🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
5⃣5⃣ *SETELAH PERANG UHUD*
_______________________
KETIKA mereka sampai di Madinah, matahari mulai terbenam. Setelah sampai di masjid, mereka segera siap mendirikan salat magrib. Nabi berbaring untuk beristirahat dan beliau terlelap tidur nyenyak hingga tak mendengar azan salat isya yg dilantunkan Bilal. Saat terbangun dari tidurnya, beliau langsung salat sendirian di rumah. Dua Sa'd dari Anshar dan para pemimpin suku 'Aws dan Khazraj melewatkan malam di depan pintu masjid, berjaga² secara bergiliran, karena bisa jadi kaum Quraisy akan menyerang balik. Pada pagi² benar, setelah salat subuh, Nabi menyuruh Bilal mengumumkan kepada mereka dan semua orang bahwa musuh harus dikejar. "Tapi, tak ada seorang pun yang bisa turut keluar bersama kita", kata Bilal, "selain mereka yang telah bertempur kemarin".
Ketika para pemimpin kembali ke sukunya masing², mereka melihat sebagian besar kaum pria sedang merawat luka² mereka; atau dirawat oleh istri mereka masing². Sedikit sekali pejuang perang Uhud yang tidak terluka, bahkan banyak dari mereka yang terluka parah. Namun, mendengar panggilan Nabi, mereka segera membalut luka mereka sebisanya. Masing² bergegas menyiapkan diri untuk berangkat lagi, kecuali Malik dan Syammas. Saat itu Malik sangat lemah dan dalam perawatan intensif keluarganya. Sedangkan Syammas yang tak memiliki saudara di Madinah, yang ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di medan perang, dibawa ke tempat tinggal 'A'isyah. Namun, Umm Salamah mengangkatnya sebagai saudara dan mengambil alih perawatan Syammas. Saat kematian tampaknya mulai mendekat, Nabi memerintahkan agar mayatnya tidak dikuburkan di Madinah, tetapi dibawa kembali ke Bukit Uhud dan dikuburkan di sana bersama para syuhada yang lain.
Nabi orang pertama yang telah siap, meskipun Sebenarnya lengan kanannya masih terluka setelah menangkis pukulan yang tadinya diarahkan ke kepalanya. Ketika Thalhah datang untuk memastikan waktu keberangkatan, ia sangat terkagum² melihat Nabi di atas pelana kudanya di depan pintu masjid, dengan topi baja yang menutupi seluruh wajah kecuali matanya. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menuju kudanya dan segera menyiapkan diri.
Di antara orang² Bani Salimah yang siap berangkat terdapat empat puluh tentara yang terluka, beberapa di antaranya mengalami lebih dari sepuluh luka tikam atau tusukan anak panah. Saat mereka berbaris di tempat yang telah ditentukan, Nabi menyaksikan betapa menyedihkan keadaan mereka dan betapa kuatnya jiwa mereka melebihi kekuatan tubuhnya. Beliau merasa sangat bahagia dan berdo'a: "Ya Allah, berkahilah Bani Salimah!" Dari seluruh suku, saat itu hanya seorang pemuda yang turut serta yang bukan veteran perang Uhud, yaitu Jabir. Saat mendengar pengumuman pagi itu, ia segera menemui Nabi dan berkata, "Ya Rasulullah, aku ingin sekali turut dalam perang waktu itu, tetapi ayah menyuruhku untuk menjaga ketujuh adik perempuanku yang masih kecil. Hingga Allah memberikan kesyahidan kepadanya ketimbang kepadaku, padahal aku sangat mendambakannya. Jadi, sekarang izinkan aku turut berangkat, hai Rasulullah". Nabi mengizinkannya dan ia bergabung bersama yang lain.
Pemberhentian pertama Nabi dan pasukannya kira² delapan mil dari Madinah. Sementara musuh telah berkemah selama beberapa waktu di Rawha', tak jauh di depan mereka. Mendengar informasi itu, Nabi memerintahkan pasukannya untuk menyebar di daerah tersebut untuk mengumpulkan kayu² kering sebanyak²nya. Masing² orang menumpuknya dalam tumpukan tersendiri. Ketika matahari terbenam, mereka telah menyiapkan lebih dari lima ratus perapian. Ketika malam tiba, masing² menyalakan perapiannya. Maka tampaklah nyala api yang sangat banyak dan terpencar di areal yang begitu luas, seolah² suatu pasukan sangat besar sedang berkemah di sana. Kesan ini disampaikan kepada Abu Sufyan oleh seorang lelaki Khuza'ah yang masih musyrik, tapi bersahabat dengan kaum muslim. Ia sengaja berdusta kepada Abu Sufyan bahwa seluruh penduduk Madinah telah keluar untuk mengejar mereka, termasuk orang² yang tak ikut berperang ke peperangan di Bukit Uhud, dan seluruh sekutu²nya. "Demi Allah", katanya, "engkau jangan terus maju sebelum engkau melihat sendiri kehebatan persiapan pasukan berkuda mereka". Sebagian kaum Quraisy bermaksud untuk kembali dan sebagian ingin menyerang Madinah, tetapi kini mereka bersuara bulat untuk cepat² pulang ke Mekah. Walaupun demikian, Abu Sufyan sempat mengirim pesan kepada Nabi melalui beberapa penunggang kuda yang sedang menuju Madinah. "Sampaikan kepada Muhammad", katanya, "aku akan tetap datang melawannya dan seluruh pengikutnya. Akan kumusnahkan mereka dari muka bumi ini. Katakan ini kepadanya, dan bila engkau sampai di Ukaz dalam perjalanan pulangmu, aku akan memuati untamu dengan kismis". Ketika mereka telah menyampaikan pesan kepada Nabi, beliau segera mengucapkan suatu firman Allah, _"Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik² pelindung"_ (Q.S. 3: 173).
Nabi dan para sahabatnya berada di perkemahan sepanjang hari Senin, selasa dan Rabu, menyalakan perapian setiap malam. Itulah hari² yang melelahkan dan membutuhkan banyak istirahat. Ada buah²an bagus hasil panen musim sebelumnya, dan Sa'd telah memuati tiga puluh unta dengan kurma dan unta² lainnya untuk dikorbankan. Pada hari kamis, mereka kembali ke Madinah.
Syammas wafat tak lama setelah mereka berangkat dan dikuburkan di Bukit Uhud. Malik juga meninggal disaat mereka tak ada, namun dikuburkan keluarganya di kota Madinah. Maka, Nabi memerintahkan agar mayatnya digali kembali dan dipindahkan ke Bukit Uhud.
Sekembalinya dari perang Uhud, Abd Allah anak Ibn Ubayy turut dalam misi pengusiran musuh dengan menyalakan api di malam² itu, sementara ayahnya terus membicarakan tentang ketololan mereka yang pergi berperang itu. "Demi Tuhan, aku telah menyaksikan semuanya", katanya. "Apa yang telah ditakdirkan Allah bagi Rasul dan kaum muslim adalah yg terbaik", kata anaknya. Tetapi, Ibn Ubayy tidak memberi kesempatan kepada anaknya untuk membantah. "Jika orang² yg terbunuh itu mengikutiku, maka mereka pasti tak akan mati", katanya tegas. Dia tak henti²nya bicara, baik selama anaknya tidak ada di Madinah maupun di saat kaum Yahudi meminta penjelasannya. Ia selalu mengatakan, "Muhammad tak lain hanyalah seorang laki² yang haus kekuasaan. Tidak ada Nabi yang begitu banyak dirundung kemalangan. Ia telah menghantam dirinya sendiri, seperti juga kepada para sahabatnya".
Percakapan antara kaum Yahudi dan kaum munafik itu banyak yang diceritakan kepada 'Umar saat ia telah kembali dari ekspedisi. Maka ia bergegas menemui Nabi dan meminta izin untuk membunuh siapapun yang bertanggung jawab atas penyebaran berita itu, tetapi Nabi melarangnya. "Allah akan membela agama-Nya dan akan memenangkan Rasul-Nya". Kemudian beliau berkata, "Wahai Ibn Khattab, sesungguhnya kaum Quraisy tidak akan bisa lagi mendapatkan sesuatu dari kita seperti hari ini, dan kita akan disambut di 'sudut' itu". Nabi bermaksud bahwa mereka akan memasuki Mekah dan mencium Hajar Aswad.
Meskipun tangan Umar dapat ditahan, Ibn Ubayy tidak sama sekali terhindar dari cercaan. Pada setiap salat jum'at Ibn Ubayy menempati suatu tempat terhormat di dalam masjid dan tak seorangpun yang berpikir untuk menyangkalnya, karena kedudukannya di Madinah. Ketika Nabi naik ke atas mimbar, biasanya ia akan berdiri dan berkata, "Wahai manusia, inilah Rasulullah. Semoga Allah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya kepadamu lewat dia, dan memberimu kekuatan! Dukung dan bantulah ia! Muliakanlah, dengarkan, dan patuhi perintahnya!" Setelah itu, ia akan duduk lagi. Kata² itulah yang hendak ia ucapkan pada hari jumat pertama atau sehari setelah kepulangan dari perang Uhud, tapi seorang Anshar yang duduk di dekatnya langsung menarik kedua tangannya, dan berkata, "Duduk kau, musuh Allah! Engkau tak layak disebut orang mukmin, setelah apa yang kau lakukan kemarin!" Karena itu, ia pergi meninggalkan jamaah yang lain. Seorang Anshar yang dilewatinya di pintu masjid berkata kepadanya, "Kembalilah dan mintalah maaf kepada Rasulullah". Tetapi dia berkata, "Demi Tuhan, aku tidak akan meminta maaf, sebaiknya ia minta maaf kepadaku".
Pada hari² setelah perang Uhud, Nabi banyak menerima wahyu mengenai peperangan itu. Ayat² itu lebih banyak membicarakan dua suku dari berbagai suku yang dengan serius bermaksud meninggalkan para tentara sesaat sebelum pertempuran dimulai, dan Tuhan telah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada mereka. Salah satu dari kedua suku itu adalah Bani Salimah dari Khazraj, yg keteguhannya sangat menggembirakan Nabi saat mereka berangkat mengejar musuh. Ketika mereka dan Bani Haritsah dari 'Aws mendengar firman Allah tersebut, mereka mengakui bahwa merekalah yang dimaksud dalam ayat tersebut. Meski demikian, mereka tidak menyesali kelemahan mereka, karena dengan kelemahan itulah mereka mendapat kekuatan langsung dari Allah, yang jauh melebihi kekuatan mereka sendiri. Ayat yang lain berkaitan dengan mereka yang selamat dari serangan mendadak pasukan berkuda dan panik melarikan diri ke atas bukit, dan khususnya mereka yang sebelumnya mendesak Nabi untuk keluar menyongsong musuh, hingga mereka kemudian memperoleh kesyahidan.
_Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang² yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang² yang sabar? Sesungguhnya kamu mengharapkan mati syahid sebelum kamu menghadapinya; sekarang engkau telah menyaksikannya_ (Q.S. 3: 142-143).
Di samping itu, ada juga ayat yang menjelaskan bahwa mereka yang melanggar perintah Nabi selama di medan pertempuran telah menebus kesalahan mereka dan mereka telah diampuni. Sebagian dari penebus kesalahannya itu adalah rasa sesal dan duka yang sangat mendalam atas berita gugurnya Nabi (Q.S. 3: 152-155). Juga ditegaskan, dengan merujuk pada hancurnya berbagai peradaban sebelumnya, tatanan lama yang mapan di jazirah Arab akan runtuh, dan Islam akan meraih kejayaan:
_Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu sunah-sunah Allah. Karena itu berjalanlah di muka bumi dan perhatikan akibat yang diterima orang² yang mendustakan (Rasul²-Nya). Al Quran adalah penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang² yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, karena engkau adalah orang² yang paling tinggi derajatnya, jika engkau benar² orang yang beriman_ (Q.S. 3: 137-139)
_Muhammad itu sesungguhnya adalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Lalu apakah jika ia telah wafat atau dibunuh, maka engkau akan berbalik ke belakang dan murtad? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tak akan mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; sementara Allah akan memberikan pahala kepada orang² yang bersyukur_ (Q.S. 3: 144)
*#079#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment