Tuesday, February 4, 2020

Kisah Rosul bagian 37

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣7⃣ *HIJRAH*
_______________________

SEMENTARA itu, Nabi telah kembali ke Abu Bakr. Tanpa membuang waktu, mereka keluar lewat jendela di belakang rumahnya, tempat kedua untanya, yang sudah di pelanai, menunggu mereka. Nabi menunggangi salah satunya dan satu lagi untuk Abu Bakr bersama anaknya, Abd Allah. Sebagaimana telah direncanakan, mereka melintasi rute menuju sebuah gua di gunung Tsawr agak ke selatan, jalan ke arah Yaman, karena mereka tahu bahwa begitu ketidakhadiran Nabi diketahui, sekelompok pengejar akan disebar untuk menutup seluruh jalur utara pinggiran kota. Setelah mereka berada di luar daerah mekah, Nabi menghentikan untanya, menengok ke belakang dan berkata, "Dari seluruh bumi Allah, engkaulah tempat yang paling kucintai dan paling dicintai Allah. Jika kaumku tidak mengusirku darimu, maka aku tidak akan meninggalkanmu."

'Amir ibn Fuhayra--penggembala yang telah dibeli Abu Bakr sebagai budak dan sudah bebas serta ditugasi menggembala domba²nya– mengikuti mereka di belakang bersama gembalaannya untuk menghilangkan jejak mereka. Setelah sampai di gua, Abu Bakr mengirim putranya pulang ke rumah beserta dua untanya, menyuruhnya agar mendengarkan apa yang dibicarakan besok di Mekah setelah ketiadaan Nabi diketahui, lalu memberi laporan kepada mereka pada besok malamnya. 'Amir menggembalakan dombanya seperti biasa dengan para penggembala lainnya sepanjang hari, dan di malam hari, ia menggembalakannya ke gua untuk menutupi jejak Abd Allah antara Tsawr dan Mekah.

Pada malam berikutnya, 'Abd Allah kembali ke gua bersama saudara perempuannya, Asma' membawakan makanan. Mereka melaporkan bahwa Quraisy telah menawarkan hadiah seratus ekor unta bagi siapa saja yang dapat menemukan Muhammad dan membawanya kembali ke Mekah. Para penunggang kuda telah siap menyusuri rute normal dari Mekah ke Yatsrib, berharap menyusul mereka berdua –diduga Abu Bakr bersama Nabi, karena ia juga telah menghilang.

Namun, yang lainnya –mungkin tidak diketahui oleh Abd Allah– mengira bahwa mereka pasti bersembunyi di salah satu gua di bukit sekitar Mekah. Apalagi orang Arab padang pasir adalah pencari jejak yang ahli: meskipun gerombolan domba telah menutupi jejak dua atau tiga unta, orang² Badui rata² dapat melihat dengan sekilas sisa² tapak besar kaki unta di antara jejak² kecil yang tidak terhapus. Tampaknya mereka lari ke arah selatan kota. Namun, karena tawaran hadiah yang demikian besar, setiap kemungkinan harus dicoba. Unta² dipastikan mendahului domba yang mengarah ke bukit Tsawr.

Pada hari ketiga, keheningan bukit tempat mereka berlindung itu pecah oleh kicau burung –sepasang burung merpati pikir mereka– menggelepakkan sayapnya di luar gua. Sejenak kemudian, terdengar suara orang pada jarak tertentu di bawah mereka; dan semakin lama semakin keras, tampaknya orang itu memanjat lereng bukit. Mereka tidak menduga kalau Abd Allah masih ada sampai malam tiba, dan masih ada beberapa jam lagi untuk pergi sebelum matahari tenggelam, meskipun kenyataannya terdapat sedikit cahaya aneh di gua pada waktu itu. Suara² itu sekarang tdk jauh lagi –setidaknya terdiri dari lima atau enam lelaki– dan mereka makin mendekat. Nabi menoleh ke Abu Bakr dan berkata, _"Jangan bersedih karena sesungguhnya Allah beserta kita"_ (Q.S. 9: 40). "Apa yang kau khawatirkan dari dua orang ketika Allah menjadi yang ketiga?" Mereka kini mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat dan kemudian berhenti: orang² itu berhenti di luar gua. Mereka semua sepakat tidak perlu masuk ke dalam gua karena tidak mungkin ada orang di dalamnya. Kemudian, mereka berbalik ke jalan yang mereka tempuh saat datang.

Ketika derap langkah kaki dan suara mereka telah menghilang, Nabi dan Abu Bakr pergi ke mulut gua. Di sana, di depannya, hampir menutupi jalan masuk, ada sebuah pohon akasia kira² setengah tinggi manusia yang pagi itu belum ada; dan di celah antara pohon dan dinding gua terdapat seekor laba² telah membuat sarangnya. Mereka melihat ke sarang tersebut dan di sana, di lubang sebuah batu, bahkan di tempat seseorang mungkin akan melangkah jika ingin masuk gua, ada seekor burung merpati telah bersarang dan sedang duduk seakan² mengerami telur²nya. Bersama pasangannya, burung itu bertengger di atas birai, tidak jauh dari situ.

Ketika mereka mendengar Abd Allah dan saudaranya mendekat pada waktu yang diharapkan, mereka dengann hati² menyingkirkan sarang yang menjadi pelindung mereka itu, dan tidak mengganggu sang merpati, mereka pergi menemui keduanya. 'Amir juga datang, kali ini tanpa membawa hewan gembalaannya. Ia membawa seorang Badui yang dipercaya Abu Bakr guna menuntun kedua unta yang ia pilih untuk perjalanan mereka. Orang badui ini blm beriman, namun ia dapat dipercaya untuk menjaga rahasia dan juga untuk mengantar mereka ke tujuan lewat jalan setapak yang hanya diketahui oleh putra asli gurun pasir. Ia sedang menunggu di lembah bawah bersama dua unta, dan membawa unta ketiga untuk dirinya sendiri. Abu Bakr membonceng 'Amir di belakangnya untuk mengawasi kebutuhan mereka. Mereka meninggalkan gua dan menuruni tebing. Asma' telah membawa satu tas perbekalan, namun lupa untuk membawa tali. Karenanya ia melepaskan ikat pinggangnya dan membaginya menjadi dua, yg satu ia gunakan untuk mengikat tas ke pelana ayahnya agar aman dan bagian yang lainnya untuk dipakai sendiri. Karena peristiwa itulah ia diberi julukan "Wanita Dua Ikat Pinggang".

Ketika Abu Bakr menawarkan unta yang paling baik kepada Nabi, beliau berkata, "Aku tidak akan menunggangi unta yang bukan milikku sendiri." "Tapi itu milikmu, hai Rasulullah", kata Abu Bakr. "Tidak", sahut Nabi, "berapa harga unta itu?" Abu Bakr memberitahu harganya, dan beliau berkata, "Aku mengambilnya dengan harga itu". Abu Bakr tidak bertahan untuk memberikannya sebagai hadiah, meskipun dulu Nabi telah menerima banyak hadiah darinya. Ini adalah hijrah Nabi, putusnya segala ikatan dengan rumah dan tanah airnya demi Allah. Persembahannya, suatu perbuatan hijrah, mesti menjadi milik beliau sepenuhnya, tidak dibagi oleh orang lain. Tunggangan yang handal itu haruslah menjadi miliknya sendiri, karena itu merupakan bagian dari persembahannya. Nama unta itu adalah Qashwa' dan unta itu tetap menjadi kesayangan Nabi.

Pemandu jalan itu mengarahkan mereka keluar dari Mekah ke barat dan agak ke selatan sampai mereka tiba di pantai Laut Merah. Yatsrib berada di sebelah Utara Mekah, namun hanya melalui tempat ini arah utara menjadi tujuan mereka. Perjalanan pantai barat laut harus mereka tempuh beberapa hari untuk mencapai Yatsrib. Pada salah satu malam pertama, tampak air di sepanjang seberang Gurun Nubian, mereka melihat bulan baru, bulan Rabiul Awal. "Wahai bulan sabit yang indah dan menjadi petunjuk arah, aku beriman kepada Dia yang menciptakanmu". Begitulah yang biasa Nabi ucapkan jika beliau melihat bulan baru.

Suatu pagi, mereka cemas melihat sebuah kafilah kecil mendekat dari arah yang berlawanan. Namun, perasaan mereka berubah menjadi kegembiraan ketika melihat kafilah itu ternyata sepupu Abu Bakr, Thalhah, yang sedang dalam perjalanan dari Syria, tempat ia membeli baju dan barang perdagangan lainnya yang dimuat untanya. Dalam perjalanannya, ia telah singgah di Yatsrib dan bermaksud segera kembali ke sana setelah ia menurunkan barang²nya di Mekah. Kedatangan Nabi di Oasis itu, katanya, telah ditunggu² dengan semangat bergelora; dan sebelum mengucapkan selamat tinggal, ia memberi mereka masing² sepotong pakaian ganti dari bahan Syria berwarna putih dan bagus, yang sebenarnya ia maksudkan untuk dijual kepada orang³ kaya Quraisy.

Tidak lama setelah pertemuan mereka dengan Thalhah, mereka kembali ke arah utara, berjalan agak sedikit ke pedalaman dan pantai, kemudian ke timur laut, akhirnya menuju Yatsrib. Pada satu tempat di perjalanan mereka, Nabi menerima sebuah wahyu: _"Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum²) Alquran benar² akan mengembalikan kamu ke tempat kembali"_ (Q.S. 28: 85).

Sejenak sebelum fajar pada hari kedua belas, setelah meninggalkan gua, mereka sampai di lembah 'Aqiq. Dengan melintasi lembah, mereka mendaki lereng bebatuan hitam yang terjal. Sebelum mereka sampai di puncak, matahari telah naik dan terik panasnya mulai menyengat. Pada hari² lain, mereka akan berhenti untuk beristirahat sampai panas matahari berlalu. Namun mereka kini memutuskan untuk mendaki bukit terakhir. Ketika mereka akhirnya melihat daratan di bawahnya, tidak ragu lagi untuk bertahan. Tempat yang dimimpikan Nabi, "lahan subur di antara dua jalur batu² hitam", telah membentang di hadapan mereka. Hijaunya pepohonan anggur dan kebun serta taman² telah tampak pada satu tempat, kira² tiga mil perjalanan kaki dari lereng yang kini mereka turuni.

Tempat terdekat yang tampak banyak pepohonan itu adalah Quba', tempat sebagian besar Muhajirin Mekah tinggal pertama kali. Beberapa di antara mereka masih tinggal di sana. Nabi menyuruh sang pemandu jalan mereka, "Bawalah kami langsung ke Bani 'Amr di Quba', dan usahakan sudah memasuki kota sebelum malam tiba". Kota itu segera dikenal di seluruh Arab, dan kemudian di tempat² lain, sebagai "Kota": dalam bahasa Arab disebut _al-Madinah,_ dalam bahasa Inggris, Medina.

Beberapa hari sebelumnya, kabar tentang menghilangnya Nabi dari Mekah, dan tentang hadiah yang di tawarkan untuk menangkap beliau, telah sampai ke oasis itu. Penduduk Quba menantikan beliau siang dan malam, karena saat kedatangan beliau kini terlambat. Maka, setiap pagi setelah salat subuh, beberapa orang Bani 'Amr keluar untuk melihat beliau. Bersama mereka juga turut serta warga kabilah lainnya yang tinggal di desa itu, juga para muhajirin Quraisy yang masih tinggal disana dan belum pindah ke Madinah. Mereka keluar melintasi ladang² dan pepohonan kurma sampai ke jalur lava. Setelah sampai sejauh itu, mereka akan berhenti dan menunggu sampai panas matahari mencapai puncaknya, kemudian mereka akan pulang ke rumah. Pagi ini mereka telah keluar, tapi sudah bersiap untuk kembali tepat saat empat orang musafir itu mulai menuruni lereng bebatuan. Setiap mata tidak mampu lagi melihat ke arah tersebut, tapi pantulan sinar matahari pada baju putih baru Rasulullah dan Abu Bakr tampak mencolok di antara bebatuan gunung yg hitam. Seorang yahudi yang kebetulan berada di atap rumahnya melihat mereka. Ia seketika tahu siapa mereka itu, karena orang² yahudi di Quba' telah bertanya dan telah diberitahu mengapa begitu banyak tetangga mereka yang pergi bergerombol setiap pagi tanpa mengenal lelah. Karenanya, ia berteriak keras², "Hai keturunan Qaylah, ia telah datang, ia telah datang!" Seruan itu segera mendapat tanggapan. Semua pria, wanita, dan anak² bergegas keluar dari rumah mereka dan berduyun² sekali lagi menuju jalur hijau ke arah jalur bebatuan. Namun, mereka tidak pergi jauh, karena para pendatang itu kini telah sampai di ladang yg paling luar. Siang itu semua orang diliputi kegembiraan. Nabi berkata kepada mereka, "Hai orang² Quba'! Sambutlah satu sama lain dengan salam (kedamaian); berilah makan orang yang lapar; sambunglah silaturrahmi; salatlah disaat orang² tengah tidur. Jika kalian melakukannya, kalian akan masuk Surga dalam kedamaian."

Diputuskan bahwa beliau sebaiknya tinggal bersama Kultsum, lelaki tua dari Quba', yang sebelumnya menyambut Hamzah dan Zayd di rumahnya ketika mereka datang dari Mekah. Bani 'Amr kabilah Kultsum, adalah suku 'Aws, dan tidak diragukan lagi, sebagian dari kedua suku Yatsrib itu bersama² memberikan sambutan, di mana Abu Bakr tinggal bersama seorang Khazraj di desa Sunh yang agak dekat ke Madinah. Setelah satu atau dua hari, 'Ali tiba dari Mekah, dan tinggal di rumah yang sama dengan Nabi. Untuk mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya bagi para pemiliknya, ia membutuhkan tiga hari.

Kini banyak yang datang menyambut Nabi. Di antara mereka ada beberapa orang Yahudi Madinah yang datang bukan karena beritikad baik tetapi sekedar ingin tahu. Namun, pada malam kedua atau ketiga, datanglah seorang lelaki yg berpenampilan berbeda dengan yang lain. Jelas ia bukan orang Arab, juga bukan Yahudi. Salman –nama orang itu– dilahirkan dari keluarga berkebangsaan Persia Zoroastrian di desa Jayy dekat Isfahan, namun ia telah menjadi Kristen dan pergi ke Syria pada usia yang sangat muda. Di sana, ia menyerahkan diri kepada seorang pendeta suci yang pada saat sekaratnya, menganjurkan agar ia pergi ke pendeta Mosul, yang juga tua seperti dirinya namun orang terbaik yang ia kenal. Salman berangkat ke sebelah utara Irak. Inilah permulaan rangkaian perjalanannya menuju seorang kristen yang telah lanjut usia itu. Pada akhir hayatnya, orang tua itu juga mengatakan bahwa kini telah tiba datangnya seorang Nabi: "Dia di utus dengan agama Ibrahim dan akan datang di Arab, tempat ia berhijrah dari rumahnya ke tempat di antara dua jalur lava, sebelah negeri kurma. Tanda²nya jelas: ia akan memakan hadiah namun tidak akan memakannya jika berupa sedekah; dan di antara punggungnya ada tanda kenabian". Salman memutuskan untuk bergabung dengan Nabi dan membayar sekelompok pedagang suku Kalb untuk membawanya ke Arab. Namun, ketika mereka sampai di Wadi al-Qura dekat teluk Aqabah di sebelah utara Laut Merah, mereka menjualnya kepada seorang Yahudi sebagai budak. Pemandangan kebun kurma di Wadi al-Qura membuatnya bertanya², inikah kota yang dicarinya, tetapi ia masih ragu. Namun keraguan itu tidaklah lama sampai orang Yahudi itu menjualnya kepada sepupunya dari Bani Qurayzhah di Madinah. Salman segera melihat hamparan lahan itu. Ia yakin, inilah tempat Nabi akan Hijrah.

Majikan baru Salman memiliki sepupu yang tinggal di Quba. Pada saat kedatangan Nabi, orang Yahudi Quba itu pergi ke Madinah mengabarkannya. Ia melihat sepupunya sedang duduk di bawah salah satu pohon kurma. Salman, yang sedang bekerja di atas pohon mendengarnya berkata, "Tuhan mengutuk keturunan Qaylah! Mereka bahkan kini berkumpul bersama di Quba, menunggu kedatangan seorang lelaki yang datang hari ini dari Mekah. Menurut mereka, ia seorang Nabi". Ucapan terakhirnya itu membuat Salman yakin bahwa harapannya telah terwujud, dan dampaknya begitu dahsyat sehingga seluruh badannya gemetar. Karena takut terjatuh dari pohon, maka ia turun. Setelah berada di bawah, ia tak sabar ingin bertanya kepada orang Yahudi Quba itu, namun majikannya marah dan menyuruhnya untuk kembali bekerja di pohon. Namun, sore itu ia kabur dengan membawa beberapa makanan yang ia simpan dan ia pergi ke Quba. Di tempat itu ia melihat Nabi sedang duduk bersama beberapa sahabatnya. Salman telah yakin, namun ia tetap mendekati Nabi dan menawarinya makanan. Ia mengatakan bahwa dirinya memberikan itu sebagai sedekah. Nabi menyuruh sahabat²nya untuk memakannya, namun beliau sendiri tidak memakannya. Salman berharap, suatu saat dapat melihat tanda kenabian, tetapi kehadiran beliau dan mendengarkan pembicaraannya sudah cukup untuk pertemuan perdana. Ia pun kembali ke Madinah dengan gembira dan bersyukur.

*#049#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah2an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment