🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
5⃣1⃣ *BARISAN MENUJU UHUD*
_______________________
KETIKA mereka tiba di Syaikhyan, pertengahan jalan antara Madinah dan Uhud, matahari mulai terbenam. Setelah Nabi memeriksa semua pasukan, Bilal menyerukan Azan dan mereka salat bersama. Setelah itu, beliau menemui delapan anak muda yang berharap bisa turut ke medan perang. Diantaranya anak Zayd, Usamah, dan anak Umar, Abd Allah, keduanya baru berusia tiga belas tahun. Nabi menyuruh mereka segera pulang. Mereka semua protes, dan kaum Anshar meyakinkan Nabi bahwa pemuda yang berusia lima belas tahun, Rafi' dari 'Aws, Bani Haritsah, adalah pemanah yang lebih ulung daripada pemanah lain yang lebih tua. Karena itu Rafi' diizinkan bergabung. Kemudian, pemuda lainnya, Samurah, anak yatim dari suku Najd, ibunya telah menikah lagi dengan seorang Anshar dari suku Rafi', menyatakan bahwa dalam bergulat, ia dapat mengalahkan Rafi'. Akhirnya Nabi menyuruh kedua pemuda itu menunjukkan kemampuan mereka di depannya, dan mereka pun melakukannya. Samurah membuktikan bahwa pernyataannya benar, maka ia diizinkan tetap bergabung, sedangkan yang lain harus kembali ke keluarganya masing².
Tentara Mekah berharap kaum muslim keluar melawan mereka, dan kekuatan mereka yang lebih besar dapat dikerahkan, terutama pasukan berkudanya. Hal itu telah disadari oleh Nabi, tapi beliau tetap memilih meninggalkan kota, dan terpaksa mengimbanginya dengan memperbanyak jumlah pasukan dan mengatur posisi yang dapat menguntungkan pasukannya dan mempersulit musuh. Namun, untuk mencapai tujuan itu, beliau membutuhkan seorang pemandu untuk melakukan beberapa penyelidikan. Ketika mereka mulai melewati daerah kediaman Bani Haritsah, beliau menerima uluran tangan seorang penduduk dari kabilah tersebut yang betul² mengenal daerah tersebut.
Di Madinah, malam itu pernikahan Hanzalah dan Jamilah sudah dilaksanakan. Dalam tidurnya yang sebentar, Jamilah bermimpi melihat suaminya berdiri di pintu depan surga, dan pintu itu terbuka untuknya. Maka ia masuk, dan pintu itu segera tertutup kembali. Saat terjaga, ia berkata dalam hati, "Itulah kesyahidan". Mereka pun berwudu dan salat subuh bersama. Hanzalah pamit kepada istrinya, tapi sang istri mendekapnya erat² dan tidak melepasnya pergi, sehingga ia pun merebahkan diri lagi di samping istrinya. Kemudian ia segera melepaskan diri dari pelukan istrinya tanpa bersuci lagi, mengenakan baju perangnya, mencangklong senjata, dan bergegas pergi dari rumahnya.
Nabi memerintahkan seluruh pasukan untuk segera meninggalkan Syaikhayn sebelum matahari terbit. Tetapi, malam itu Ibn Ubayy berunding dengan para pengikutnya akan membongkar tenda dan berbalik ke Madinah bersama tiga ratus pasukan yang munafik dan ragu². Hal itu sangat memalukan Abd Allah, anaknya, yang tetap bergabung bersama pasukan Nabi yang lain. Ibn Ubayy bahkan tak berpamitan kepada Nabi. Saat ditanya kaum Anshar, ia berkomentar, "Anakku tidak menurut padaku. Ia menuruti jiwa mudanya dan ikut orang² yang tidak punya pertimbangan. Aku tidak habis pikir, kenapa kita mesti kehilangan nyawa di tempat yang buruk ini". Abd Allah yang lain, ayah Jabir, berjalan di belakang mereka dan berteriak, "Demi Allah! Aku mohon jangan tinggalkan kaummu dan Nabimu di saat musuh sudah begitu dekat!" Tetapi mereka menjawab, "Jika kami tahu kalian pasti akan berperang, kami tak akan pergi. Kami tak yakin peperangan itu akan benar² terjadi!" "Wahai para musuh Allah", ia menjawab, "Allah akan menolong Nabi-Nya tanpa perlu bantuan kalian!"
Kini pasukan berkurang menjadi tujuh ratus orang saja, dan pasukan telah bergerak makin dekat dengan musuh. Masih diliputi kegelapan, mereka bergerak ke kanan, menyeberangi dataran gurun hinggal sampai ke ujung tenggara bukit Uhud. Berbelok lagi, mereka menuju ke barat laut, ke puncak bukit hingga menjelang fajar mereka melihat perkemahan tentara Mekah di depan mereka, agak di sebelah kanan, di bawah tempat mereka kini berdiri. Mereka terus bergerak maju hingga tepat di tengah² antara Uhud dan posisi musuh itu. Setelah sampai di tempat yang tepat, Nabi menyuruh mereka berhenti dan turun. Bilal menyerukan azan subuh. Mereka pun membentuk saf salat membelakangi gunung. Demikian juga formasi mereka dalam berperang, karena posisi musuh berada di antara mereka dan Mekah. Setelah mengimami salat, Nabi berbalik menghadap mereka dan berkata, "Sesungguhnya hari ini kalian berada di sebuah tempat yang kaya pahala dan kaya harta, yaitu bagi yang mengenal dirinya dan membaktikan jiwanya dengan kesabaran, keimanan dan kebenaran". Usai menyampaikan khotbah pendeknya itu, Hanzalah maju ke depan dan memberi hormat. Ia baru saja datang dari Madinah.
Sekarang Nabi memilih pemanah² terbaik, yaitu Zayd, Sa'd, sepupunya dari Zuhrah, dan Sa'ib, putra Utsman ibn Mazh'un. Sementara itu, beliau juga memerintahkan lima puluh tentara untuk menempatkan diri di atas bukit, agak ke kiri dari pusat kekuatan utama. Di sana beliau menempatkan Abd Allah ibn Jubayr dari 'Aws, dan memberi komando: Hujanilah pasukan berkuda musuh yang hendak menyerang kami dengan panah² kalian! Jangan biarkan mereka menyerbu kami dari belakang. Bagaimanapun gencarnya serangan, bertahanlah dan jangan tinggalkan tempat ini. Jika kalian melihat di antara kita merampas harta musuh, jangan coba ikut²an. Jika kalian melihat kami terbunuh, jangan berusaha untuk memberikan pertolongan".
Setelah mengenakan mantel baja, Nabi mengacungkan sebilah pedang sambil berkata, "Siapa yang memenuhi syarat memegang pedang ini?" Tiba² 'Umar maju untuk mengambil pedang itu, tetapi Nabi menolaknya, dan berkata lagi, "Siapa yang memenuhi syarat memegang pedang ini?" Zubayr berkata bahwa ia akan mengambilnya, tetapi sekali lagi, Nabi menolaknya, dan mengulangi pertanyaan untuk ketiga kalinya. "Apa syaratnya hai Rasulullah?" tanya Abu Dujanah, dari Khazraj. "Syaratnya", jawab Nabi, "Engkau harus bisa menebas musuh hingga mata pedangnya bengkok". "Akan kuambil dan kupegang syaratnya", katanya. Maka Nabi memberikan pedang itu kepadanya. Ia lelaki yang gagah berani dan dibanggakan dalam perang. Surban merahnya sangat terkenal. Di kalangan orang² Khazraj, surban itu dikenal dengan "surban kematian". Jika ia mengenakannya, seperti yang dilakukan sekarang, dililitkan di kepalanya, mereka tahu bahwa ia akan membantai pasukan musuh habis²an, dan selama memegang pedang tersebut, tak seorangpun meragukan keteguhan tekadnya. Ia dengan sangat lincah menggerak²kan pedang itu ke atas dan ke bawah.
*#071#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment