Sunday, March 8, 2020

Kisah Rasul bagian 52

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
5⃣2⃣ *PERANG UHUD*
_______________________

KINI matahari telah naik dan kaum Quraisy bersiap² dengan seratus pasukan berkuda di kedua sayapnya, di sayap kanan dipimpin Khalid ibn Walid dan di sayap kiri dipimpin Ikramah ibn Abu Jahl. Di bagian tengah, Abu Sufyan memberi komando untuk maju. Di depannya, Thalhah dari Abd Al-Dar mengibarkan bendera Quraisy, disertai dua saudaranya dan empat anak lelakinya, masing² siap maju jika dibutuhkan. Thalhah dan saudara²nya diharapkan menang sebagai kebanggaan bagi sukunya pada hari itu. Di Badr, dua pembawa bendera mereka dipermalukan karena ditahan sebagai tawanan. Dalam perjalanan mereka ke Uhud kali ini, Abu Sufyan tak dapat melupakan peristiwa itu. Mush'ab dapat mengenali orang² sesukunya saat ia berdiri di depan Nabi dengan bendera Muhajirin.

Begitu dua pasukan besar itu berada dalam jarak satu pendengaran, Abu Sufyan menghentikan gerakannya, sedikit maju, mendahului barisan. "Orang² 'Aws dan Khazraj", teriaknya, "tinggalkan tempatmu sekarang, dan datanglah padaku wahai sepupu²ku! Kami akan meninggalkan kalian, karena kami tidak bermaksud melukai kalian". Namun, kaum Anshar menjawabnya dengan ejekan. Seorang pria lain dari barisan Mekah maju. Hanzalah sedih setelah tahu, orang itu ayahnya, yang kini memproklamirkan kehadirannya: "Orang² 'Aws, aku Abu Amir!" Dan sama sekali ia tak percaya bahwa ternyata pengaruhnya , yang begitu besar, saat itu tak memiliki arti apa², padahal ia sudah berjanji pada kaum Quraisy, bahwa dirinya akan membuat banyak orang kaumnya berbalik dan berpihak kepadanya. Sebaliknya, ia bukan hanya dicaci, tetapi juga dihujani batu. Maka, ia mundur ke belakang dengan sangat cemas.

Sekali lagi, tentara Mekah dikomando untuk maju. Dan tidak jauh dari garis depan, para wanitanya, dipimpin Hindun, memukul genderang perang dan bernyanyi:

```Ayo majulah anak² 'Abd al-Dar. Majulah ke depan, engkau para pengawal garis belakang. Hantam dengan setiap pedang tajam. Hantam!```

Ketika para wanita itu merasa tentara Mekah telah mencapai batas terdekat dengan musuh, mereka menandai waktu mulai berperang dengan pukulan genderang. Membiarkan para lelaki maju bertempur. Hindun mulai lagi menyanyikan lagu perang yang pernah dinyanyikan oleh Hindun yang lain pada salah satu peperangan terdahulu.

```Majulah, kami akan mendekapmu, dan menggelar permadani indah, tapi kalau engkau berbalik, kami akan meninggalkanmu. Kami tinggalkan kamu dan tak mau mencintaimu.```

Ketika kedua bala tentara hampir bertemu, pemanah² Nabi melepaskan sejumlah anak panah ke arah pasukan berkuda Khalid, sehingga ringkikan kuda² itu meredam nyanyian para wanita itu dan bunyi genderang mereka. Dari tengah² tentara Mekah, Thalhah maju, menantang siapa yang mau menghadapinya dalam perang tanding. 'Ali maju menerima tantangannya dan berhasil menjatuhkannya. Dengan sekali tebas, terpenggallah kepalanya. Nabi segera mengerti bahwa Thalhah itulah yang digambarkan sebagai pemimpin pasukan, yaitu biri² yang beliau tunggangi dalam mimpinya –beliau dengan lantang bertakbir, _"Allahu Akbar!"_ dan suaranya menggema ke seluruh pasukan. Tetapi biri² itu menandakan, tak hanya seorang korban yang akan jatuh, karena saudara Thalhah yang membawa bendera pasukannya, roboh dijatuhkan oleh Hamzah, dan Sa'd dari Zuhrah menancapkan anak panah ke leher saudara Thalhah yg lain. Sedangkan keempat anak laki²nya terbunuh, masing² oleh 'Ali, Zubayr, dan 'Ashim ibn Tsabit dari 'Aws. Dua orang di antara mereka meninggal saat dipulangkan ke rumah ibunya, Sulafah, yang kini turut di belakang pasukan. Dan ketika diberitahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian anak²nya itu, ia bersumpah akan meminum air dari tengkorak 'Ashim.

Pada mulanya, tak seorangpun wanita muslim yang diizinkan untuk turut berperang. Tetapi Nusaybah, seorang wanita Khazraj merasa bahwa ia harus berada bersama para tentara. Suaminya,  Ghaziyyah, dan dua anaknya berada di sana. Namun bukan itu alasannya. Suami dan anak wanita² lain juga berada dalam pasukan, namun mereka tetap tinggal di rumah. Nusaybah adalah satu²nya wanita yang turut dalam barisan bersama tujuh puluh lelaki madinah ke 'Aqabah kedua. Alasan lainnya, ia merasa tak bisa tetap tinggal di rumah dalam keadaan seperti ini. Maka ia bangun pagi² benar, lebih pagi dari biasanya, dan mengisi kantung airnya dengan air mimum, berangkat ke medan perang dengan maksud akan menolong pasukan yang terluka atau kehausan. Mau tak mau, ia membawa juga sebilah pedang, sebuah busur dan seikat anak panah. Dengan mengikuti jejak pasukan yang telah berangkat sebelumnya, ia mencapai tujuan tanpa kesulitan, tak lama setelah perang dimulai, di kaki bukit, tempat Nabi mengambil posisi di dataran yang lebih tinggi bersama Abu Bakr, 'Umar dan sahabat yang lain. Ibu Anas, Umm Sulaym, memiliki gagasan yang sama dan datang pula membawa kantung air, tak lama setelah kedatangan Nusaybah. Kelompok di belakang barisan juga diikuti oleh dua orang Muzaynah, sebuah suku badui yang tinggal  di sebelah barat oasis itu. Mereka baru² ini masuk Islam, dan tidak tahu ada serangan dari orang² Mekah, mereka datang ke Madinah, ternyata kota separuhnya telah kosong. Setelah mendengar keberangkatan mereka ke Uhud, mereka segera menemui Nabi dan memberikan hormat kepada beliau, kemudian menarik pedang mereka untuk turut maju ke kancah peperangan.

Abu Dujanah memenuhi janjinya dengan surban merahnya. Beberapa waktu sesudahnya, Zubayr mengakui, "Aku merasa sangat pedih ketika Nabi menolak memberikan pedangnya kepadaku dan kemudian diberikan kepada Abu Dujanah. Aku berkata dalam hati, 'Aku putra Shafiyyah, saudara perempuan ayahnya, dan aku ini seorang Quraisy. Aku datang dan meminta kepadanya sebelum orang lain mendatanginya. Namun ia memberikan pedang itu kepada orang lain dan menyisihkanku. Demi Allah, aku ingin melihat siapa sebenarnya Abu Dujanah itu'. Maka aku terus mengikutinya". Kemudian ia menuturkan bagaimana Abu Dujanah dengan mudah membabat setiap musuh yang ditemuinya bagaikan sebuah mesin tuai dengan pedang sebagai sabitnya. Dan ia sendiri mengerti dan menerima keputusan Nabi atas pemberian pedang itu dan berkata pada dirinya, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu yang terbaik".

Hindun, wanita besar yang berpenampilan menawan, masih berada di tengah² tentara yang sedang berperang, mendesak mereka untuk terus bertempur. Ia nyaris terkena sabetan pedang Dujanah, yang menyangkanya seorang lelaki. Pedang Dujanah telah terayun di atas kepalanya; ia menjerit, hingga Dujanah sadar bahwa yang hampir disabetnya adalah seorang wanita, dan ia pun mengarahkan pedangnya kepada lelaki lain yang ada di dekatnya. Hindun bergabung dengan para wanita lain di barisan belakang, di tempat para budak ditugaskan mengawal kelompok itu. Karena ia mundur, Wahsy, pemuda Abyssinia, maju. Berbeda dengan pasukan kafir lainnya yang ada di medan perang. Wahsy memusatkan perhatian hanya kepada seseorang. Ia pemuda berdarah dingin. Hamzah, tak salah lagi, tinggi besar dan kekuatannya luar biasa dalam berperang, dengan mengenakan bulu burung unta. Wahsy melihatnya dari kejauhan. Ketika Hamzah berada di ujung pertempuran, ia berlindung di suatu tempat yang cukup aman, tetapi cukup dekat bagi pelempar tombak yang sedang membidiknya itu. Hamzah kini masih berhadapan dengan pembawa panji terakhir dari Abd al-Dar, dan saat ia menarik pedangnya untuk diayunkan, sejenak terbuka celah pada baju bajanya. Wahsy cepat² mengambil kesempatan. Dengan tenang, ia lempar tombaknya dan tepat mengena sasaran. Hamzah limbung beberapa langkah ke depan; dan setelah membunuh lawannya, ia tersungkur ke tanah dan gugur dengan tenang. Wahsy menanti sampai tubuhnya berhenti bergerak, kemudian mendekat dan mencabut tombaknya, lalu kembali ke kelompoknya dengan cepat. Seolah ia berbicara kepada dirinya sendiri, "Aku telah melakukan yang harus kulakukan, dan aku membunuhnya demi kebebasanku sendiri".

Kematian Hamzah sedikit meredakan rasa kekalahan yang mulai menyebar di antara pasukan Mekah. Orang Abyssinia yang lain,  seorang budak dari keluarga tujuh pembawa panji yang telah mati itu, kini mengambil alih sendiri panji tersebut, tapi ia segera terbunuh. Untuk beberapa saat panji itu tergeletak tak terurus di tanah. Meskipun bulu burung unta Hamzah tak terlihat lagi, Abu Dujanah, Zubayr, Muhajirin dan Anshar yg lain terus berperang dengan yel-yel _"Amit! Amit!",_ yang berarti, _Bunuh! Bunuh!",_ seolah tak ada lagi yang bisa menahan mereka. Bulu² putih pakaian Ali, surban merah Abu Dujanah, surban kuning Zubayr, surban hijau Hubab, melambai² bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya. Abu Sufyan nyaris terhindar dari pedang Hanzalah, yang bertempur dengan gagah berani di tengah² medan perang dan hampir menjatuhkannya, ketika seorang lelaki dari Layts datang dari samping dan menusuk Hanzalah dengan tombaknya, menjatuhkan dan membunuhnya dengan tusukan yang kedua.

Peperangan bergerak berangsur² menuruni lembah, menjauhi Nabi karena orang² Mekah terdesak ke belakang, menuju kemah mereka. Beliau tak dapat menyaksikan secara detail apa yang terjadi, kendatipun beliau tahu bahwa sejauh itu pasukannya dalam posisi menang. Namun, perhatiannya kini tertuju ke atas medan peperangan. Mata beliau menengadah ke atas seperti seorang yang sedang mengintai seekor burung terbang. Setelah itu beliau berkata kepada mereka yang berada di sampingnya, "Sahabat kalian", maksudnya Hanzalah, –"sedang dimandikan oleh para malaikat". Dan beberapa waktu kemudian beliau berkata kepada Jamilah saat meminta penjelasan, "Aku melihat para malaikat memandikan Hanzalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dengan bejana² perak". Maka, Jamilah menceritakan mimpinya kepada Nabi, dan karena takut terlambat sampai ke medan perang, suaminya belum bersuci seperti biasanya.

Kaum muslim terus maju sampai titik terakhir pertahanan musuh yang mulai porak poranda. Jalan menuju kemah mereka telah terbuka, dan di sana banyak pasukan berebut menjadi penjarah rampasan perang. Sekarang, lima puluh pemanah terpilih itu berada di jarak tertentu antara Nabi dan mereka. Di antara Nabi dan mereka terdapat tanah melandai ke suatu dataran, lalu naik ke suatu titik yang menguntungkan mereka. Mereka dapat melihat barisan pertama, dan teman²nya yang berebutan memperkaya diri, seperti yang telah diduga, dengan harta rampasan, yang jumlahnya lebih dari mereka. Dengan sia², Abd Allah ibn Jubayr, komandan mereka, mengingatkan mereka agar tidak meninggalkan pos masing² dalam situasi apapun. Mereka menjawab bahwa mereka tak akan meninggalkan Nabi untuk selamanya di sana. Perang kini telah usai, kata mereka, dan kaum kafir telah kocar-kacir. Kira² empat puluh orang dari pasukan pemanah itu menuruni lereng menuju kemah, meninggalkan Abd Allah yang kukuh, tapi secara fatal mengosongkan pasukan utama.

Sejauh ini pasukan berkuda kaum kafir belum melaksanakan fungsinya. Di tengah² medan, dua pasukan itu bertautan rapat, sehingga tidak mungkin menyerang dengan berkendaraan kuda tanpa membahayakan Kawan² mereka sendiri. Di sisi lain, mereka juga tak dapat menghadapi barisan belakang kaum muslim karena dihadang oleh sepasukan pemanah ahli. Namun, Khalid kini telah melihat apa yang terjadi, dan menyadari kesempatan emas telah datang. Ia segera memimpin pasukannya, bergerak cepat mencapai pos para pemanah itu di bukit. Abd Allah dan para sahabat setia yang tetap bertahan di sana gagal melawan musuh dengan anak panah, maka mereka membuang busur²nya dan segera melawan dengan pedang dan tombak sampai mati. Tak seorangpun dari sepuluh pemanah yang setia kepada perintah Nabi itu yang masih hidup. Dengan berbalik memutar, Khalid memimpin pasukannya memasuki garis belakang pertahanan kaum muslim. Ikramah mengikuti cara Khalid, maka pasukan berkuda Mekah itu menjatuhkan malapetaka besar kepada pasukan muslim. 'Ali dan para sahabat lainnya berbalik lagi, menghadapi bahaya baru –serangan dari kaum musyrik yang kembali lagi ke kancah peperangan. Suasana perang kini berubah, seruan keras dari kaum Quraisy, "Ya Uzzah, ya Hubal!" terdengar lagi di medan perang. Banyak kaum muslim yang berada di garis belakang telah melarikan diri, takut dibunuh oleh pasukan berkuda musuh. Mereka putus asa dan lari tunggang langgang ke atas bukit, berharap mendapatkan tempat berlindung. Nabi menyeru mereka untuk kembali, tetapi telinga mereka telah tertutup oleh keriuhan suara mereka sendiri, juga tak lagi terpikir apapun kecuali untuk melarikan diri. Mayoritas muslim melanjutkan pertempuran, tetapi pasukan utama kini tak ada lagi, dengan jumlah yang makin tidak seimbang. Mereka menarik mundur selangkah demi selangkah, sehingga peperangan pun bergerak ke Bukit Uhud, ke arah Nabi berada.

Nabi dan sahabat²nya, termasuk dua wanita itu, memberondongkan anak panah ke arah musuh, dan mereka dibantu dengan kekuatan utama yang berbalik ke arah Nabi untuk menyelamatkan beliau. Di antara mereka yang pertama bergabung adalah dua orang dari Muzaynah, Wahab dan Harits. Ketika satu pasukan kecil berkuda musuh mendekat dari arah kiri, Nabi berkata, "Siapa yang akan menghadapi pasukan ini?" "Saya, hai Rasulullah", jawab Wahab spontan. Dengan keahliannya, ia memanah musuh dengan sangat cepat dan tangkas, seolah² serangan anak panah itu berasal dari sekawanan pasukan pemanah sehingga mereka berbalik mundur. Datang lagi satu pasukan berkuda yang lain, dan Nabi pun berkata lagi, "Siapa yang akan menghadapi pasukan ini?" Wahab maju kembali dan melawan mereka seolah bukan seorang diri, tetapi bersama sepasukan pemanah. Datang lagi serangan berikutnya, dan Nabi kembali menanyakan siapa yang akan menghadapinya. "Saya, hai Rasulullah", jawab Wahab lagi. "Bertahanlah kalau begitu", kata Nabi, "dan bergembiralah karena surga akan menjadi milikmu". Wahab bangkit dengan riang dan berkata saat menarik pedangnya, "Demi Allah, aku tak akan memberi ampun ataupun meminta ampun!" Lalu ia terjun ke tengah² musuh dan menyerang mereka habis²an. Sementara, Nabi dan sahabatnya berhenti memanah, menyaksikan kehebatan dan keberanian Wahab menghadapi musuh. "Ya Allah, kasihanilah Wahab", kata Nabi, ketika Wahab kembali menghadapi musuh, terus bertempur sampai mereka mengepungnya dari segala arah dan membunuhnya. Sesudah itu, di tubuhnya ditemukan dua puluh tusukan tombak, barangkali setiap musuh menusukkan tombaknya, dan banyak pula tebasan pedang yang melukainya. Tak seorangpun dapat melupakan kenangannya saat menyaksikan ia berperang. Beberapa tahun kemudian, 'Umar berkomentar, "Dari semua kematian, aku takkan pernah melupakan kematian warga Muzaynah itu". Sa'd dari Zuhrah menuturkan, suara Nabi yang mengabarkan surga kepada Wahab masih terngiang di telinganya.

Kancah utama peperangan mulai bergeser lebih dekat ke Nabi karena kaum muslim terus terdesak ke arah bukit, _"Amit!"_ seruan perang dari kedua belah pihak –teriakan² perorangan dan tantangan untuk saling berperang tanding, maupun kepuasan akan tepatnya sasaran anak panah atau pukulan. "Ayo lawan aku, anak si fulan", kata Abu Dujanah mengaku sebagai anak laki² Kharasyah, kakeknya. Seringkali identitas para penantang tak jelas lagi. Seorang Anshar memperkenalkan diri dengan, "Anggap saja aku pemuda Anshar!" Nabi sendiri pada kesempatan itu sering mengatakan, "Aku adalah Ibn al-Watiq", yang artinya adalah, "Aku anak para 'Atikah", merujuk ke banyak leluhur beliau yang bernama 'Atikah. Namun, suatu ketika seorang penantang datang dan berkata, "Aku anak 'Atiq, siapa yang berani melawanku?" Dia adalah 'Abd al-Ka'bah, anak sulung Abu Bakr, satu²nya saudara kandung 'A'isyah dan satu²nya anggota keluarga Abu Bakr yang belum masuk Islam. Abu Bakr segera melemparkan busurnya dan menarik pedang, bergerak menyerang, namun dengan cepat Nabi menahannya. "Sarungkan pedangmu", perintah beliau, "dan kembalilah ke tempatmu, panggillah orang terbaik di antara rekan²mu".

Satu pasukan berkuda yang lain memecah barisan belakang kaum muslim, dan maju ke Abd Al-Ka'bah yang segera menghindar mundur. "Siapa yg mau menjaga pertahanan kita?" tanya Nabi. Lima orang Anshar menghunus pedangnya, berlari memasuki barisan musuh, dan bertempur sampai mati, kecuali seorang, tertinggal dalam keadaan terluka parah. Pertolongan datang menggantikan mereka, karena Ali, Zubayr, Thalhah, Abu Dujanah dan sahabat yang lain berpindah dari garis depan menuju garis belakang. Kini mereka telah sampai di sisi Nabi, namun tak lama kemudian sebuah lemparan batu keras mengena mulut Nabi, menyobek bibir bawahnya, dan menanggalkan satu giginya. Darah mengalir di wajah Nabi, tetapi beliau menahan semampunya. Beliau meyakinkan 'Ali dan sahabat yang lain, bahwa dirinya tidak mengalami luka yang serius. Mereka kembali berperang, kecuali Thalhah, yang begitu lemah karena kehilangan banyak darah, hingga pingsan. "Perhatikanlah sepupumu", kata Nabi kepada Abu Bakr. Namun sejenak kemudian, Thalhah hampir pulih kesadarannya, sementara Sa'd dari Zuhrah dan Harits ibn Simmah dari Khazraj maju menggantikannya. Bersama dengan penambahan kekuatan baru, mereka dengan gencar menyerang musuh yang pelan² terdesak ke belakang, menjauhi lima tubuh pemuda Anshar yang baru saja mengorbankan nyawanya. Nabi memandang mereka dan memohon rahmat atas mereka. Satu orang yang belum meninggal dan terluka parah merangkak di atas tanah menuju Nabi. Nabi mengirimkan dua orang untuk menggotong tubuhnya. Kaki beliau dijulurkan sebagai bantal perwira yang sedang sekarat itu, dan beliau menjaganya agar kakinya tetap tidak bergerak sampai perwira itu meninggal di atas pangkuannya.

"Ketahuilah bahwa surga ada di bawah bayang² kelebatan pedang² itu", kata Nabi. Beberapa tahun kemudian, pada waktu² tertentu, beliau berziarah ke tempat tersebut untuk mengenang dan memanjatkan doa bagi para pahlawan yang telah gugur di sana. Suatu kali, beliau menyatakan, "Akankah aku tinggal di kaki bukit ini bersama dengan para sahabatku?"

Musuh berangsur² mencapai lagi daerah kekuasaan mereka yang hampir hilang. Persediaan anak panah pasukan kecil yangg berada di sekitar Nabi hampir habis, dan dari berbagai segi, tampaknya mereka tak dapat bertahan lagi. Jika musuh terus maju mendekati mereka, maka mereka harus menghunus pedangnya, berperang tanding, satu orang muslim melawan empat orang kafir. Tiba² seorang pasukan berkuda datang dari samping bergerak lurus ke arah Nabi. "Mana Muhammad?" serunya. "Aku tak mau hidup selama ia masih hidup!" Orang itu adalah Ibn Qami'ah, berasal dari salah satu suku Quraisy pinggiran yang telah banyak membantai kaum muslim. Memandang sekilas kelompok itu, matanya yang tajam dapat mengenali korban yang dicarinya itu. Ia segera memacu kudanya, dan ia tebaskan pedangnya, yakin tak ada topi baja yang dapat bertahan. Tapi Thalhah yang sedang berdiri di samping Nabi segera melompat, tepat ke arah tebasan pedang itu. Ia mampu menagkis pedang itu dengan risiko kelihangan jari² salah satu tangannya. Mata pedang itu nyaris mengenai mahkota topi baja Nabi dan menyerempet candilnya hingga melukai pelipis beliau, dan akhirnya, membentur keras kedua bahunya. Pukulan yang mengena sisi kepala Nabi itu membuatnya tak sadar, terjatuh ke tanah. Sementara si penyerang segera lari dengan cepat, secepat ia datang. Tetapi yang lain segera mendekat untuk menyerang, dan Syamas dari Makhzum, maju melindungi Nabi dan berjuang begitu gigih –Nabi menggambarkannya sebagai tameng hidup– hingga akhirnya ia gugur. Sahabat yang lain menggantikan posisinya, dan didukung Nusaybah, yang kini menghunus pedangnya.

Sebuah suara –mungkin berasal dari Ibn Qami'ah sendiri– terdengar sangat keras, "Muhammad telah mati!" Maka tangisan pun tumpah di seluruh medan pertempuran, disaingi oleh suara pemujaan terhadap 'Uzzah dan Hubal. Lembah Uhud bergemuruh. Pasukan muslim yang telah melarikan diri sangat menyesal dan berduka begitu dalam. Sementara sebagian kecil pasukan yang masih bertempur kehilangan semangat. Namun ada juga beberapa perkecualian, di antaranya adalah Anas putra Nadhr –paman dari budak Nabi yang juga bernama Anas. Saudara perempuannya, putri Nadhr, telah diberitahu Nabi bahwa anaknya, yang tewas tertembus panah di Badr, kini tinggal di Firdaws, surga yang tertinggi. Anas mendatangi dua kerabatnya yang telah kehilangan semangat hidup dan cenderung untuk menghentikan perjuangan, serta hendak menyelamatkan diri. "Mengapa kalian duduk di sini?" tanyanya. "Rasulullah telah wafat", jawab mereka. "Lalu apa yang akan kalian lakukan jika beliau telah wafat?" tanya Anas. "Tetaplah berjuang sampai mati, meskipun beliau telah tiada". Ia pun maju ke dalam kancah perang yang paling sengit. Di sana, ia bertemu dengan Sa'd ibn Mu'adz, yang sesudahnya bercerita kepada Nabi bahwa Anas telah berseru kepadanya, "Surga! Aku mencium wangi surga datang dari arah Uhud!" "Wahai Rasulullah", kata Sa'd, "aku tak mampu berperang seperti dia". Di akhir peperangan, mereka menemukan tubuh Anas tergeletak di tanah di penuhi lebih dari delapan puluh luka. Keadaannya sangat parah sehingga tak bisa dikenali oleh siapapun, kecuali saudara perempuannya yang dapat mengenalinya dari jari²nya.

Kaum mukmin yang berlindung di tempat yang lebih tinggi merasa lebih mudah menyelamatkan diri karena sebagian besar pasukan musuh menganggap perang telah usai dan telah mengendurkan usaha penyerangan mereka. Jumlah korban yang meninggal belum dihitung. Namun jelas sekali, mereka telah menuntut balas dendam jauh melebihi korban pihak mereka saat Perang Badr. Dan kini, setelah berhasil membunuh penyebab utama peperangan itu, mereka yakin telah berhasil mengakhiri agama baru yang dibawanya dan bisa menegakkan kembali aturan² lama yang mereka yakini.

Suasana yang lebih santai tampak di pihak kaum Quraisy, ketimbang di pasukan kecil –kira² dua puluh orang– yg bertindak sebagai pengawal Nabi. Tentara Mekah tahu, kelompok laki² itu tak akan mau menjadi tawanan dan akan memilih berjuang sampai mati dalam duel, yang juga dapat mematikan lawannya. Maka, mereka lebih baik membiarkan pasukan kecil itu hidup dan lewat, sementara mereka sendiri menikmati kemenangan.

Nabi segera pulih kesadarannya. Ketika musuh mulai menjauh, beliau segera bangkit dan berdiri tegak, meminta sahabat²nya untuk mengikutinya. Beliau memimpin mereka memasuki sebuah celah di bukit itu. Tampaknya gerakan musuh dapat diawasi dengan mudah dari tempat itu. Tapi, wajah beliau kini luka parah. Pacahan² logam sebesar cincin menancap di dagingnya. Maka mereka berhenti sebentar dan Abu 'Ubaydah mengeluarkan pecahan logam itu satu persatu dengan giginya. Luka² itu kembali berdarah. Malik dari Khazraj menyedotnya dan kemudian menelannya. Dialah yang mengatakan di Madinah, "Kita memiliki satu dari dua hal terbaik"; dan selain Syamas, yg telah meninggal, dialah yang paling parah lukanya. Nabi berkata, "Jika kalian ingin tahu orang yang darahnya bercampur dengan darahku, lihatlah Malik, anak Sinan". Abu 'Ubaydah juga termasuk di dalamnya, karena saat berusaha mencabut pecahan logam yang menancap di pipi Nabi, dua buah giginya tanggal sehingga mulutnya berdarah. Nabi berkata kepada mereka, "Barang siapa darahnya menyentuh darahku, api neraka tak akan menyentuhnya".

Saat kelompok kecil itu bergerak lagi di celah² bukit itu, mereka terlihat oleh beberapa orang yang sedang berlindung di bukit Uhud. Maka, mereka turun menemui kelompok kecil itu. Ka'b ibn Malik berdiri paling depan. Ia sangat terkejut melihat seorang laki² yang memiliki bentuk tubuh dan sikap yang sangat mirip dengan Nabi, meskipun langkahnya lebih pelan. Kemudian setelah sangat dekat, Ka'b melihat kejernihan dan ketajaman mata laki² itu yang tak tertandingi dari lubang mata topi baja yang dikenakannya. Maka ia berbalik dan berteriak kepada orang² yang ada di belakangnya, "Hai kaum muslim, segala puji bagi Allah! Inilah Rasulullah!" Nabi menyuruhnya diam, sehingga ia berhenti berteriak. Namun, kabar gembira itu telah tersebar dari mulut ke mulut, dan orang² pun berdatangan untuk memastikan kebenaran berita itu. Karena sangat bahagia dan bergembira melihat Nabi masih hidup, kekalahan mereka seolah² berubah menjadi kemenangan.

Namun, teriakan gembira Ka'b sempat terdengar oleh seorang penunggang kuda dari Quraisy yang tengah berhenti di dekat mereka. Ia adalah Ubayy, saudara Umayyah, yang telah bersumpah bahwa dari atas punggung kuda yang ditungganginya, Awd, ia akan membunuh Nabi. Setelah mendengar bahwa orang yang dicarinya itu telah meninggal, ia segera mencari jasadnya, khawatir jika musuhnya itu masih hidup. Dan kini, setelah mendengar teriakan gembira Ka'b, ia segera memacu kudanya ke atas lembah sampai ia tiba di belakang kaum muslim. Kaum muslim pun berbalik menghadangnya. "Hai Muhammad", teriaknya, "jika engkau lari, maka aku tak akan lari!" Beberapa sahabat segera berputar mengelilingi Nabi, sementara yang lain bersiap² menyerang Ubayy. Tetapi, Nabi segera menahan mereka. Beberapa waktu kemudian,  mereka yg bersama Nabi itu menuturkan bahwa beliau mengusir mereka tak ubahnya lalat² yang bertengger di atas punggung unta. Setelah itu, beliau mengambil tombak dari Harits ibn Simmah dan melangkah di depan mereka semua. Tak berani bergerak, mereka terpesona kepada mimiknya yang teguh dan pancaran keseriusannya, seperti yang diungkapkan oleh salah seorang di antara mereka: "Saat Rasulullah memutuskan untuk berjuang hingga selesai, tak ada yang dapat menyaingi pancaran kewibawaannya". Ubayy mendekat dengan pedang terhunus, namun sebelum sempat mengibaskan pedangnya, Nabi telah melukai lehernya. Ia melenguh seperti sapi jantan, kemudian limbung dan hampir jatuh dari kudanya, namun segera mendapatkan keseimbangannya lagi, maka ia segera berbalik dan terus berlari menuruni lembah hingga mencapai perkemahan tentara Mekah, tempat Shafwan, kemenakannya, dan kaumnya yang lain sedang berkumpul. "Muhammad telah membunuhku!" ia berkata dengan suara yang tak jelas lagi. Mereka memeriksa lukanya dan merawatnya. Tapi mereka tahu bahwa lukanya mematikan, dan memang sebentar lagi menjadi kenyataan. "Muhammad berkata, ia akan membunuhku", katanya, "demi Tuhan, jika ia meludahiku maka ia sudah membunuhku". Kabar bahwa Muhammad masih hidup, mencemaskan mereka semua. Tapi, Ubayy jelas² melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Pada beberapa kasus, mungkin saja orang salah mengenali orang lain, apalagi jika orang itu mengenakan topi baja.

Ketika Nabi dan para sahabatnya mencapai puncak bukit itu, Ali pergi untuk mengisi kantong airnya dari rongga² bebatuan. Ia membawanya untuk Nabi, tapi karena berbau busuk, Nabi tidak mau meminumnya, dan ia sendiri tidak meminumnya meskipun merasa sangat kehausan. Air itu digunakan sedikit untuk membasuh darah di muka Nabi. Kemudian, sepanjang mereka merasa masih terlalu mudah dicapai dari lembah, Nabi memerintahkan para sahabatnya agar pindah ke tempat yg lebih tinggi. Beliau berusaha memanjat sendiri melalui ceruk² bebatuan. Namun, tampaknya kondisi tubuhnya terlalu lemah, maka Thalhah merangkak melalui ceruk bebatuan itu dengan menahan rasa sakit pada lengannya yang baru terputus, dan menggendong Nabi di punggungnya, merangkak hingga mencapai puncak yang diinginkan. Nabi berkata tentang Thalhah hari itu, "Barang siapa ingin menyaksikan seorang syahid sejati yang merayap di muka bumi, lihatlah Thalhah, anak 'Ubaydillah!"

Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di tempat yang dapat digunakan sebagai kemah sementara. Matahari telah mencapai puncak ketinggiannya, maka mereka mendirikan salat zuhur, Nabi –yg bertindak sebagai imam– salat dalam posisi duduk, dan para sahabat bermakmum di belakangnya. Selesai salat, mereka merebahkan diri untuk beristirahat. Sebagian besar mereka tertidur lelap karena kepayahan, sementara beberapa pengawal bergantian mengawasi dari tempat yang strategis.

*#075#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment