Saturday, February 29, 2020

Kisah Rasul bagian 50

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
5⃣0⃣ *BERBAGAI PERSIAPAN PERANG*
_______________________

PENDUDUK Mekah sangat merasa kehilangan rute perjalanan kafilah mereka di jalur Laut Merah. Dan sialnya, sumur² yang mereka miliki di dataran Najd jaraknya saling berjauhan. Tetapi di musim panas,  kendala tersebut dapat diatasi dengan cara menambah jumlah unta pengangkut air. Mereka memutuskan untuk mengutus satu kafilah besar ke Irak yang sebagian besar membawa kepingan perak dan bejana perak yang berharga seratus ribu dirham. Kafilah ini dipimpin oleh Shafwan. Beberapa orang Yahudi Madinah mendapatkan informasi rahasia tentang kafilah tersebut, dan seorang Anshar mendengar pembicaraan mereka. Nabi yang sangat mengenal bakat kepemimpinan Zayd, mengutusnya sebagai pemimpin seratus pasukan berkuda untuk mencegat kafilah tersebut di Qaradah, sebuah tempat utama persediaan air sepanjang rute perjalanan itu. Kekuatan pasukan tersebut relatif kecil, namun Zayd pandai mengatur strategi penyerangan yang efektif. Serangan yang dilakukan secara keras, tiba² dan tak terduga berhasil menghalau kafilah Shafwan dan pengikutnya, sedangkan Zayd beserta pasukannya kembali ke Madinah dengan kemenangan; mengawal unta² orang Mekah yang dimuati berbagai barang berharga, seperti perak dan barang dagangan yang lain, serta beberapa orang tawanan.

Bencana Qaradah itu meningkatkan dan mempercepat berbagai persiapan perang di Mekah untuk melancarkan serangan hebat ke Madinah, yang telah dilakukan sejak kekalahan mereka di Perang Badr.

Bulan suci Rajab telah lewat dan tibalah musim dingin bertepatan dengan tahun baru 625 M. Pada bulan berikutnya perkawinan Hafshah dilangsungkan. Kemudian tibalah bulan Ramadan, bulan puasa yang disambut gembira oleh kaum Muslim; dan Fathimah melahirkan seorang anak. Nabi melantunkan azan di telinga bayi yang baru lahir itu dan menamainya Hasan, yg berarti "baik". Saat itu, bulan sedang purnama. Satu-dua hari sesudah itu adalah hari ulang tahun kemenangan Perang Badr. Di hari terakhir bulan tersebut, Nabi menerima sepucuk surat yang diantar oleh seorang penunggang kuda yang menempuh perjalanan dari Mekah ke Madinah selama tiga hari. Surat itu berasal dari paman beliau, 'Abbas, yang mengingatkan bahwa tiga ribu tentara siap menyerang Madinah. Tujuh ratus pasukan bermantel baja, ditambah dua ratus pasukan berkuda, dan beratus unta pengangkut barang; beberapa diantaranya dilengkapi Hawdah bagi kaum wanita.

Waktu surat tersebut sampai, pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan. Abu Sufyan, pemimpin pasukan, membawa serta istri keduanya, Hindun. Shafwan juga membawa dua istri, sedang pimpinan yang lain membawa satu istri. Jubayr, anak Muth'im tetap tinggal di Mekah tetapi mengutus seorang budak Abyssinia, Wahsyi yang ahli melempar tombak seperti warga negerinya yang lain. Wahsyi terkenal sebagai pelempar tombak yang jitu. Jubayr berpesan kepadanya, "Jika engkau berhasil membunuh Hamzah, paman Muhammad, sebagai wujud balas dendamku, engkau akan ku bebaskan". Hindun mendengar itu dan setiap kali dia melewati Wahsyi, dia berkata, "Lakukanlah , hai Bapak kegelapan! Balaskan dendam itu dan puaskanlah!" Hindun telah berhasil meyakinkan Wahsyi bahwa ia –sebagaimana tuannya– haus balas dendam dan akan mengupah siapapun yang bisa melaksanakannya.

Sebelum musuh tiba, kaum Muhajirin dan Anshar masih memiliki waktu seminggu. Mereka membangun benteng² untuk penduduk madinah yang tinggal di bagian luar oasis itu bersama hewan ternak mereka. Semua itu dilakukan sampai tak ada seekorpun kuda, unta, sapi, kambing dan domba yang berada di luar tembok. Terdengar kabar bahwa tentara Quraisy melintasi rute sebelah barat dekat pesisir. Pada saatnya, mereka akan berbelok ke arah pedalaman dan beristirahat kira² lima mil di sebelah barat Madinah. Kemudian mereka bergerak ke timur laut sekitar beberapa mil dan berkemah di lahan tanah pertanian kosong di dataran kaki bukit uhud, di mana Madinah dapat terlihat dari arah utara.

Nabi mengirimkan mata², yang keesokan harinya pulang melaporkan jumlah musuh tepat seperti yang diceritakan di dalam surat itu. Pasukan Quraisy juga menyertakan seratus orang Tsaqif, kontingen Kinanah, serta sekutu lainnya. Tiga ribu unta dan dua ratus kuda memakan rumput dan gandum muda di sebelah utara hingga tak sehelai daunpun yang tersisa. Para tentara tersebut belum menunjukkan tanda² akan melakukan serangan. Malam itu, kota dijaga ketat. Dua Sa'd dari 'Aws dan Khazraj –Ibn Mu'adz dan Ibn Ubadah– ditugaskan untuk berjaga² di luar pintu Nabi, bersama Usayd dan beberapa pengawal kuat yang lain.

Nabi sendiri, seperti biasanya, tidak bersenjata. Namun, beliau bermimpi mengenakan suatu mantel kebal bersenjata tajam dan menunggang seekor biri². Pedang berada di genggamannya, tapi tampak bengkok. Beliau juga menyaksikan sapi² miliknya jatuh bergelimpangan menjadi korban di depan matanya.

Esok paginya, Nabi menceritakan mimpinya kepada para sahabatnya. Mimpi itu diartikan: "Pakaian kebal senjata adalah Madinah, dan pedang bengkok adalah pukulan yg dihantamkan pada diriku sendiri, sapi² yang menjadi korban adalah sahabat²ku yang akan terbunuh, dan biri² yang kutunggangi adalah pemimpin mereka yang akan kita bunuh, insya Allah".

Pilihan pertama Nabi, adalah tidak keluar kota dan tetap bertahan di dalam tembok² itu. Meskipun beliau berharap mendapat dukungan, tapi hal itu bukan suatu kepastian. Maka, beliau mengonsultasikan pada yang lain, apakah mereka akan bergerak keluar kota atau tidak. Ibn Ubayy memberikan usul pertama kali, "Kota kita adalah laksana perawan yang tak pernah bersalah kepada kita. Meski dengan resiko kerugian yang sangat besar, kita harus keluar dari kota ini untuk menyerang musuh; dan tak seorangpun memasukinya untuk menyerang kita, melainkan merekalah yang akan mengalami kerugian. Karena itu wahai Rasulullah, izinkan mereka keluar. Kemalangan akan menjadi nasib buruk bagi mereka apabila mereka tetap tinggal di sini, sehingga kelak, jika mereka kembali ke daerahnya akan merasa frustasi dan patah semangat karena tidak berhasil dengan baik".

Sebagian besar sahabat senior Muhajirin dan Anshar cenderung kepada pendapat Ubayy. Maka Nabi berkata, "Tinggallah di Madinah dan tempatkan kaum wanita dan anak² di dalam benteng!" Baru saja beliau berkata, banyak pemuda terbakar semangatnya untuk segera keluar kota menyongsong musuh. "Wahai Rasulullah", kata seseorang diantara mereka, "pimpinlah kami untuk menyerang musuh, agar kita tidak dianggap pengecut atau lemah!" Kata² itu disambut dengan gumam setuju dari segenap yang hadir di pertemuan itu. Mereka yang lain bersuara hampir sama dengan menambah alasan: sikap pasif dan kegagalan mereka mempertahankan panen yang telah rusak membuat orang² Quraisy makin pongah untuk melawan mereka di masa datang, kecuali suku Najd. Hamzah, Sa'd ibn Ubadah, dan lain²nya yang lebih berpengalaman mulai condong kepada pendapat mereka. "Di Badr", kata salah seorang dari mereka, "meskipun kita hanya berkekuatan tiga ratus orang, Allah memberikan kemenangan kepada kita. Kini kita lebih banyak dan mengharapkan restu Allah untuk itu, dan Allah telah menempatkan mereka tepat di depan pintu rumah kita". Kemudian salah seorang tetua dari 'Aws, Khaytsamah, tampil berdiri untuk berkata dan mengemukakkan berbagai argumen agar tidak bersikap defensif atau bertahan saja. Kemudian ia banyak berbicara tentang pernyataan pribadi, "Anak Sa'd adalah salah seorang muslim yang terbunuh di Perang Badr. Tadi malam, dalam mimpiku aku melihat anakku. Penampilannya sangat cakap, dan aku melihatnya dikitari oleh puji²an, di tengah kebun buah²an dan sungai² surgawi. Dan ia berkata, 'Datanglah kepada kami dan menjadi teman kami di sini. Semua yangg dijanjikan Allah adalah benar semata'. Aku sudah tua dan mendambakan  pertemuan dengan Allah, maka doakanlah aku, hai Rasulullah, semoga Allah menghadiahkan aku kesyahidan dan menjadi teman Sa'd di surga!" Nabi pun memimpin doa untuk Khaytsamah, tentu dalam suasana yang sangat hening. Kemudian kaum muslim yang lain berdiri untuk berbicara. Kali ini adalah seorang Khazraj, Malik ibn Sinan. "Hai Rasulullah, di hadapan kita ada satu dari dua kebaikan: kemenangan atas musuh sesuai dengan yang kita dambakan atau kesyahidan. Aku tak peduli mana yang akan terjadi, sebab keduanya sama² baik".

Sekarang sudah jelas, mereka menentang untuk tetap tinggal di dalam benteng kota, bukan hanya dari pendapat perorangan, tapi dari kesepakatan umum yang diterima oleh mayoritas kaum muslim. Nabi pun akhirnya memutuskan untuk menyerang. Di tengah hari, mereka berkumpul untuk salat jumat, dan Nabi berkhotbah tentang jihad. Beliau mengingatkan bahwa kemenangan hanya akan diperoleh bila mereka tetap tabah dan sabar. Kemudian, beliau meminta kaum muslim agar siap menyongsong musuh.

Seusai salat jumat, dua orang telah menunggu di belakang, ingin berbicara dengan Nabi. Masing² memiliki keputusan penting untuk di selesaikan. Salah satunya adalah Hanzalah, anak Abu Amir yang mengaku sebagai pengikut Ibrahim, dan bahkan sampai sekarang, tidak diketahui oleh anaknya sendiri, yang sedang berada di dalam kemah musuh di kaki Bukit Uhud. Hari itu hari pernikahan Hanzalah –yang telah direncanakan seminggu sebelumnya. Ia bertunangan dengan sepupunya, Jamilah putri Ibn Ubayy. Ia keberatan menangguhkan perkawinan itu, namun ia tetap ingin turut berangkat perang. Nabi memutuskan agar perkawinan Hanzalah tetap dilaksanakan, dimeriahkan dan dipersilakan menghabiskan malamnya di Madinah. Sebelum matahari terbit, dimungkinkan belum terjadi penyerangan, sehingga Hanzalah masih punya waktu yang cukup untuk turut berangkat bersama Nabi esok paginya. Hal itu diketahui Nabi setelah memperkirakan rute yang ditempuh oleh kaum musuh.

Orang kedua adalah Abd Allah ibn Amr dari Bani Salamah, salah satu suku Khazraj. Tiga tahun sebelumnya, Abd Allah seorang penyembah berhala; kemudian masuk Islam di lembah Mina, berbaiat kepada Rasulullah di Aqabah Kedua. Dua atau tiga hari sebelumnya, Abd Allah bermimpi seperti yang disampaikan Khaytsamah di pertemuan tadi. Di dalam mimpinya, ada seorang laki² menemuinya dan memperkenalkan diri sebagai Mubasysyir. Ia berkata kepadanya, "Tunggu! Beberapa hari lagi, engkau akan datang kepada kami". Abd Allah bertanya, "Kamu sekarang dimana?" "Di surga", jawab laki² itu, "di sini kami bisa melakukan apa saja yang kami inginkan". "Bukankah engkau telah terbunuh di Badr?" tanya Abd Allah. "Ya, tetapi kami dihidupkan kembali", jawab Mubasysyir. "Ayah Jabir", kata Nabi kepada Abd Allah, setelah ia selesai menceritakan mimpinya itu, "itulah kesyahidan". Sebenarnya Abd Allah telah memahami hal itu di dalam batinnya, namun ia menginginkam suatu penegasan dari Nabi. Ia pun pulang, bersiap² untuk berangkat perang dan mengucapkan selamat tinggal kepada anak²nya. Istrinya telah meninggal belum lama. Sejak itu, ia meninggalkan seorang anak lelaki, Jabir, yg kini telah tumbuh dewasa, dan tujuh anak perempuan sebagai adik Jabir. Jabir sudah kembali dari masjid dan tengah sibuk dengan senjata dan baju bajanya. Sebagai orang yang tidak ikut di perang Badr, kali ini ia ingin sekali ikut dengan Nabi. Namun, ayahnya berpendapat lain. "Anakku", kata Abd Allah, "tidak pantas kita meninggalkan mereka tanpa seorang laki². Mereka masih muda dan lemah, dan aku mengkhawatirkan mereka. Sementara, aku harus berperang bersama Rasulullah. Semoga Allah menghadiahkan kesyahidan kepadaku. Kutitipkan mereka kepadamu". Mereka yang ia maksud adalah anak perempuannya.

Kaum muslim berkumpul kembali saat salat magrib. Ketika itu, orang² Madinah atas turut berkumpul di Masjid. Sesudah salat, Nabi membawa masuk Abu Bakr dan Umar ke rumah beliau untuk membantu Nabi mengenakan pakaian perang. Sementara itu, orang² menyusun barisan di luar. Sa'd ibn Mu'adz dan pengikutnya dengan suara keras mengingatkan, "Kalian semua telah memaksa Rasulullah untuk keluar, berlawanan dengan kemauan beliau, sedang kebajikan itu telah diwahyukan dari 'atas'. Serahkan kembali keputusan ini ke tangan Nabi. Persilakan beliau menentukan sekali lagi!" Ketika keluar, Nabi melilitkan surban di kepalanya, mengenakan pelapis dada, dan memakai rompi baja, diikat dengan ikat pinggang kulit tempat pedangnya diselipkan. Nabi mengenakan penopang perisai untuk pedangnya yg disilang di punggungnya. Banyak kaum muslim yang menyesali kata² mereka sebelumnya. Begitu Nabi muncul, mereka berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh tidak pantas kami menentangmu dalam hal apapun; maka putuskan dan kerjakan apa yang terbaik menurutmu". Nabi menjawab, "Tidak pantas seorang Nabi melepaskan baju baja yang telah dikenakannya sebelum Allah menentukan antara ia dan musuhnya. Maka, kerjakan yang telah ku perintahkan. Majulah dengan nama Allah! Jika kalian sabar dan tabah, kemenangan di pundak kalian". Beliau meminta tiga batang tombak untuk mengikat tiga bendera. Bendera dari 'Aws diberikan kepada 'Usayd, bendera Khazraj diserahkan kepada Hubab, yang telah memberikan saran tentang sumur di Badr; dan bendera kaum Muhajirin diberikan kepada Mush'ab. Setelah itu, Nabi menunjuk Abd Allah ibn Maktum yang buta untuk menjadi imam selama beliau pergi. Nabi menaiki kuda yang diberi nama Sakb, mamanggul busur panah dan menggenggam tombak. Tak ada orang lain yang berkuda. Kedua Sa'd itu berjalan di depan Nabi, dan pasukan yang lain di kanan-kirinya. Mereka semua sekitar seribu orang.

*#070#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment