Wednesday, February 12, 2020

Kisah Rosul bagian 41

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣1⃣ *PERSIAPAN-PERSIAPAN PERANG*
_______________________

_Telah diizinkan berperang bagi orang² yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya, dan sesungguhnya Allah, benar² Mahakuasa menolong mereka. (Yaitu) orang² yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, tak lain karena perkataan mereka, "Tuhan kami hanyalah Allah."_ (Q.S. 22: 39-40).

Nabi menerima wahyu di atas tak lama setelah kedatangannya di Madinah. Nabi juga tahu bahwa ayat itu lebih dari sekedar sebuah izin, tetapi sebuah perintah, dan kewajiban berperang ini telah ditekankan pada perjanjian dengan kaum Yahudi. Wahyu lain yang lebih dulu turun, _"Beri tangguhlah orang² kafir itu, beri tangguhlah mereka walaupun sebentar"_ (Q.S. 86:17). Namun, tiga kata yang terakhir merupakan suatu isyarat, dan kini Allah telah mengumumkan perang kepada kaum Quraisy. Sekarang Rasulullaah diperintah untuk menyerang mereka dengan segenap kekuatan dan menunjukkan kepada seluruh bangsa Arab bahwa mereka hanya akan selamat bila mematuhi Kehendak Ilahi (agama Islam). Dan beliau tidak ragu lagi untuk tidak berdamai dengan Quraisy, sebagaimana sikap mereka terhadap  Nabi dan para pengikutnya. Isyarat ini segera ditegaskan dengan ayat yg lain, _"Perangilah mereka sampai tak ada fitnah, dan agar semua agama itu semata² hanyalah bagi Allah"_ (Q.S. 8:39).

Pada saat itu tak ada lagi pertanyaan kecuali harus menyerang, Kaum Quraisy mudah diserang di kafilah mereka, khususnya pada musim panas, di bulan² awal musim panas, saat mereka paling aktif melakukan perdagangan dengan Syria, di mana posisi mereka sangat terbuka untuk diserang dari Madinah. Di musim gugur dan musim dingin ini, mereka mengirimkan sebagian besar kafilah mereka ke selatan, terutama ke Yaman dan Abyssinia.

Informasi yang diterima di Madinah tentang kafilah itu jarang yang tepat, dan besar kemungkinan berubah rencana pada menit² terakhir. Kafilah Mekah sama sekali terhindar dari serangan pertama dari Madinah, namun demikian kaum muslim berhasil mengikat perjanjian dengan kaum Badui di daerah² strategis di sepanjang pesisir Laut Merah.

Ketika Nabi sendiri berangkat, beliau menunjuk salah seorang sahabatnya untuk menggantikan posisi beliau selama tidak ada di Madinah, dan orang pertama yang mendapat kehormatan itu adalah kepala suku Khazraj, Sa'ad ibn 'Ubadah. Hal itu berlangsung selama 11 bulan setelah hijrah, sampai Nabi kemudian tidak turut dalam berbagai ekspedisi. Setiap kali tidak ikut ekspedisi, beliau akan menyerahkan bendera yang diikat di ujung sebatang tombak kepada panglimanya. Pada tahun pertama, Nabi hanya mengirimkan pasukan dari kaum Muhajirin. Namun, pada bulan september 623 M, terdengar kabar bahwa sebuah kafilah Mekah yang kaya raya akan kembali dari utara di bawah pimpinan Umayyah, kepala suku Jumah, bersama seratus pasukan. Umayyah selalu menjadi musuh utama Islam; sementara alasan lain untuk menyerang mereka adalah harta rampasan itu sendiri. Barang dagangan yang mereka bawa itu diceritakan dimuat oleh 2500 unta. Jumlah kaum Muhajirin yang ada di Madinah tidak umencapai seratus orang, tidak sepadan dengan pasukan Quraisy itu. Maka, Nabi mengirimkan dua ratus pasukan, separuh lebih berasal dari kaum Anshar. Sekali lagi berita itu kurang memadai dan ternyata kurang tepat. Tiga bulan setelah itu, mereka juga luput. Kafilah yang sangat kaya, dengan pengawalan yang kurang besar dibandingkan kafilah sebelumnya, dikabarkan lewat, dipimpin oleh Abu Sufyan, menuju Syria. Kabar itu datang terlambat. Setelah Nabi beserta pengikutnya mencapai 'Usyairah di lembah Yanbu', jalan terbuka menuju Laut Merah di sebelah barat daya Madinah, kafilah yang dimaksud telah lewat. Tetapi Abu Sufyan pasti akan segera kembali dari Syria, mungkin dengan muatan yang lebih banyak, dan dengan izin Allah mereka tak akan gagal mencegat kafilah tersebut.

Meskipun sejauh itu belum terjadi pertempuran, Quraisy selalu waspada terhadap bahaya musuh yang tak bisa dipungkiri ada di Yatsrib. Namun rupanya hal itu tidak berpengaruh terhadap perdagangan mereka di jalur selatan itu. Mereka segera dikecewakan, karena Nabi menerima kabar bahwa satu kafilah sedang dalam perjalanan dari Yaman, dan ia mengutus keponakannya, Abd Allah ibn Jahsy, bersama delapan orang Muhajirin untuk menunggu mereka di Nakhlah, antara Thaif dan Mekah. Saat itu bulan Rajab, salah satu bulan suci, dan Nabi tidak menyuruh mereka menyerang kafilah itu, melainkan hanya menghimpun informasi dan melaporkan hasilnya kepadanya. Tak pelak lagi, Nabi berpesan agar mereka hanya mengamati kekuatan penjagaan mereka, untuk mempersiapkan perlawanan terhadap mereka nanti.

Begitu kaum Muhajirin mencapai tujuan dan mendirikan kemah di sana, satu kafilah kecil Quraisy melewati mereka dan segera mendirikan kemah tak jauh dari posisi mereka, dan tidak sadar akan kehadiran mereka itu. Unta² ditambatkan dengan muatan yang penuh dengan anggur, kulit dan barang dagangan yang lain. 'Abd Allah dan teman²nya berada dalam dilema: Nabi hanya menyuruh mereka mengumpulkan informasi; tetapi beliau tidak melarang mereka bertempur, tidak pula menyebut mereka berada di bulan suci. Mereka bimbang, masihkah konvensi² sebelum Islam berlaku. Mereka juga teringat firman Allah, _"Diizinkan berperang bagi orang² yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya . . . yaitu orang² yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar"_ (Q.S. 22: 39). Mereka sedang berada dalam kondisi perang dengan kaum Quraisy, dan mereka setidaknya mengenal dua orang di antara anggota rombongan yang baru datang itu adalah laki² dari Makhzum, suku yang paling kejam terhadap Islam di antara suku² lain di Mekah. Dan kini adalah pagi terakhir bulan Rajab; jika matahari terbenam, mereka akan memasuki bulan Syakban, yang bukan lagi termasuk bulan suci. Namun, kendatipun tidak lagi dilindungi oleh kalender (bulan suci), tapi musuh mereka juga dilindungi oleh jarak: mereka hampir mencapai tanah suci. Setelah melampaui keragu-raguan yang sangat, mereka akhirnya menyerang kafilah itu. Anak panah pertama menewaskan seorang laki² dari Kindah, sekutu Bani 'Abd al-Syams, kemudian 'Utsman, laki² dari Makhzum, dan Hakam, seorang budak, menyerah dan ditawan, sedangkan Nawfal, saudara laki² 'Utsman, melarikan diri ke Mekah.

'Abd Allah kembali ke Madinah bersama tawanan dan seluruh unta yang dipenuhi muatan barang dagangan. Ia menyerahkan seperlima bagian untuk Nabi, dan sisanya untuk teman² dan dirinya sendiri. Tapi Nabi menolak dan tidak mau menerimanya sedikitpun. Beliau berkata, "Aku tidak menyuruhmu berperang di bulan suci". Mereka sadar bahwa siapa yang melakukannya mesti dihukum. Mereka dipersalahkan oleh saudara² mereka di Madinah karena melanggar kesucian bulan Rajab, sedangkan kaum Yahudi menganggap hal itu sebagai pertanda buruk bagi Nabi. Kaum Quraisy segera menyebarluaskan kabar bahwa Muhammad telah melanggar kesucian. Maka, turunlah firman Allah:

_Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, "Berperang di dalam bulan Haram itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah adalah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh"._ (Q.S. 2: 217)

Nabi menafsirkan bahwa ayat ini menegaskan larangan tradisional berperang di bulan suci, tetapi mengecualikan kasus khusus ini. Maka, Nabi membebaskan 'Abd Allah dan teman²nya dari rasa takut yang membebani mereka, dan beliau berkenan menerima seperlima bagian harta rampasan untuk kemaslahatan umat. Suku Makhzum mengirimkan tebusan untuk dua orang tawanan dari suku mereka, tetapi Hakam, sang budak, memilih untuk masuk Islam. Maka, 'Utsman pulang sendirian ke kaumnya.

Pada bulan Syakban yang sama, turun juga ayat tentang kewajiban menjalankan ibadah terpenting. Kata² pembukaannya merujuk pada keinginan kuat Nabi untuk menghadap ke arah kanan di saat salat. Di dalam masjid, wajah di hadapkan lurus ke mihrab. Dan di saat berada di tempat lain, Nabi dapat mengecek posisinya dengan melihat posisi matahari di siang hari dan posisi bulan di malam hari.

_Kami sering melihat wajahmu menghadap ke langit; dan kini Kami memalingkan wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya._ (Q.S. 2: 144)

Mihrab adalah sebuah sudut yang dibuat di sebelah selatan dinding masjid, menghadap ke arah Mekah, dan perubahan arah ini disambut gembira oleh Nabi dan para sahabatnya. Sejak itulah Ka'bah menjadi kiblat kaum muslim saat mendirikan salat dan juga ibadah² lainnya.

*#055#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment