🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣9⃣ *DAMAI DAN KONFLIK*
_______________________
NABI memerintahkan agar di halamannya yang baru itu dibangun sebuah masjid. Seperti di Quba', mereka segera bekerja membangunnya. Sebagian besar gedung itu dibangun dengan batu bata. Namun, di tengah dinding bagian utara, yaitu dinding Yerusalem, diletakkan batu² di tiap sisi tempat salat. Pohon² kurma di halaman di tebang dan batangnya digunakan sebagai pilar untuk menunjang atap yang terbuat dari dahan pohon kurma. Dan bagian terluas dari halaman itu dibiarkan terbuka.
Kaum muslimin Madinah diberi julukan oleh Nabi dengan _Anshar,_ yang berarti para penolong, sedangkan kaum muslim dari Quraisy dan suku² lain yabg meninggalkan rumah mereka dan berhijrah ke oasis itu, disebut _Muhajirin,_ artinya orang yang pindah. Semuanya terlibat dan bekerja bersama², termasuk Nabi sendiri. Saat bekerja, mereka mendendangkan dua syair yang salah satunya digubah pada waktu itu:
```Ya Tuhan! Tiada kebaikan melainkan kebaikan hari akhirat, Karenanya, bantulah kaum Anshar dan Muhajirin.```
Dan terkadang mereka melantunkan:
```Tidak ada kehidupan di sana kecuali kehidupan di akhirat, limpahkanlah rahmat-Mu, ya Allah, kepada kaum Anshar dan Muhajirin.```
Diharapkan kedua kelompok ini dapat diperkuat dengan kelompok ketiga. Nabi kini membuat sebuah perjanjian yang saling menguntungkan antara pengikutnya dengan kaum Yahudi di Madinah. Beliau mengumpulkan mereka dalam satu komunitas orang² beriman, namun menoleransi berbagai perbedaan antar kedua agama itu. Kaum muslim dan Yahudi memiliki status yang sama. Jika seorang Yahudi bersalah, maka ia harus diluruskan baik oleh muslim maupun Yahudi. Demikian pula sebaliknya. Ketika berperang melawan kaum musyrik, mereka harus bersatu padu; untuk perdamaian, baik Yahudi maupun Muslim tidak dibeda²kan, melainkan perdamaian untuk semua. Dalam hal perbedaan pandangan, perselisihan ataupun kontroversi, harus dikembalikan kepada Allah melalui Rasul-Nya. Namun, tidak ada pernyataan terbuka bahwa Yahudi harus mengakui secara resmi bahwa Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah, meskipun dalam seluruh dokumen beliau dinyatakan sebagai nabi atau rasul.
Kaum Yahudi menerima perjanjian ini karena alasan politis. Sejauh ini, Nabi telah menjadi orang yang paling berkuasa di Madinah dan kekuasaannya tampaknya akan meningkat. Mereka tidak punya pilihan selain menerimanya. Tetapi, masih sedikit di antara mereka yang mau menerima bahwa Tuhan mengutus seorang nabi yang bukan orang Yahudi. Mula² dari luar mereka tampak ramah, lain lagi dengan apa yang dikatakan di kalangan mereka sendiri, keunggulan yang sangat besar dan tak tertandingi sebagai umat pilihan di atas umat lainnya. Namun, meskipun keraguan mereka terhadap agama baru ini umumnya tersembunyi, tetapi mereka selalu siap bersekutu dengan siapapun dengan orang Arab yang ragu tentang sumber wahyu Ilahi itu.
Islam terus menyebar pesat di seluruh penjuru suku 'Aws dan Khazraj. Di antara kaum beriman, berharap pada suatu hari, berkat perjanjian dengan Yahudi, masyarakat Madinah menjadi rukun dan harmonis sepenuhnya. Namun, wahyu kini memperingatkan adanya potensi konflik yang tersembunyi. Pada saat inilah surat Alquran terpanjang mulai diturunkan, _al-Baqarah_ (sapi betina), yang diletakkan pada permulaan kitab, sesudah ketujuh ayat _al-Fatihah_ (Pembukaan). Surah itu diawali dengan sebuah definisi petunjuk yang benar:
_Alif-Lam-Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung._ (Q.S. 2: 1-5).
Kemudian, setelah menyebutkan orang² kafir yang buta dan tuli terhadap kebenaran, dinyatakan pula kelompok orang ketiga:
_Dan di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!" Mereka menjawab, "Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?" Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok."_
Di kalangan 'Aws dan Khazraj, terdapat orang² yang mengambang, ragu, dan munafik dalam tingkat keraguan berbeda². Setan² mereka, sebagai inspirator kejahatan, adalah kaum lelaki dan perempuan kafir yang melakukan apa saja untuk menanamkan bibit keraguan. Nabi diingatkan tentang persoalan yang tidak beliau temui di Mekah. Di sana (Mekah) ketulusan para pemeluk islam tidak pernah diragukan. Mereka berpindah agama semata² karena motivasi spiritual, karena mereka tidak sedikitpun mendapatkan keuntungan duniawi, bahkan pada beberapa kasus justru merugikan. Namun, kini ada motivasi keduniaan untuk memeluk agama baru ini, bahkan cenderung meningkat. Hari² tanpa orang munafik di antara kaum muslim telah berakhir untuk selamanya.
Beberapa di antara setan² yang di maksud adalah orang Yahudi. Wahyu yg sama menyatakan:
_Sebagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri._ (Q.S. 2: 109)
Kaum Yahudi sangat bersemangat menanti kedatangan nabi yang telah diharapkan, bukan karena pencerahan spiritual, melainkan karena mereka berharap dapat merebut kembali supremasi mereka di Yatsrib. Mereka kini terguncang menyaksikan orang yang mendakwahkan kebenaran tentang Tuhan yang satu itu ternyata dari keturunan Ismail dan bukan Ishaq. Lagipula, keberhasilannya nyata² didukung oleh Kekuatan Tuhan. Mereka khawatir dia adalah nabi yang dijanjikan, karena dia di utus kepada kaum yang mereka benci. Mereka berharap agar dia bukan seorang nabi. Mereka berusaha memengaruhi diri mereka sendiri dan orang lain bahwa dia bukanlah "Utusan Langit" yg sebenarnya. "Muhammad telah mengaku, berita² yang diterimanya berasal dari langit, padahal dia tidak tahu dimana untanya berada", kata seorang Yahudi pada suatu hari, ketika salah satu unta Nabi terlepas. "Aku hanya tahu apa yang Allah beritahukan kepadaku", kata Nabi mendengar hal itu, "dan Dia menunjukkan kepadaku bahwa unta itu berada di lembah sempit yang kau akan kuberitahu, ikatannya tersangkut di sebuah pohon. Beberapa orang Anshar pergi dan menemukan unta itu di tempat yang dikatakan Nabi tersebut.
Mula², banyak kaum Yahudi menyambut apa yang tampak menjadi akhir semua bahaya pecahnya perang sipil di Madinah. Meskipun demikian, mereka memperoleh keuntungan dari bahaya tersebut, karena perpecahan di kalangan orang Arab akan meningkatkan status orang non-Arab, yang akan sangat disukai untuk dijadikan sekutu. Namun, persatuan 'Aws dan Khazraj membuat persekutuan lama tak lagi berarti, dan pada saat yang sama, persatuan itu memberi kekuatan yang hebat bagi kaum Arab Yatsrib. Perjanjian kaum Yahudi dengan Nabi memungkinkan mereka untuk berbagi kekuatan tersebut. Tapi itu juga berarti mendatangkan kewajiban atas kemungkinan berperang melawan kekuatan Arab yang jauh lebih besar dari Madinah. Adapula kemungkinan buruk bagi mereka dari aturan baru yang belum dicoba, sementara aturan lama telah diketahui dan tata caranya sudah sangat disukai, sehingga mereka ingin segera kembali kepada aturan lama itu. Salah seorang politisi Yahudi yang sudah lanjut usia dari Bani Qaynuqa, seorang ahli seni mengeksploitasi perpecahan antara suku² arab, merasa frustasi dengan persahabatan baru antara 'Aws dan Khazraj itu. Ia kemudian menyuruh seorang pemuda bersuara merdu dari sukunya untuk pergi dan duduk di antara orang Anshar saat mereka berkumpul. Pemuda itu disuruh membacakan beberapa bait syair yang digubah penyair yang berasal dari kedua suku itu, sebelum dan sesudah Bu'ats –perang sipil terakhir– syair yang menyulut pemusuhan, membanggakan keahlian perang, ratapan bagi yang gugur, dan ancaman balas dendam. Pemuda itu melakukan seperti yang diperintahkan. Ia segera menyedot perhatian dari semua yang hadir di sana, membawa mereka ke masa lalu. Dengan penuh semangat, orang² 'Aws memberi tepukan atas syair tentang 'Aws, dan orang² Khazraj pun melakukan hal yang sama. Kedua pihak mulai berdebat satu sama lain, memuji diri sendiri, meneriakkan ejekan dan ancaman, sampai akhirnya terdengar teriakan, "Perang! Perang!" Mereka pun keluar menuju jalur lava, mengarah pada pertempuran. Ketika berita itu sampai kepada Nabi, beliau mengumpulkan semua orang Muhajirin yang ada di sekitarnya agar segera keluar ke tempat kedua suku tuan rumah yang siap untuk bertempur. "Hai Kaum Muslim", seru beliau, dan kemudian menyebutkan dua kali nama Allah, _Allah! Allah!_ Beliau melanjutkan, "Akankah kalian melakukan hal yang terjadi pada masa jahiliah, sedangkan aku beserta kalian. Allah telah menuntun kalian kepada Islam, dan meninggikan kalian dengannya, menguatkan kalian untuk menghancurkan keberhalaan, menyelamatkan kalian dari kekafiran, dan menyatukan hati kalian?" Mereka seketika menyadari kekeliruan mereka, menangis dan saling berpelukan, lantas kembali bersama Nabi ke kota, memerhatikan dan taat pada ucapan²nya.
Untuk lebih mempersatukan kaum mukmin, Nabi kini membuat sebuah perjanjian persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Maka, setiap orang Anshar akan memiliki saudara seorang Muhajirin yang lebih dekat kepadanya daripada orang Anshar sendiri, dan setiap Muhajiirin akan memiliki saudara seorang Anshar yang lebih dekat kepadanya daripada orang Muhajirin sendiri. Namun, diri dan keluarganya dikecualikan. Karena akan sangat tidak adil jika beliau memilih salah seorang Anshar sebagai saudaranya, sedang yang lainnya tidak. Karenanya, beliau mengangkat tangan 'Ali dan berkata, "Inilah saudaraku!" dan beliau menjadikan Hamzah sebagai saudara Zayd.
Di antara tokoh musuh Islam adalah dua sepupu, anak dua perempuan bersaudara, namun ayah mereka berasal dari suku 'Aws dan suku Khazraj, keduanya memiliki pengaruh besar dalam sukunya. Orang itu dari Awz, Abu Amir, terkadang dipanggil "Sang Rahib" karena ia telah lama menzuhudkan diri dan dikenal mengenakan pakaian dari rambut. Ia mengaku penganut agama Ibrahim dan mendapatkan pengakuan otoritas keagamaan di kalangan penduduk Yatsrib. Begitu Nabi datang, ia langsung menemui Nabi, menanyakan perihal agama baru itu. Dan dijawab dengan ungkapan wahyu yang berulang kali mendefinisikannya sebagai _agama Ibrahim._ (Q.S. 2: 135). "Tapi, aku beragama Ibrahim" kata Abu Amir, dan bersikeras menolak, bahka ia menuduh Nabi telah memalsukan agama Ibrahim. "Aku tidak memalsukannya" kata Nabi, "melainkan aku memurnikannya". "Mudah²an Tuhan membiarkan pembohong mati terasing dalam kesendirian!" kata Abu Amir. "Baiklah" kata Nabi. "Semoga Tuhan melakukannya bagi dia yang berbohong!".
Abu Amir segera melihat bahwa otoritasnya hilang drastis; dan bahkan jauh lebih menyakitkannya adalah ketaatan anaknya kepada Nabi. Tidak lama sebelum memutuskan untuk membawa sisa² pengikutnya –semuanya sekitar sepuluh orang– ke Mekah, tampaknya ia tidak menyadari bahwa ini adalah awal kutukan pengasingan bagi dirinya sendiri.
Sepupunya dari Khazraj, 'Abd Allah ibn Ubayy, juga merasa berputus asa dengan kedatangan Nabi dan merasa kehilangan, bukan kekuasaan spiritual melainkan kekuasaan sebagai pemimpin di Yatsrib. Ia juga merasa kesal melihat anaknya sendiri, 'Abd Allah, telah ditundukkan Nabi, begitu pula putrinya, Jamilah. Namun, tidak seperti Abu Amir, Ibn Ubayy siap menunggu, mengira bahwa cepat atau lambat pengaruh pendatang baru ini akan berakhir. Ibn Ubayy saat itu berusaha untuk tidak percaya semampu mungkin, namun terkadang ia menghianati perasaannya sendiri.
Suatu ketika, saat pemimpin Khazraj yang lain, Sa'd ibn 'Ubadah, sedang sakit, Nabi datang menjenguknya. Semua orang kaya di oasis itu memiliki rumah yang dibangun seperti benteng. Dalam perjalanannya beliau melewati Muzaham, benteng milik Ibn Ubayy yang sedang duduk di bawah naungan dinding² dikelilingi beberapa orang dari kabilahnya dan orang Khazraj yang lain. Untuk menunjukkan sikap sopan kepada pemimpin ini, Nabi turun dari keledainya, memberi salam kepadanya, duduk sebentar menemaninya, membacakan Alquran, dan mengajaknya masuk Islam. Setelah beliau selesai menyampaikan apa yang perlu dikatakan, Ibn Ubayy menoleh kepadanya dan berkata, "Tidak ada yang lebih baik dari percakapanmu, dan itu benar. Duduklah di rumah, di rumahmu sendiri. Bagi siapa yang datang kepadamu, maka ceramahilah ia; namun bagi yang tidak datang, jangan bebankan ia dengan ceramahmu itu. Jangan pula masuk ke pertemuan yang tidak disukainya". "Tidak", kata sebuah suara, "datanglah kepada kami dengan ajaran itu, dan kunjungi kami di pertemuan kami, di perkampungan kami, dan di rumah kami, karena dengan itu kami cinta, dan dengannya Tuhan merahmati Kami, dan kepada-Nya kami diberi petunjuk". Orang yang mengatakan itu adalah 'Abd ibn Rawahah, orang yang setiap kali diharapkan Ibn Ubayy untuk dapat mendukungnya. Tokoh yang kecewa ini kini dengan lirih melantunkan syair yang berisi: ketika seseorang dikhianati oleh temannya, yang satu wajib mengatasinya. Ibn Ubayy tahu, tidak berguna untuk bertahan. Sementara itu, Nabi pergi dengan sangat sedih, meskipun mendapat penghormatan dari 'Abd Allah; dan ketika beliau masuk ke rumah orang yang sedang sakit itu, penolakan yg beliau terima masih tersirat di wajahnya. Sa'd segera menanyakan, apa yang menyusahkan beliau. Ketika ia di beri tahu tentang kekafiran Ibn Ubayy yang tak tergoyahkan, ia berkata, "Berlakulah baik kepadanya, hai Rasulullah! Sebab, ketika Allah membawamu kepada kami, saat itu pula kami mempersembahkan mahkota yang akan dikenakannya; dan ia melihat engkau telah mencuri kerajaannya".
Nabi tidak pernah melupakan ucapan tersebut. sementara Ibn Ubayy segera melihat pengaruh dirinya, yang suatu saat begitu besar, telah menurun drastis. Jika ia tidak masuk Islam, pengaruhnya akan hilang sama sekali. Di sisi lain, ia tahu, jika dirinya menerima Islam secara resmi, maka akan mengukuhkan kekuasaannya, karena bangsa Arab tidak mau merusak ikatan persekutuan lama mereka tanpa ada alasan besar. Tak lama kemudian, ia memutuskan untuk masuk Islam. Namun, meskipun secara resmi ia berbaiat kepada Nabi dan sering menghadiri salat, kaum mukmin tidak pernah memercayainya. Ada beberapa orang yang mereka ragukan juga, tapi Ibn Ubayy berbeda dari mayoritas para mualaf yang tidak tulus dan tidak antusias, mengingat pengaruhnya yang luas, yang membuatnya menjadi lebih berbahaya.
Selama bulan² pertama, ketika masjid masih sedang dibangun, masyarakat merasa kehilangan besar atas kematian As'ad, orang madinah pertama yang berbaiat kepada Nabi. Dialah yang menjadi tuan rumah Mush'ab, dan yang bekerja begitu dekat dengannya sepanjang tahun antara dua 'Aqabah. Nabi berkata, "Kaum munafik Yahudi dan arab akan mengatakan tentang aku, 'jika ia benar seorang nabi, temannya tidak akan mati'. Sungguh kehendakku tidak dapat membantu diriku atau sahabatku melawan kehendak Allah".
Pertemuan kedua antar Salman dan Nabi mungkin terjadi pada saat pemakaman As'ad, karena pada beberapa tahun kemudian, Salman menuturkan sendiri pertemuan ini kepada anak 'Abbas: "Aku datang kepada Rasulullah ketika beliau berada di Baqi' al-Gharqad, sedang mengiringi jenazah salah seorang sahabatnya". Salman tahu bahwa beliau akan hadir disana, dan pada waktu itu, ia pun berniat bolos kerja agar sampai ke kuburan setelah pemakaman, ketika Nabi masih duduk di sana bersama beberapa orang Muhajirin dan Anshar. "Kuucapkan salam kepadanya", tutur salman, "dan kemudian aku berkeliling di belakangnya, berharap dapat melihat tanda kenabian itu. Ternyata beliau tahu apa yang kuinginkan. Karenanya beliau membuka jubahnya dan melepaskan dari punggungnya. Akupun melihat tanda kenabian itu seperti yang yelah digambarkan guruku kepadaku. Aku memeluknya, menciuminya, dan akupun menangis. Kemudian Rasulullah mengajakku untuk bergeser. Akupun duduk di depan beliau dan menceritakan perihalku, dan beliau senang karena para sahabatnya dapat mendengarkan ceritaku kemudian aku masuk Islam". Meskipun demikian, Salman terus bekerja sebagai budak di antara Bani Qurayzhah. Setelah empat tahun kemudian, ia baru dapat berhubungan dengan kaum muslim lainnya.
Seorang ahli kitab lain yang memeluk Islam pada waktu itu adalah seorang rabi dari bani Qaynuqa, Husayn ibn Sallam. Ia datang kepada Nabi secara sembunyi sembunyi dan bersyahadat kepadanya. Nabi memberinya nama Abd Allah. Sebelum keislamannya diketahui, mualaf baru ini menyarankan agar kaumnya ditanya tentang kedudukannya diantara mereka. Nabi menyembunyikan Abd Allah di rumahnya dan bertanya kepada beberapa tokoh dari Qaynuqa. "Dia adalah pemimpin kami", ujar mereka ketika menjawab pertanyaan, "dan putra pemimpin kami: ia adalah rabi dan guru kami". Abd Allah kemudian keluar menemui mereka dan berkata, "Hai kaum Yahudi! Takutlah kepada Allah dan terimalah apa yang telah diutus-Nya kepadamu, karena kalian sudah tahu, orang ini adalah Rasul Allah". Setelah itu, ia mengumumkan keislaman dirinya dan juga keluarganya. Tetapi, kaumnya mengabaikan perkataannya dan menolak kedudukan mulianya di tengah mereka yang sebelumnya mereka akui.
Islam kini telah mantap di Yatsrib. wahyu mengajarkan kewajiban mengeluarkan zakat dan berpuasa di bulan Ramadhan, serta berbagai aturan secara umum mengenai sesuatu yang halal dan haram. Salat lima kali sehari secara teratur didirikan secara berjamaah. Ketika waktu salat tiba, masyarakat akan berkumpul di tempat masjid yang sedang dibangun. Masing² menentukan waktu dengan melihat posisi matahari di langit, atau lewat tanda awal terbitnya matahari di ufuk timur, atau tenggelamnya di ufuk barat. Namun, pendapat mereka dapat berbeda². maka, Nabi merasa perlu adanya suatu cara memanggil masyarakat untuk salat ketika waktunya tiba. Pada mulanya, beliau berpikir untuk menunjuk seseorang untuk meniupkan terompet seperti yang dilakukan kaum Yahudi, tetapi beliau kemudian memutuskan untuk menggunakan genta yang terbuat dari kayu, _naqus,_ seperti yang dilakukan umat Kristen di Timur pada waktu itu. Maka, dua lembar kayu dibentuk genta untuk kegunaan itu.
Namun, genta itu akhirnya tidak pernah digunakan; karena pada suatu malam, seorang Khazraj, Abd Allah ibn Zayd, yang ikut dalam Aqabah kedua, bermimpi. Keesokan harinya ia menceritakan mimpinya kepada Nabi:
Dalam mimpi itu ada seseorang lewat di depanku mengenakan dua baju berwarna hijau dan ia membawa _naqus._ lalu aku bertanya kepadanya, "Hai hamba Allah! Maukah engkau menjual _naqus_itu kepadaku?" "Apa yang hendak kau lakukan dengannya?" ujar lelaki itu. "Ia akan kami gunakan untuk memanggil orang² yg salat", jawabku. " Maukah engkau bila kutunjukkan satu cara yang lebih baik?" tanyanya. "Cara apa itu?" tanyaku, dan ia menjawab, "Hendaknya engkau mengucapkan, 'Allah Maha Besar, Allahu Akbar'"._ Lelaki berbaju hijau itu mengulangi takbir sebanyak empat kali, kemudian diikuti dengan masing² dua kali ucapan, _'Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah; Aku bersaksi Muhammad adalah Utusan Allah; Mari salat; Marilah menuju kemenangan; Allah Maha Besar'_; dan kemudian sekali lagi, _'tidak ada tuhan selain Allah.'"_
Nabi menegaskan bahwa mimpi Abd Allah itu benar. Maka, beliau menyuruh dia pergi ke Bilal –sahabat yang memiliki suara merdu– agar ucapan yang didengar dalam mimpinya itu diajarkan kepadanya. Rumah tertinggi di sekitar masjid adalah milik wanita Bani Najjar. Sebelum subuh, Bilal akan datang ke sana dan duduk di atap rumah itu, menunggu fajar menyingsing. Ketika semburat cahaya pagi pertama terbit di ufuk timur, ia akan mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa, "Ya Allah, aku memuji-Mu dan aku memohon bantuan-Mu terhadap Quraisy, agar mereka mau menerima agama-Mu". Kemudian, ia berdiri dan menyerukan panggilan salat (azan).
*#053#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment