🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
5⃣6⃣ *PARA KORBAN PEMBALASAN DENDAM*
_______________________
SELAMA dua bulan lebih, suasana Madinah masih tenang dan damai. Kemudian terdengar kabar bahwa Bani Asad ibn Khuzaymah sedang merencanakan penyerangan ke oasis itu. Meskipun kerabat Jahs telah memeluk Islam dan orang² Asad yg lain telah lama tinggal di Mekah, namun para pemuka yang tersebar luas dan kuat di suku Najd masih jelas² menjadi sekutu Quraisy; dan kini justru mendesak mereka agar segera memanfaatkan situasi yang kacau akibat perang Uhud. Karena itu, sangat penting untuk menunjukkan kepada mereka dan kepada seluruh bangsa Arab bahwa kaum muslim setelah perang Uhud bukannya menjadi lemah, tapi malah bertambah kuat. Maka Nabi mengirim 150 pasukan bersenjata dan berkuda memasuki daerah mereka di sebelah utara gurun pasir tengah di bawah komando sepupu Nabi, Abu Salamah. Mereka diperintahkan untuk merebut perkemahan musuh secara mendadak. Mereka pun berhasil tanpa perlawanan berarti, meski terjadi sedikit pertumpahan darah dari kedua belah pihak. Kaum Badui segera melarikan diri dan berpencar ke seluruh penjuru, sementara kaum muslim kembali ke Madinah sembilan hari kemudian, membawa sejumlah unta dan tiga tawanan. Tujuan utama ekspedisi itu adalah untuk meyakinkan para musuh bahwa kekuatan Islam tidak berkurang.
Pada waktu yang hampir bersamaan, terdengar pula kabar bahwa akan ada serangan dari selatan. Namun, kali ini Nabi meramalkan bahwa permusuhan melawan Islam itu terpusat pada seorang pria yang dikenal sangat ganas dan kejam, yaitu kepala suku Lihyan, cabang Hudzayl. Jika pria itu berhasil dikalahkan, maka kekuatan yang lain sudah bisa dianggap enteng. Nabi mengirimkan Abd Allah Ibn Unays, seorang Khazraj, untuk membunuhnya. "Hai Rasulullah", kata Abd Allah ibn Unays, "apa ciri² penjahat besar itu?" "Jika kamu melihatnya", jawab Rasul, "maka kamu akan menyangkanya setan! Ciri utama penjahat itu, jika kalian berjumpa dengannya, kalian akan gemetar saking takutnya!" Kata² Nabi itu benar. Setelah membunuhnya, Abd Allah segera kabur.
Sementara rencana penyerangan ke Madinah kini telah dipatahkan. Tapi, mereka pasti akan membalas dendam atas kematian kepala suku mereka. Beberapa bulan berikutnya, beberapa orang Hudzayl menyerang enam muslim yang sedang berdakwah di dua suku kecil yang berdekatan. Perjumpaan itu terjadi di Raji', di dekat sebuah sumber air, tidak jauh dari Mekah. Tiga sahabat Nabi berkelahi hingga meninggal, dan tiga lainnya ditangkap, seseorang diantaranya terbunuh saat hendak melarikan diri. Di antara sahabat Nabi yang meninggal itu adalah 'Ashim dari 'Aws yang telah membunuh dua orang Quraisy di perang Uhud. Ibu kedua orang yang terbunuh itu telah bersumpah untuk meminum air dari tengkoraknya. Maka, orang Hudzayl itu bermaksud menjual kepala 'Ashim kepada si ibu. Namun, tubuh 'Ashim terlindungi oleh sekawanan tawon sampai malam tiba, dan sepanjang malam, tubuhnya terendam oleh air bah sehingga nazar buruk ibu itu tak pernah kesampaian. Sedangkan dua tawanan yang lain, Khubayb dari 'Aws dan Zayd dari Khazraj, dijual kepada orang² Quraisy yang masih memendam dendam kesumat atas kematian kerabatnya di Perang Badr. Khubayb dibeli seorang lelaki Bani Nawfal, kemudian dibawa ke sukunya agar dapat mereka bunuh beramai² sebagai ajang balas dendam atas kematian ayah mereka. Shafwan membeli Zayd dengan tujuan yang sama, dan kedua tawanan itu ditahan di Mekah hingga bulan suci berlalu.
Ketika tanda² bulan Shafar telah datang, dua tawanan itu digiring keluar dari Mekah menuju Tan'im. Di sanalah keduanya bertemu lagi untuk pertama kali sejak mereka ditawan. Mereka saling berpelukan dan saling menasehati untuk bersabar. Kemudian, Bani Nawfal dan kawan²nya menggiring Khubayb, dan saat ia melihat mereka akan mengikat dan memenggal kepalanya, ia meminta izin untuk mendirikan salat dua rakaat. Diriwayatkan bahwa sejak itulah disunnahkan salat dua rakaat bagi tahanan sebelum dibunuh. Khubayb segera diikat untuk dipenggal kepalanya. Sebelumnya, mereka berkata kepadanya, "Keluarlah dari Islam, maka kami akan melepaskanmu!" "Meski seluruh isi dunia diberikan kepadaku", jawabnya, "aku tak akan pernah murtad!" "Tidakkah kau ingin Muhammad menggantikanmu di sini, dan kamu kembali ke rumah untuk beristirahat?" tanya mereka. "Aku tak akan membiarkan Muhammad tertusuk sepucuk duri pun agar aku bisa tinggal di rumah", jawabnya. "Menyerahlah, Khubayb", mereka membujuknya, "agar kami tidak jadi membunuhmu". "Kematian hanyalah hal sepele jika kematian itu demi Tuhanku", jawabnya. "Dan jika kalian memalingkan aku dari arah kiblat" –karena mereka mengarahkan tubuhnya membelakangi Mekah– "maka sungguh Allah telah berfirman, _'Ke manapun kamu menghadap, di situlah wajah Tuhanmu'"_ Kemudian ia berkata lagi, "Ya Allah, tak seorangpun di sini yang dapat menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu, maka sampaikanlah salamku kepadanya". Saat itu, Nabi sedang berada di Madinah bersama Zayd dan sahabat²nya yang lain. Tiba² beliau bersikap seperti saat beliau sedang mendapatkan wahyu. Para sahabat mendengar beliau menjawab, _"Wa'alaikum al-salaam wa rahmatullaahi wa barakaatuh!"_ Beliau menjelaskan, "Jibril baru saja menyampaikan salam dari sahabatku Khubayb".
Ada empat puluh anak lelaki yang ayahnya terbunuh di Perang Badr. Masing² memegang tombak, dan pemimpin mereka berkata, "Orang inilah yang telah membunuh ayah² kalian di Perang Badr". Mereka langsung menghujani Khubayb dengan tombak, tapi tak berhasil mengakhiri hidupnya. Maka, seseorang memegang tangan seorang anak lelaki, dan membantunya menusukkan tombak ke tubuh Khubayb, melukainya dengan luka yang mematikan. Yang lain pun turut melakukan hal yang sama. Khubayb masih bertahan hidup hingga satu jam, dan akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir dengan mengucapkan, "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah!"
Setelah itu, Zayd juga digiring untuk dibunuh dengan cara yang sama. Ia juga salat dua rakaat sebelum diikat. Ketika ditanya oleh kaum Quraisy, ia menjawab seperti yang dikemukakan Khubayb. Akhnas ibn Syariq, sekutu Zuhrah yang turut pergi ke Tan'im, dengan sangat terkesan berkomentar, "Rasanya tidak pernah ada seorang ayah mencintai anaknya seperti para sahabat Muhammad mencintai Muhammad".
Ketika 'Ubaydah meninggal setelah duel dengan Utbah di awal Perang Badr, ia meninggalkan seorang janda yamg usianya jauh lebih muda darinya, Zaynab, anak Khuzaymah dari Badui, suku Amir. Dia sangat murah hati, dan jauh sebelum Islam datang, ia telah dikenal sebagai "ibu kaum papa". Setahun setelah suaminya meninggal, Zaynab belum menikah. Ketika Nabi melamarnya, Zaynab menerima dengan senang hati. Rumah yang keempat pun dibangun di dekat masjid. Dan tak diragukan lagi, hal tersebut menciptakan hubungan baru dengan kunjungan Abu Bara', kepala suku asal Zaynab. Ketika Islam diperkenalkan kepadanya, ia tidak menolaknya. Saat itu, ia memang tidak langsung memeluk Islam, namun ia meminta agar berapa orang muslim diutus untuk mendakwahkan Islam kepada seluruh warga sukunya. Nabi mengatakan, beliau takut para utusannya diserang oleh suku² lain di sekitarnya. Bani Amir adalah cabang suku Hawazin yang terletak di sebelah selatan Sulaym, dan suku² lain dari Gathafan. Namun, Abu Bara' sebagai kepala suku Amir, berjanji tidak akan ada yang berbuat jahat kepada mereka yang dilindunginya. Maka Nabi mengutus empat puluh orang sahabatnya yabg benar² mewakili Islam, baik dari segi kesalehan maupun pengetahuannya. Beliau menunjuk Mundzir ibn Amr sebagai pemimpinnya. Di antara mereka adalah 'Amir ibn Fuhayrah bekas budak Abu Bakr yang dipilih untuk menemani dia dan Nabi ketika hijrah.
Di Madinah, tidak diketahui, ternyata kepemimpinan Abu Bara' sedang mengalami cobaan di dalam sukunya sendiri. Keponakannya, yang sangat berambisi menggantikan kedudukannya sebagai kepala suku, membunuh salah seorang sahabat yang di utus Nabi untuk mengantarkan surat kepada Abu Bara'. Abu Bara' menyuruh warga sukunya agar menghentikan pembunuhan terhadap sahabat yang lain. Ketika warga sukunya lebih mematuhi Abu Bara', sang keponakan yang frustasi itu menghasut dua kabilah dari suku Sulaym yang baru² ini terlibat permusuhan dengan Madinah. Mereka segera mengirimkan satu pasukan berkuda dan membantai habis semua utusan muslim yang tak sedikitpun curiga di perkemahan mereka dekat sumur Ma'unah, kecuali dua orang yang sedang memberi makan unta mereka di padang rumput. Yang pertama adalah Harits ibn Simmah –yang diceritakan pada bab sebelumnya, seorang pejuang hebat di Perang Uhud. Sedangkan yang kedua adalah 'Amr dari Dhamrah, salah satu kabilah di Kinanah. Saat kembali dari padang rumput, mereka sangat terkejut melihat banyak sekali burung bangkai terbang rendah di atas perkemahan mereka –seakan di atas suatu medan perang di mana pertempuran baru saja berakhir. Mereka melihat kawan²nya terkapar, tewas di atas genangan darah, sementara para penunggang kuda dari Sulaym berdiri di dekat mereka, asyik bercanda sesama mereka, tidak menyadari kehadiran dua orang asing itu. Melihat pemandangan tersebut, 'Amir bergegas hendak melarikan diri, namun Harits berkata, "Aku tak akan pernah mundur dari medan Tempur di mana Munzir telah gugur di atasnya". Maka, Harits segera maju menghadapi para penunggang kuda itu, menyerang dengan tangkas dan menewaskan dua orang sebelum akhirnya ia dikalahkan dan ditawan.
Anehnya, para penunggang kuda itu tampaknya enggan membunuh atau membalas dendam, meskipun Harits telah menewaskan dua kawan mereka. Lalu mereka menanyakan apa yang diinginkan Harits dan Amr dari mereka. Harits menjawab, ia ingin tahu di mana mayat Mundzir berada dan meminta dilepaskan untuk bertarung dengan mereka. Mereka mengabulkan permintaannya, dan ia berhasil membunuh dua orang musuhnya sebelum ia sendiri akhirnya terbunuh. 'Amr dibebaskan, dan mereka menyuruhnya memperkenalkan nama² kawan²nya yang telah gugur satu persatu. 'Amr mengamati teman²nya satu persatu dan menyebutkan nama²nya. Kemudian mereka menanyakan, adakah teman Amr yang tak ditemukan di situ. "Aku tak menemukan jasad budak Abu Bakr, 'Amir ibn Fuhayrah", jawabnya. "Apa kedudukannya di antara kalian?" tanya mereka. "Dia adalah orang yang terbaik di antara kami", jawab Amr, "salah seorang sahabat utama Nabi". "Maukah engkau mendengar cerita kami tentangnya?" tanya mereka. Maka, dipanggillah seorang pria bernama Jabbar, yang mengaku telah membunuh Amir. Jabbar bercerita bahwa ia telah menusuk Amir dengan tombak dari belakang hingga tembus ke dadanya. Dan pada tarikan nafasnya yang terakhir, ia mengucapkan, "Aku telah mendapatkan kemenangan dari Allah!" "Bagaimana mungkin ia mengatakan itu?" pikir Jabbar yang merasa dirinya lebih berhak merasa menang. Dengan takjub, ia mencabut tombaknya, dan lebih takjub lagi, ketika ia menyaksikan tubuh Amir diangkat ke atas oleh tangan² gaib, terus naik ke atas langit, hingga tak terlihat lagi. Ketika dijelaskan oleh Amr bahwa yang dimaksudkan "kemenangan dari Allah" adalah surga, Jabbar langsung masuk Islam. Setelah Nabi mendengar peristiwa tersebut, beliau menyatakan bahwa para malaikat telah mengangkat Amir ke atas _'Illiyyun_, yaitu surga tertinggi.
Orang² Sulaym kembali ke suku mereka, di mana cerita tentang mukjizat itu terus diulang, dan hal itu menjadi awal konversi pada diri mereka. Kepada Amr, satu²nya anggota utusan dakwah yang selamat, mereka menuturkan bahwa pembantaian itu karena dihasut Bani Amir, sehingga saat perjalanan pulang ke Madinah, ia membunuh dua laki² dari suku tersebut sebagai balas dendam atas kematian sahabat²nya. Namun, sebenarnya dua lelaki yang terbunuh itu sama sekali tidak bersalah, karena setia kepada Abu Bara', dan mengakui perlindungannya terhadap kaum mukmin. Maka, Nabi menuntut agar dibayarkan diat kepada kerabat mereka.
*#080#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment