Sunday, February 9, 2020

Kisah Rosul bagian 40

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣0⃣ *RUMAH TANGGA BARU*
_______________________

KETIKA masjid hampir selesai dibangun, Nabi meminta untuk dibuatkan dua bilik kecil yang menempel di dinding sebelah timur, satu untuk tinggal Sawdah, dan satunya lagi untuk 'A'isyah. Bangunan itu seluruhnya diselesaikan selama tujuh bulan, dan selama itu, Nabi tinggal bersama Abu Ayyub. Saat rumah Sawdah hampir rampung, beliau mengutus Zayd untuk Sawdah ke Madinah, bersama Umm Kultsum dan Fathimah. Abu Bakr juga mengirim pesan kepada anaknya, Abd Allah, agar membawa juga Umm Ruman, Asma', dan 'A'isyah. Pada saat yang sama, Zayd juga membawa istrinya Umm Ayman, dan anak laki²nya Usamah. Thalhah juga turut bersama mereka. Setelah menjual semua kekayaannya yang tak bergerak, kini ia hijrah. Tak lama setelah kedatangan rombongan tersebut, Abu Bakr menikahkan Asma' dengan Zubayr, yang selama beberapa bulan terakhir telah tinggal di Madinah bersama ibunya, Shafiyyah. Saudara perempuan Abu Bakr, Quraybah, tetap tinggal di Mekah untuk merawat ayah mereka, Abu Quhafah, yang telah tua dan buta. Tak seperti Quraybah, ayahnya belum masuk Islam.

Nabi memutuskan bahwa Zayd dapat mengambil istri kedua di samping Umm Ayman, yang usianya sebaya dengannya. Beliau meminta sepupunya, Abd Allah ibn Jahsy, untuk meminang saudara perempuannya yg cantik, Zaynab. Awalnya Zaynab menolak; ia mempunyai alasan untuk itu. Alasan yang ia kemukakan, bahwa dirinya adalah wanita Quraisy, kurang bisa diterima. Ibunya, Umaymah, adalah keturunan asli Quraisy, menikah dengan seorang lelaki Bani Asad; dan sangat berbeda dengan Zayd yang diadopsi ke dalam suku Quraisy, sementara orang tua kandungnya berasal dari Bani Kalb dan Bani Thayy, yang derajatnya lebih rendah dari Bani Asad. Namun, ketika Zaynab tahu bahwa Nabi sangat berharap agar ia mau menikah dengan Zayd, ia bersedia dan pernikahannya pun dilaksanakan. Pada saat yang sama, saudara perempuannya, Hamnah, dinikahkan dengan Mush'ab. Tak lama setelah itu, Umaymah datang ke Madinah dan mengucapkan syahadat kepada Nabi.

Nabi dan putri²nya kini tinggal bersama Sawdah di rumah barunya. Setelah kurang lebih satu bulan berlalu, diputuskan bahwa perkawinan beliau dengan 'A'isyah akan dilangsungkan. Saat itu 'A'isyah berusia 9 tahun, putri yang sangat cantik, melebihi kedua orang tuanya yang rupawan. Kaum Quraisy menyebut ayahnya '"Atiq", yang berarti "rupawan". Tentang ibunya, Nabi pernah berkata, "Siapa yang ingin tahu wajah bidadari surga, lihatlah Umm Ruman". Kepada 'A'isyah, Nabi sudah sangat dekat dan sayang, dan anak itu sudah terbiasa melihat Nabi setiap hari, kecuali bulan² terakhir setelah Nabi dan ayahnya hijrah ke Madinah, sementara ia dan ibunya masih tinggal di Mekah. Sejak masih sangat kecil, ia telah melihat ayah dan ibunya bersikap begitu mencintai dan jauh lebih menghormati Nabi daripada orang lain. Meskipun mereka tidak menerangkan sebabnya, namun 'A'isyah sudah mengerti dengan baik bahwa laki² itu adalah Rasulullah, karena ia biasa berbicara dengan malaikat Jibril, dan ia sangat istimewa dibandingkan semua laki² yang pernah ada karena ia pernah naik ke langit dan turun lagi ke bumi dalam peristiwa Isra' Mikraj. Beliau sering menceritakan peristiwa itu dan menggambarkan kesenangan dan kebahagiaan surga. Dengan mukjizat yang dimilikinya, cerita tentang kenikmatan surgawi itu tanpak begitu nyata. Ketika orang lain dikuasai suasana "panas", tangannya akan mendinginkan, "lebih dingin dari salju dan lebih harum dari minyak kesturi". Lagi pula, beliau tampak awet muda, seolah² akan hidup abadi. Kedua matanya tetap tajam, hitam rambut dan janggutnya masih mengkilap, dan tubuhnya selalu tegap seperti tubuh pemuda yang usianya setengah dari usia yang sebenarnya. Padahal, saat itu beliau telah menginjak usia ke 53, terhitung sejak Tahun Gajah.

Persiapan² kecil untuk resepsi pernikahan belum cukup, karena 'A'isyah tampaknya belum memahami peristiwa besar dan agung dalam hidupnya. Pada waktu ia harus meninggalkan rumahnya menuju tempat perhelatan, ia menyelinap keluar menuju lapangan untuk bermain dengan teman²nya. 'A'isyah bercerita: "Aku sedang bermain petak umpet dengan rambut panjangku yg lepas terurai, ketika mereka memanggilku pulang dan kemudian mendandaniku".

Abu Bakr telah membeli baju bergaris² merah yang sangat indah dari Bahrain. Baju itulah yang dikenakan 'A'isyah sebagai baju pengantin. Kemudian, ia diantar ibunya ke rumah baru dimana para wanita Anshar telah menunggu di depan pintu. Mereka menyambutnya dengan mengucapkan, "selamat berbahagia, semoga semua selalu baik² saja!" Lalu ia diantar ke Rasulullah. Beliau berdiri sambil tersenyum melihat mereka menyisir rambut 'A'isyah. Berbeda dengan pernikahan² beliau sebelumnya, kali ini tak disediakan hidangan, karena memang dilaksanakan sesederhana mungkin. Hanya semangkuk susu yang dipersiapkan. Nabi meminumnya dan kemudian diberikan kepada 'A'isyah. Pada mulanya, 'A'isyah dengan malu² menolak, namun setelah didesak Nabi, akhirnya ia meminumnya juga. Kemudian mangkuk susu itu diberikan kepada kakak perempuannya, Asma', yang menemani dan berdiri di sebelahnya. Asma' kemudian meminumnya seteguk, lalu diberikan kepada hadirin yang lain. Demikian seterusnya hingga mereka semua meminum susu dari mangkuk yang sama. Mereka kemudian pulang ke rumah masing²: tinggal sang pengantin pria dan wanita di rumah barunya itu.

Selama tiga tahun terakhir, hampir tiada hari tanpa kedatangan teman² 'A'isyah untuk mengajak bermain di halaman yang berdampingan dengan rumah orang tuanya. Kepindahan 'A'isyah ke rumah Nabi tidak mengubah kebiasaannya. Bedanya, kini teman²nya berkunjung ke rumahnya sendiri, bukan di rumah orang tuanya –banyak teman baru yang ia kenal sejak hijrah ke Madinah, juga beberapa teman lain yang orang tuanya sama² hijrah dari Mekah ke Madinah. "Suatu ketika", cerita 'A'isyah, "aku sedang bermain boneka²an dengan teman² perempuanku. Lalu Nabi masuk ke dalam rumah sehingga teman²ku cepat² keluar. Tapi beliau menyusul mereka keluar dan menyuruh mereka agar masuk lagi dan meneruskan permainan". Terkadang Nabi berkata, "Tetaplah di tempat", sebelum mereka sempat bergerak. Bahkan, kadang² Nabi juga turut bergabung dalam permainan kami, karena beliau sangat menyayangi anak² dan telah terbiasa dengan bermain² dengan putri²nya sendiri. Mereka bermain boneka²an dengan cerita yang berbeda². "Suatu kali", cerita 'A'isyah lagi, "Nabi masuk ke dalam rumah saat aku sedang bermain, dan kemudian beliau bertanya, 'Wahai 'A'isyah, permainan apa kali ini?' Aku menjawab, 'kuda²an Sulaiman', dan Nabi pun tertawa geli". Tapi, kadang² Nabi menutup diri dengan jubahnya, yang berarti beliau sedang tidak bisa diganggu.

'A'isyah juga memiliki sisi kehidupan yang serius. Daerah Yatsrib terkenal di seluruh Arabia sebagai daerah yang memiliki musim² tertentu, dengan wabah penyakit demam yang mematikan, terutama menyerang orang² yang belum terbiasa hidup di oasis itu. Nabi luput dari wabah, tetapi banyak pengikutnya yang terserang demam, termasuk Abu Bakr dan dua bekas budaknya, 'Amir dan Bilal, yang tinggal dengannya. Suatu pagi 'A'isyah menjenguk ayahnya dan sangat terkejut melihat tiga orang yang berbaring dalam keadaan sakit parah dan sangat lemah. "Wahai ayahku, apa yang terjadi padamu?" tanyanya. Ayahnya terlalu lemah dan parah untuk menjelaskan penyakitnya kepada anaknya yang berusia 9 tahun itu. Maka ia menjawabnya dengan dua baris puisi:

```Setiap pagi semua orang mendapat ucapan selamat dari seluruh keluarganya
Sementara kematian lebih dekat kepadanya ketimbang tali sepatunya sendiri.```

'A'isyah mengira, ayahnya tidak mengerti apa yang ia tanyakan sehingga ia mendekati 'Amir. 'Amir juga menjawab dengan kalimat² pendek, menyiratkan bahwa meski belum meninggal, ia merasa sudah sangat dekat kepada kematian dan ingin tahu bagaimana rasanya. Sedangkan Bilal hampir sembuh, namun badannya masih sangat lemah untuk melakukan sesuatu. Ia berbaring di depan rumah dan mendendangkan sebuah lagu:

```Duhai, bisakah aku tidur lagi malam ini
Di tengah tetumbuhan harum yang tumbuh di Mekah
Dan dapatkah aku meminum lagi air dari Majannah,
Dan menyaksikan Syamah dan Thafil```

'A'isyah kembali ke rumah dengan sangat cemas. "Mereka mengigau di luar kesadaran mereka, karena mereka menderita demam panas tinggi", kata 'A'isyah, Nabi agak tenang ketika mendengar kata² yg ditirukan dengan lengkap oleh 'A'isyah dan kagum dengan daya ingatnya, meskipun ia belum memahami benar kata² yang ditirukan itu. Maka, Nabi memohon kepada Allah, "Ya Allah, jadikanlah Madinah ini menjadi sebuah tempat yang nyaman bagi kami sebagaimana telah Kau ciptakan Mekah bagi kami sebelum ini. Dan karuniailah kami air dan biji²an yg tumbuh di dalamnya, dan jauhkanlah wabah penyakitnya sejauh Mahya'ah." Dan Allah mengabulkan doanya.

*#054#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment