruh mereka kembali.
Kini mereka semua tengah asyik melakukan persiapan akhir untuk berperang melawan seorang laki² yang mereka tunggu² itu. Khawatir bahwa akan melarikan diri selama tidak ada di tempat, Suhayl membawa anaknya, Abd Allah, bersamanya ke Badr. Umayyah, Pemimpin Jumah, juga membawa anaknya Ali, yang telah dipaksa agar meninggalkan Islam. Tetapi berbeda dengan Ali yang masih ragu², 'Abd Allah telah mantap imannya. Ia segera kabur dari perkemahan, menuju ke balik bukit kecil yang terdekat. Ia berlari cepat, melewati dataran pasir menuju perkemahan kaum muslim dan langsung menemui Nabi. Kegembiraan terpancar dari wajah keduanya. Dengan bahagia, ia menemui juga ipar²nya, Abu Sabrah dan Abu Hudzayfah.
*#058#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment